TASIKMALAYA, MNP – Tasikmalaya kembali berduka. Seorang pemuda asal Kabupaten Tasikmalaya dilaporkan meninggal dunia usai diduga menjadi korban pengeroyokan setelah kegiatan nonton bersama pertandingan sepak bola.
Peristiwa ini bukan hanya menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi tamparan keras bagi seluruh masyarakat Tasikmalaya bahwa ruang publik kita sedang berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Serikat Mahasiswa Rakyat Priangan Timur menyampaikan duka cita mendalam serta mengecam keras segala bentuk tindakan kekerasan yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Umum Serikat Mahasiswa Rakyat Priangan Timur, Muhamad Aldi Maulana menilai bahwa tragedi ini tidak bisa dipandang sekadar sebagai konflik antar kelompok atau sekadar peristiwa kriminal biasa.
“Ini adalah tragedi kemanusiaan yang memperlihatkan masih tumbuhnya budaya brutalitas di tengah masyarakat,” tegas Muhamad Aldi Maulana, Jumat (08/05/2026).
Menurutnya, sepak bola seharusnya menjadi ruang hiburan rakyat, ruang persaudaraan, solidaritas, dan kebersamaan. Namun yang terjadi hari ini justru sebaliknya.
Namun, fanatisme sempit dan kekerasan telah merusak nilai-nilai kemanusiaan serta menciptakan ketakutan di ruang sosial masyarakat.
“Kami memandang bahwa hilangnya satu nyawa pemuda akibat kekerasan merupakan kegagalan kolektif dalam menjaga ruang hidup masyarakat yang aman dan beradab,” ujar Muhamad Aldi Maulana.
Ketika anak muda yang berangkat untuk mencari hiburan justru pulang dalam keadaan tidak bernyawa, maka sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya keamanan, tetapi juga masa depan generasi muda Tasikmalaya.
Fenomena kekerasan yang terus berulang tidak boleh dianggap normal. Pembiaran terhadap tindakan brutal hanya akan melahirkan tragedi-tragedi berikutnya.
Jika kekerasan dibiarkan tumbuh tanpa penegakan hukum yang tegas, maka masyarakat akan hidup dalam rasa takut dan kehilangan kepercayaan terhadap keadilan.
Muhamad Aldi Maulana, menyebut, bahwa tragedi tersebut menjadi bukti bahwa budaya kekerasan di tengah masyarakat tidak boleh lagi dianggap biasa.
“Kami sangat berduka atas meninggalnya seorang pemuda Tasikmalaya akibat tindakan kekerasan. Ini bukan hanya soal supporter atau pertandingan sepak bola, tetapi soal hilangnya nyawa manusia. Tidak ada fanatisme kelompok yang lebih berharga daripada nyawa rakyat,” ujar Muhamad Aldi Maulana.
Ia juga menegaskan bahwa aparat penegak hukum harus bertindak cepat dan transparan agar masyarakat tidak kehilangan kepercayaan terhadap proses keadilan.
“Jangan sampai ada pembiaran terhadap pelaku kekerasan. Ketika hukum lambat hadir, maka ketakutan akan tumbuh di tengah masyarakat. Kami mendesak kasus ini diusut tuntas tanpa pandang bulu,” tegasnya lagi.
Muhamad Aldi Maulana berharap, Tasikmalaya tidak boleh menjadi daerah yang membiarkan generasi mudanya tumbang akibat brutalitas dan kekerasan jalanan.
“Hari ini yang menjadi korban adalah satu pemuda. Besok bisa siapa saja. Bisa teman kita, saudara kita, bahkan keluarga kita sendiri. Karena itu kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu melawan budaya kekerasan,” tambahnya.
Muhamad Aldi Maulana juga mengajak seluruh pemuda dan mahasiswa untuk menjaga solidaritas sosial serta tidak mudah terprovokasi oleh konflik yang dapat memecah persatuan masyarakat.
“Sepak bola adalah hiburan rakyat, bukan arena pertumpahan darah. Sudah saatnya kita melawan budaya brutalitas dan mengedepankan kemanusiaan di atas segala kepentingan kelompok,” pungkasnya.
Oleh karena itu, Serikat Mahasiswa Rakyat Priangan Timur mendesak aparat penegak hukum untuk segera:
– Mengusut tuntas kasus ini secara transparan, profesional, dan tanpa tebang pilih.
– Menangkap seluruh pelaku yang terlibat sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
– Memberikan perlindungan kepada saksi serta korban lainnya.
– Menjamin proses hukum berjalan terbuka agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.
– Menindak segala bentuk provokasi lanjutan yang berpotensi memperkeruh situasi sosial.
Selain itu, Muhamad Aldi Maulana juga menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat, supporter sepak bola, organisasi kepemudaan, mahasiswa, dan masyarakat sipil untuk bersama-sama menolak budaya kekerasan serta menjaga kondusivitas daerah Tasikmalaya.
“Tidak ada kelompok, tidak ada rivalitas, dan tidak ada fanatisme yang lebih berharga daripada nyawa manusia,” ungkap Muhamad Aldi Maulana.
Serikat Mahasiswa Rakyat Priangan Timur mengingatkan bahwa kekerasan tidak pernah melahirkan kemenangan. Kekerasan hanya melahirkan luka, dendam, dan kehilangan. Tasikmalaya tidak boleh menjadi kota yang membiarkan generasi mudanya tumbang di jalanan akibat brutalitas massa.
Sebagai organisasi mahasiswa yang lahir dari semangat perjuangan rakyat, Serikat Mahasiswa Rakyat Priangan Timur menilai bahwa menjaga kemanusiaan adalah tanggung jawab bersama.
Pasalnya, ketika rakyat mulai takut terhadap ruang publiknya sendiri, maka itu tanda bahwa ada masalah serius dalam kehidupan sosial yang harus segera diselesaikan.
“Kami percaya bahwa keadilan harus ditegakkan, bukan hanya demi korban dan keluarganya, tetapi juga demi masa depan masyarakat Tasikmalaya yang aman, damai, dan beradab,” pungkas Muhamad Aldi Maulana.
Serikat Mahasiswa Rakyat Priangan Timur akan terus mengawal perkembangan kasus ini dan berdiri bersama masyarakat dalam melawan segala bentuk kekerasan yang merenggut hak hidup manusia.
Karena bagi kami, Nyawa rakyat bukan tumbal fanatisme. Kemanusiaan harus berdiri di atas segala kepentingan kelompok,” tutup Muhamad Aldi Maulana.
![]()
Penulis : Alex
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan