Merawat Kemenangan: Simbol Perlawanan Ekologis di Lereng Galunggung

Selasa, 13 Agustus 2024 - 13:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tasikmalaya, MNP – Dalam perayaan Hari Konservasi Alam yang penuh makna di lereng Gunung Galunggung, Kampung Leuweung Keusik, Desa Padakembang, Tasikmalaya, sebuah momen bersejarah kembali dihidupkan.

Kegiatan penanaman 1000 pohon yang digagas oleh PesanGreen, Aliansi Masyarakat Peduli Galunggung (AMPEG), dan Barcode, bukan sekadar simbol peringatan, melainkan sebuah deklarasi tegas dari kekuatan masyarakat dalam mempertahankan hak mereka atas lingkungan yang sehat dan lestari.

Leuweung Keusik, sebuah desa yang pernah menjadi medan perlawanan sengit melawan eksploitasi tambang pasir, kini menjadi simbol kemenangan masyarakat Indonesia dalam menentang aktivitas pertambangan yang merusak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tempat ini bukan lagi sekadar tanah yang diinjak, tetapi monumen hidup yang mengingatkan kita semua bahwa perjuangan untuk keadilan lingkungan bukanlah hal yang mustahil.

Dengan keberanian dan solidaritas, masyarakat berhasil menghentikan aktivitas tambang yang merugikan dan merusak alam, menjadikan Leuweung Keusik sebagai lambang perlawanan terhadap ketidakadilan ekologis.

Ketua PesanGreen, Diwan Masnawi, dalam pidatonya menekankan pentingnya aksi ini.

“Kita tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam harapan. Harapan bahwa masa depan bumi kita bisa diselamatkan dari cengkeraman tangan-tangan yang rakus akan sumber daya alam,” ujarnya dengan penuh semangat, Senin (12/08/2024).

Diwan menegaskan bahwa hutan-hutan yang telah rusak oleh pertambangan perlu direstorasi sebagai upaya untuk mengembalikan keseimbangan ekologi.

Trendi, salah satu partisipan dalam kegiatan ini, melihat penanaman pohon sebagai bentuk perlawanan terhadap eksploitasi alam yang tak bertanggung jawab.

“Kita menanam kembali hutan-hutan yang telah dirusak oleh mereka yang tidak peduli. Ini adalah cara kita untuk mengambil alih nasib bumi ini,” katanya.

Yang lebih menggembirakan adalah partisipasi dari generasi muda, yang turut berperan aktif dalam menjaga warisan bumi ini.

Generasi Z dan Alpha, yang selama ini dianggap apatis, kini tampil di garis depan perjuangan ekologi. Keterlibatan mereka dalam kegiatan ini menjadi penanda bahwa kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan telah meresap hingga ke akar rumput.

Diwan, dalam sambutannya, menyampaikan betapa pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keadilan antar generasi.

“Kita di sini, bersama teman-teman generasi Z dan Alpha, menjaga ruang hidup kita untuk keadilan di masa depan,” tegasnya.

Azmi, seorang siswa SMP Islam Cipasung, merasa bangga bisa menjadi bagian dari peristiwa ini.

“Ini adalah ikhtiar kita untuk menyelamatkan bumi dari polusi dan pemanasan global. Semoga apa yang kita lakukan hari ini akan memberikan dampak positif bagi bumi yang kita tinggali,” harapnya.

Perjuangan melawan tambang di Leuweung Keusik tidak hanya menjadi kemenangan masyarakat setempat, tetapi juga menjadi inspirasi bagi masyarakat di seluruh Indonesia bahwa kekuatan kolektif dapat menghentikan ketidakadilan dan meraih kemenangan atas mereka yang hanya peduli pada keuntungan jangka pendek.

Kegiatan penanaman 1000 pohon ini, pada akhirnya, adalah perwujudan dari semangat tersebut, sebuah langkah kecil namun penuh arti dalam merawat bumi untuk generasi yang akan datang.

Loading

Penulis : Alex

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Bawa Celurit Saat Beraksi, Polsek Candipuro Ringkus Komplotan Curanmor
Wali Kota Tasikmalaya Diminta Turun Tangan, Penanganan Dugaan Raib Mesin Mobil Dinsos Lamban?
SPK Desak Kejagung Periksa Dugaan Penyimpangan Investasi Telkom ke GoTo
Media Gathering di Jeneponto, Insan Pers dan BPJS Kesehatan Kupas Tantangan Pelayanan JKN
Penanganan Dinilai Lambat, PWRI Desak Polres Tasikmalaya Kota Transparan Soal Laporan Nikah Siri ‘DAM’
Berantas Narkoba dan HP Ilegal, Rutan Pemalang Gelar Razia Gabungan Bersama APH
Kepala Sekolah di Pemalang Keluhkan Jarak Penempatan Tugas, BKPSDM: Itu Sudah Final
Tempuh Ratusan Kilometer, Sopir Bus Sinar Jaya Kembalikan Dompet Penumpang asal Pemalang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 19:18 WIB

Bawa Celurit Saat Beraksi, Polsek Candipuro Ringkus Komplotan Curanmor

Senin, 25 Mei 2026 - 18:47 WIB

Wali Kota Tasikmalaya Diminta Turun Tangan, Penanganan Dugaan Raib Mesin Mobil Dinsos Lamban?

Senin, 25 Mei 2026 - 18:08 WIB

SPK Desak Kejagung Periksa Dugaan Penyimpangan Investasi Telkom ke GoTo

Senin, 25 Mei 2026 - 15:35 WIB

Media Gathering di Jeneponto, Insan Pers dan BPJS Kesehatan Kupas Tantangan Pelayanan JKN

Senin, 25 Mei 2026 - 14:36 WIB

Penanganan Dinilai Lambat, PWRI Desak Polres Tasikmalaya Kota Transparan Soal Laporan Nikah Siri ‘DAM’

Berita Terbaru

Berita terbaru

Bawa Celurit Saat Beraksi, Polsek Candipuro Ringkus Komplotan Curanmor

Senin, 25 Mei 2026 - 19:18 WIB