Bogor, MNP – Kesan egois serta congkak amat layak disematkan kepada sosok Kepala Desa Parakan Kec. Ciomas-Kabupaten Bogor, Itoh Masitoh. Hal tersebut sepadan dengan sikap dan perilakunya, ketika nerima atau menghadapi Jurnalis, di kantornya. Karena sikap dan perilakunya itu tak lagi mencerminkan pemimpin.
Sikap yang ditunjukkannya, ketika hendak dikonfirmasi oleh awak media, di Jum’at (6/2/2026), yang mencoba datang menemuinya, serta secara baik-baik juga telah memperkenalkan diri, telah menunggu karena dimintai untuk menunggu sebentar, dengan alasan tengah ada tamu di ruang kerjanya.
Namun setelah dirinya tadi selesai menerima tamunya itu, malah langsung keluar meninggalkan awak media begitu saja sambil berpura pura telepon. Seraya pergi keluar dirinya menjelaskan, “Saya ada kegiatan ini mau mempersiapkan Jumling,” ucapnya sambil dia masuk mobil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Awak media sempat menanyakan padanya, hal terkait polemik warga desanya dengan pengembang. Dirinya hanya beri jawaban singkat begini : “Kita sudah musyawarah,” jawabnya.
Dengan sikapnya seperti itu, diduga sengaja untuk menghindari awak media, karena polemik warga dan pihak pengembang diduga akibat terjadinya transaksi gratifikasi, diantara dirinya dengan pihak pengembang itu. Karena dalam polemik itu dirinya terkesan seperti memihak ke pengembang.
Polemik itu diduga banyak menimbulkan tanda tanya atau spekulasi kecurigaan dari banyak pihak. Utama sekali tentang keterkaitan pekerjaan fasos/fasumnya pengembang itu.
Terlepas dari sikap disertai perilaku buruknya itu, pihak DPMD yang punya kewenangan secara instansional, serta bertanggungjawab ngurus hingga mengawasi kinerja para Kades diwilayah kerjanya tadi, sudah selayaknya lakukan pembinaan hingga mengevaluasinya (metode kerja Kades Parakan : red) tersebut.
Sikap buruk Kades kepada awak media tersebut, ternyata bukan isapan jempol. Terbukti saat awak media ini mencoba minta tanggapannya, terkait substansi pemberitaan ini, melalui pesan WhatsApp pribadinya, samasekali tak mau merespons.
Padahal jika memang terkait kasus penutupan akses jalan yang dilakukan pengembang perumahan, itu benar-benar telah beres dimusyawarahkannya, tentu sudah ada solusinya.
Solusi terbaik serta saling menguntungkan ke semua pihak, bukan malah memicu polemik panjang, antara pihak pengembang dengan warga desanya.
![]()
Penulis : Asep Didi/Tim
Editor : Redi Setiawan









Telusuri terus min
Sampai sekarang masih belum dibuka untuk roda dua melintas
Sedangkan itu jalan udah di danai pemerintah melalui PNPM
Udah memakai dana pemerintah
Masa si hilangkan begitu saja kan aneh masa sekelas kelurahan kalah sama pengembang kan perizinan lokasi datangnya dari kelurahan