Tasikmalaya, MNP – Exponen 96 menggelar audensi kepada DPRD kota Tasikmalaya terkait pembatalan konser musik di wilayah kota Tasikmalaya oleh Al Mumtaz di ruang rapat paripurna Selasa (26/9/2023).
Berawal dari kejadian kemarin persoalan yang menjadi boomerang bagi seluruh masyarakat Tasikmalaya, terutama bagi kaum pesantren yang menjadi ikon Kota Tasikmalaya.
Hal itu dikatakan H Mimih sebagai ketua Exponen 96 ketika di temui awak media seusai melakukan audensi kepada DPRD kota Tasikmalaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dirinya menyebut, bahwa Tasikmalaya gitu kan sebagai icon, Allah memberikan barokah dengan karomah, “ini dihancurkan dengan persoalan yang remeh remeh dan sepele seperti ini,” bebernya.
Menurut H Mimih, baginya sebagai kaum pesantren sangat dirugikan sekali dengan cap intoleransi ini.
“Tasikmalaya adalah bagian negara Republik Indonesia bukan sempadan republik Indonesia, bahwa Tasikmalaya adalah merupakan penyempurna bagi republik Indonesia,” tegasnya.
Pihaknya menyebut bahwa prediksi tahun 2035 besok adalah Indonesia akan menjadi syi’ar budaya internasional, Kamus Internasional dan Kamus Internasional itu adanya di Tasikmalaya.
H Mimih mengatakan, pihaknya lagi berpenetrasi semua pesantren lagi berbenah diri dan itu ini segala macam, bahwa di pesantren sudah jelas punya pakem yang namanya hubul waton minal iman toleransi adalah bagian dari kehidupan.
“Syariah bagian dalam dari kehidupan diri dengan tuhan dalam kontek bernegara semuanya menyerahkan kepada negara dan hari ini di rusak dengan hal hal yang sepele seperti ini,” ungkap H Mimih.
Menurutnya, hal seperti inilah yang harus dipertanggung jawabkan oleh para pemangku tata kelola Tasikmalaya. Jangan sampai Tasikmalaya di sebut sempalan negara republik Indonesia, Tasikmalaya adalah sebagian dari negara Indonesia.
“Kemudian untuk para pemangku kebijakan Pemerintah kota dan DPRD diberikan waktu satu Minggu untuk mencabut cap kota Tasikmalaya sebagai kota intoleransi,” tandasnya.
![]()
Penulis : Sus
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan