Tasikmalaya, MNP – Puluhan tahun menjadi “benteng terakhir” penjaga kelestarian hutan demi kelangsungan sumber air, Desa Cidugaleun dan Desa Parentas di Kecamatan Cigalontang mulai menyuarakan kekecewaan.
Pasalnya, PDAM Tirta Sukapura yang memanfaatkan sumber air dari wilayah tersebut dinilai minim kontribusi terhadap warga penjaga hutan di area hulu.
Hal ini terungkap dalam diskusi serius antara tokoh masyarakat dan perangkat desa di kawasan wisata Curug Ciparay, Senin (29/12/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Desa Cidugaleun sekaligus Ketua Pengelola Wisata, Ikeu Firmansyah, menegaskan bahwa selama hampir 47 tahun berdirinya PDAM, belum ada kontribusi nyata yang dirasakan oleh desa di titik nol sumber air.
Ia membandingkan perlakuan PDAM terhadap desa-desa yang hanya dilalui pipa (seperti Sukaraja dan Cibatu) yang justru mendapatkan perhatian lebih.
“Kami yang melindungi dan menjaga hutan. Kalau di sini gundul, otomatis air tidak akan keluar. Jangan hanya menikmati hasilnya saja, minimal ada pengertian. Kami butuh aksi nyata, seperti bantuan bibit kopi atau alpukat untuk reboisasi agar hutan tetap terjaga,” tegas Ikeu.
Ia menambahkan bahwa dalam waktu dekat, pihaknya bersama Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) dan BPD berencana mendatangi kantor PDAM Tirta Sukapura untuk menuntut kejelasan komitmen.
Senada dengan Ikeu, Ketua LMDH Desa Cidugaleun, Usep Yazi, menyatakan bahwa sejak tahun 2006 masyarakat telah bahu-membahu menjaga hutan secara swadaya tanpa insentif.
Hal ini dilakukan demi keberlangsungan air yang dikonsumsi masyarakat luas, termasuk warga di Kota Tasikmalaya.
“Kami menjaga hutan habis-habisan karena niat ibadah. Tapi tolonglah ada fairness. PDAM mengambil manfaat airnya, kami yang menjaga hutannya. Kami hanya minta dukungan untuk penghijauan kembali,” ujar Usep.
Perwakilan tokoh masyarakat Desa Parentas, Nanang Sunandar, menjelaskan bagaimana masyarakat di perbatasan hutan ini telah berhasil mengubah pola pikir.
Jika dulu warga menebang kayu untuk bertahan hidup, kini mereka beralih menjadi pelindung hutan melalui skema perhutanan sosial.
“Dulu hutan dijaga ketat Polisi Hutan (Polhut), sekarang cukup satu orang saja karena masyarakat merasa memiliki. Kami menanam kopi, nangka, dan aren di bawah tegakan pohon tanpa merusak hutan,” jelas Nanang.
Inovasi ini melahirkan brand lokal seperti Kopi Parentas dan Kopi Dinding Ari. Filosofi yang dipegang adalah ‘Leuweung Hejo, Rakyat Ngejo’ (Hutan Hijau, Rakyat Bisa Makan).
“Ketika kami sudah menjaga hutan agar airnya tetap mengalir, kenapa tidak ada simbiosis mutualisme? Kami tidak meminta insentif pribadi, tapi perhatikanlah kelestarian hutan ini agar tetap memberikan kehidupan bagi semua,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola desa dan LMDH berharap ada respon positif dari manajemen PDAM Tirta Sukapura untuk duduk bersama dan merumuskan langkah nyata demi keberlanjutan sumber air di masa depan.
![]()
Penulis : Hendrik
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan