Tiket Terus Dipungut tapi Jalan Hancur, Kemana Uang Hasil Wisata Tasik?

Senin, 5 Januari 2026 - 11:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TASIKMALAYA, MNP – Memasuki Tahun Baru 2026 hingga hari ini, lonjakan pengunjung di sejumlah kawasan wisata khususnya Situ Gede di Kota Tasikmalaya terus meningkat.

Antusiasme masyarakat memanfaatkan momentum libur awal tahun terlihat tinggi. Namun, kondisi tersebut justru memperlihatkan ironi serius di lapangan.

Fasilitas jalan di dalam kawasan wisata, termasuk jalur pejalan kaki, masih rusak parah dan minim perawatan.

Praktisi lingkungan Kota Tasikmalaya, Mang Dayat, menilai kerusakan infrastruktur dasar tersebut mencerminkan lemahnya komitmen pengelola dalam menjaga ruang publik yang ramah lingkungan dan aman bagi pengunjung.

Menurutnya, jalan dan jalur pejalan kaki bukan sekadar sarana mobilitas, tetapi bagian penting dari tata kelola kawasan wisata yang berkelanjutan.

“Kalau pengunjung membludak tapi jalan di dalam kawasan dan trotoar dibiarkan rusak, itu artinya pengelolaan hanya fokus pada pemasukan, bukan pada keselamatan dan kelestarian lingkungan,” ujar Mang Dayat , Senin (05/01/2026).

Ia menyoroti kondisi jalan yang berlubang, paving block yang terangkat, serta jalur pejalan kaki yang tidak ramah bagi kelompok rentan.

Situasi ini, kata dia, berpotensi menimbulkan kecelakaan sekaligus mempercepat kerusakan lingkungan sekitar akibat alur pergerakan pengunjung yang tidak terkendali.

Mang Dayat juga mempertanyakan transparansi pengelolaan dana hasil pungutan tiket masuk.

Menurutnya, dana tersebut seharusnya dialokasikan secara proporsional untuk pemeliharaan rutin, termasuk perbaikan jalan internal kawasan wisata. Tanpa perawatan berkala, tekanan pengunjung justru akan memperparah degradasi lingkungan.

“Uang tiket itu bukan sekadar retribusi, tapi amanah publik. Harus jelas peruntukannya, berapa untuk perawatan jalan, berapa untuk lingkungan, dan berapa untuk pelayanan,” tegasnya.

Opini publik yang berkembang sejalan dengan pandangan tersebut. Masyarakat menilai kerusakan jalan di kawasan wisata bukan masalah teknis semata, melainkan indikasi lemahnya perencanaan dan pengawasan.

Di tengah meningkatnya jumlah pengunjung, pengelola dinilai gagal mengantisipasi dampak beban aktivitas terhadap infrastruktur dasar.

Mang Dayat menambahkan, pembiaran jalur pejalan kaki rusak juga bertentangan dengan prinsip wisata ramah lingkungan.

Jalur pedestrian yang layak dapat mengurangi ketergantungan kendaraan, menekan polusi, serta menciptakan pengalaman wisata yang lebih sehat dan aman.

“Kalau jalur pejalan kaki bagus, orang mau berjalan kaki. Tapi kalau rusak, orang memilih kendaraan, akhirnya macet, polusi meningkat, lingkungan yang rusak,” katanya.

Ia mendorong pemerintah daerah dan pengelola kawasan wisata untuk segera melakukan audit terbuka dan evaluasi menyeluruh. Tahun baru, menurutnya, harus dijadikan momentum pembenahan, bukan sekadar mengejar target kunjungan.

Tanpa langkah konkret, Mang Dayat memperingatkan bahwa kepercayaan publik akan terus menurun. Pengunjung membludak, tiket terus dipungut, tetapi jalan dan jalur pejalan kaki rusak parah.

Dalam kondisi seperti ini, wajar jika masyarakat terus bertanya: ke mana sebenarnya uang hasil pungutan tiket masuk itu dikelola?

Loading

Penulis : SN

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Dewan Pers Apresiasi Dialog Terbuka Bersama SWI, Bahas Penguatan Tata Kelola Organisasi Wartawan
BEM PTNU Se-Nusantara Dorong DPR RI Evaluasi Tata Kelola Kejaksaan
Renovasi Rampung, Ruang Pelayanan Masyarakat Polsek Tawang Kini Lebih Representatif
Oknum Anggota PWI Diduga Kurang Hobi Baca, Ucapannya Sok Tahu: “Tanpa UKW, Wartawan Bisa Dipenjara”
Pj Sekda Jeneponto Dorong Sinergi BKPRMI Perkuat Dakwah dan Pembinaan Generasi Muda
Mahasiswa KKN Unhas Gelombang 116 Gelar Seminar Program Kerja di Kelurahan Tanahloe
Perkuat Kelestarian Pesisir, Pegiat Lingkungan Bentuk Forum Mangrove Merbau dan Tanam 200 Bibit
Polisi Gagalkan Penyelundupan Senpi Rakitan dari Lampung ke Jawa, 1 Pelaku Ditangkap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:54 WIB

Dewan Pers Apresiasi Dialog Terbuka Bersama SWI, Bahas Penguatan Tata Kelola Organisasi Wartawan

Sabtu, 11 Juli 2026 - 04:32 WIB

BEM PTNU Se-Nusantara Dorong DPR RI Evaluasi Tata Kelola Kejaksaan

Sabtu, 11 Juli 2026 - 04:23 WIB

Renovasi Rampung, Ruang Pelayanan Masyarakat Polsek Tawang Kini Lebih Representatif

Jumat, 10 Juli 2026 - 19:52 WIB

Oknum Anggota PWI Diduga Kurang Hobi Baca, Ucapannya Sok Tahu: “Tanpa UKW, Wartawan Bisa Dipenjara”

Jumat, 10 Juli 2026 - 18:16 WIB

Pj Sekda Jeneponto Dorong Sinergi BKPRMI Perkuat Dakwah dan Pembinaan Generasi Muda

Berita Terbaru

Sampaikan 5 Tuntutan, BEM PTNU Se-Nusantara Minta DPR RI Tak Pasif Awasi Kejaksaan

Berita terbaru

BEM PTNU Se-Nusantara Dorong DPR RI Evaluasi Tata Kelola Kejaksaan

Sabtu, 11 Jul 2026 - 04:32 WIB