BOGOR, MNP – Berawal dari memergoki metode proses pembesian untuk Cor pada Beton DPT, yang dipasang melintang memotong lebar badan jalan, yang diklaim bertujuan menguatkan Dinding Penahan Tanah (DPT).
Itu keterangan dari Ka UPT IV Jalan Jembatan Ciampea, Dinas PUPR Kab. Bogor, di wilayah Bojong Rangkas-Ciampea.
Tulisan media ini dinaikkan, untuk bahan diskusi, koreksi dan evaluasi publik Bogor, yang perlu faham kebenarannya terkait pekerjaan tersebut, Selasa, (5/5/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara teknis pelaksanaan pada umumnya, pelaksana di lapangan tentu memang para ahli berkompeten dan lebih fahami segalanya itu.
Namun karena mendengar informasi yang disampaikan oleh Ka. UPT PUPR Wilayah IV tersebut, Yudhi Rahmawan, yang menyebutkan pekerjaan itu tak dibiayai Uang Rakyat. Baik itu dari APBD Kab Bogor, APBD Provinsi, maupun APBN Pusat.
Apalagi anggaran pribadinya selaku ASN di Dinas PUPR Kabupaten Bogor, diakuinya itu lebih tidak mungkin lagi, begitupun dari anggaran pribadi pejabat publik selain dia.
Menurut Yudhi, pekerjaan tersebut bukan proyek dari PemKab Bogor, melainkan pekerjaan warga setempat yang meminta segera buat dibangunkan DPT, mereka itu dipelopori 9 Pengusaha setempat.
Rinciannya Tiga Pengusaha Developer, Dua Pengusaha SPBE, sisanya Pengusaha dengan bidang usaha berbeda-beda.
Hal tersebut mengingat betapa pentingnya pembangunan segera DPT Jalan tersebut, karena ruas jalan tersebut merupakan akses utama transportasi dinamis, guna menjalankan dinamika dari jalan usaha mereka semua dan warga masyarakat lain pada umumnya.
Masih menurut Yudhi, dari 9 Pengusaha tersebut dan warga lainnya, pihaknya tidak mengetahui besaran nilai anggarannya berapa, karena di pihaknya hanya sebatas menerima matrial bangunannya, hingga pada teknis pelaksanaannya di lapangan.
Selain tanggung jawab Teknis Pelaksanaan dan tenaga kerja sekaligus pengawasan, semuanya di bawah tanggungjawab dan kendali Panitia Pelaksana, yang dipegang Kecamatan (Management Kecamatan Ciampea : red).
Untuk bisa mendapatkan info terkaitnya lebih lengkap, lebih mendetail, akurat serta valid, Yudhi pun mengarahkan awak media ini untuk konfirmasikan hal terkait kepada pihak Panitia Pelaksana di Kantor kecamatan Ciampea.
Namun karena waktu (saat itu red), sudah menjelang akhir jam kerja kantor, maka tim media ini memutuskan untuk memundurkan dan reschedule konfirmasi lebih lanjut, terkait masalah di pembangunan DPT tersebut, yang akan dipertanyakan lebih lanjut kepada pihak Panitia di kecamatan.
Sekedar untuk mengingatkan, di metode Pembesian untuk Cor pada Beton DPT, yang dipasang melintang memotong lebar badan jalan, itu pada umumnya menggunakan konsep tulangan Tie Bar atau Dowel (Sambungan Beton), yang terintegrasi kan dengan struktur DPT.
Tujuan utamanya adalah mengikat Flat Beton Jalan (Rigid Pavement) agar tak bergeser, sekaligus dapat menjadi bagian “pengaku” (penguat) struktural, yang menyatukan DPT dengan Flat Lantai Jalan.
Berikut adalah detail untuk pembesian yang umumnya diterapkan.
1. Struktur Pembesian Melintang (Tie Bar/Dowel) Besi Tulangan :
Menggunakan Besi Beton Ulir (Deformed Bar) dengan diameter 16 mm (D-16) atau lebih besar (itu sangat bergantung kepada beban lalu lintas dan desain strukturnya).
Pemasangan Besi ditanam melintang, dari badan jalan ke arah dalam struktur dari DPT. Itu fungsinya sebagai Pengikat Lateral (Tie Bar), untuk mencegah bergesernya Lateral Flat Beton, dan sebagai penguat struktural penahan daya dorong dari tanah terhadap DPT.
Overlap (Ujung besi masuk ke dalam Material Coran DPT minimal 40 cm, sesuai {diameter besinya itu} atau disesuaikan dengan gambar pekerjaannya).
2. Hubungkan itu dengan DPT (Dinding Penahan Tanah), di sambungan Monolit (di Pembesian Flat Beton Jalan, yang posisinya memotong jalan, itu harus terikat langsung (monolit) dengan pembesian di dinding vertikal DPT.
Pemberat/Kunci : Coran Beton di area sambungan ini sering dijadikan “kunci” atau pemberat tambahan, untuk bisa menahan daya guling (Over Turning) pada DPT.
3. Aspek penting lainnya, Korset (Chair) : di saat pembesian, digunakan Korset Besi (biasanya Besi 10 Polos), untuk memisahkan lapisan besi atas dan bawah (hal itu jika Flat Jalan menggunakan 2 lapis Besi), agar jarak besi tetap stabil dan tidak turun saat diinjak oleh pekerja di atasnya.
Tahu Beton (Beton Decking) : Pastikan bahwa menggunakan Tahu Beton dengan ketebalan standar (sekitar 2,5 – 5 cm), untuk memastikan Besi memiliki Selimut Beton yang cukup.
Dengan catatan : Sangat disarankan untuk merujuk pada Gambar Teknis/Kerja (Shop Drawing), yang telah dibuat oleh para Konsultan Struktur, karena dimensial dan pembesiannya sangat bergantung kepada beban jalan dan ketinggian tanah yang ditahan oleh DPT nya.
Menjawab pertanyaan dari media ini, Camat Ciampea, Drs. Pardi, menyatakan via komunikasi di Akun WhatsApp pribadinya, hari Jum’at Sore. Menurutnya, tentang informasi Ka. UPT tersebut memang benar adanya.
“Wa’alaikumsalaam, betul, pekerjaan tersebut emang dilakukan secara swadaya masyarakat dan sumbangan pihak pengusaha yang ada di wilayah kecamatan Ciampea, termasuk partisipasi dari kecamatan, desa-desa dan beberapa UPT Kedinasan. Untuk pelaksanaannya, itu ada kepanitiaannya, yang dikoordinir pengusaha,” jelas Camat.
“Tapi secara teknis semua diarahkan oleh UPT terkait yang berkompeten (UPT JJ PUPR Wilayah IV Ciampea), adapun UPT lain seperti Dishub, itu ditugasi membantu mengatur serta mengarahkan lalu lintas, dibantu pihak pemerintah desa, beserta masyarakat lainnya dari sekitar lokasi pembangunan,” pungkasnya.
![]()
Penulis : Asep Didi
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan