Harum Doa di Balik Pusara: Makna Mendalam Ziarah Kubur Saat Lebaran

Sabtu, 21 Maret 2026 - 09:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ket : para peziarah dari Dusun/Desa Bojongmalang Kecamatan Cimaragas Kab Ciamis Jawa Barat | Dokpri

Ket : para peziarah dari Dusun/Desa Bojongmalang Kecamatan Cimaragas Kab Ciamis Jawa Barat | Dokpri

CIAMIS, MNP – Di balik gempita takbir dan kehangatan tradisi sungkeman, momen Idul Fitri di Indonesia selalu menyisakan satu pemandangan khidmat di sudut-sudut pemakaman.

Para peziarah datang silih berganti, bersimpuh di samping pusara, menghadirkan suasana hening di tengah keriuhan hari kemenangan, Sabtu (21/03).

Tradisi ziarah kubur atau yang sering disebut nyekar atau melayat saat lebaran, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat kita.

Bagi banyak keluarga, merayakan Idul Fitri tidaklah lengkap sebelum “mengunjungi” orang tua atau sanak saudara yang telah mendahului ke alam barzakh.

Secara spiritual, ziarah kubur di hari raya memiliki makna mendalam. Jika Idul Fitri adalah momen kembali ke fitrah (suci), maka berziarah adalah pengingat akan hakikat kehidupan yang fana.

Di depan nisan, setiap hamba diajak merenung bahwa kesuksesan menjalankan ibadah Ramadan akhirnya akan berujung pada satu titik yang sama yaitu kematian.

Hal ini sejalan dengan pesan agama yang menganjurkan ziarah sebagai sarana untuk melembutkan hati dan mengingat akhirat (dzikrul maut).

Namun, di hari raya, nuansanya sedikit berbeda. Ada rasa rindu yang terselip di antara lantunan surat Yasin dan untaian doa-doa pengampunan.

Menariknya, di Indonesia, pemakaman di hari Idul Fitri seringkali menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar yang jarang bertemu. Mereka yang merantau ke luar kota menjadikan ziarah sebagai titik temu.

Meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai waktu pelaksanaan ziarah, esensi utamanya tetap sama: mendoakan keselamatan bagi mereka yang telah tiada.

Idul Fitri menjadi pengingat bahwa kebahagiaan hari raya seharusnya juga dirasakan oleh mereka yang di alam kubur melalui kiriman doa-doa tulus dari anak cucu yang saleh.

Kini, saat langkah kaki mulai meninggalkan area pemakaman, para peziarah membawa pulang satu pelajaran berharga.

Bahwa cinta tidak dibatasi oleh kematian, dan doa adalah jembatan terindah untuk menyambung kasih sayang yang tak akan pernah putus.

Loading

Penulis : Red

Berita Terkait

Pesona Budaya Lokal di Milangkala Kuningan ke-528: Ribuan Pasang Mata Terpukau
Pisah Sambut Kapolsek Kuala Cenaku: Iptu Dahnilel Syahryantoni Resmi Gantikan Iptu Awet L. Nenggolan
Lapas Kendal Perkuat Komitmen Tugas, Pejabat Struktural Teken Perjanjian Kinerja 2026
Lanal Tegal Gelar Upacara Peringatan Hari Jadi ke-81 TNI Angkatan Laut Tahun 2026
MTQ Ke-48 Kecamatan Dramaga: Sentralisasi Lomba, Bidik Prestasi di Tingkat Kabupaten
Tinjau Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Kapolres Lamsel Bagikan Masker di Palas
Pelukan Hangat di Balik Jeruji: Kunjungan Khusus Anak di Rutan Kelas I Jakarta Pusat
Tepis Isu Pencemaran Lingkungan, SPPG Beji 2 Pemalang Tegaskan Limbah Dapur Disaring Ketat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 13:43 WIB

Pesona Budaya Lokal di Milangkala Kuningan ke-528: Ribuan Pasang Mata Terpukau

Jumat, 11 September 2026 - 09:37 WIB

Pisah Sambut Kapolsek Kuala Cenaku: Iptu Dahnilel Syahryantoni Resmi Gantikan Iptu Awet L. Nenggolan

Kamis, 10 September 2026 - 15:51 WIB

Lapas Kendal Perkuat Komitmen Tugas, Pejabat Struktural Teken Perjanjian Kinerja 2026

Kamis, 10 September 2026 - 15:43 WIB

Lanal Tegal Gelar Upacara Peringatan Hari Jadi ke-81 TNI Angkatan Laut Tahun 2026

Rabu, 9 September 2026 - 18:07 WIB

MTQ Ke-48 Kecamatan Dramaga: Sentralisasi Lomba, Bidik Prestasi di Tingkat Kabupaten

Berita Terbaru