Opini Publik, MNP – Langit bulan Agustus selalu punya nuansa berbeda. Merah putih di mana-mana, ada lagu kebangsaan yang mengudara dari pagi hingga sore, dan ada pidato-pidato yang mengulang kata “merdeka” dengan semangat seolah semuanya baik-baik saja.
Tapi di balik semua perayaan itu, ada kegelisahan yang terus tumbuh tentang apakah makna kemerdekaan masih benar-benar dipahami, atau hanya sekadar rutinitas nasional yang dirayakan tanpa makna.
Delapan puluh tahun lalu, kata “merdeka” diteriakkan dengan nyawa sebagai taruhannya. Bukan karena ingin sekadar berdiri di bawah bendera sendiri, tetapi karena ingin menentukan arah hidup tanpa dikendalikan oleh bangsa lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hari ini bentuk penjajahan itu telah berganti rupa. Tidak lagi datang dengan senapan atau kapal perang, tetapi melalui sistem yang diam-diam membuat banyak orang kehilangan kendali atas hidupnya tanpa sadar tanpa perlawanan.
Harga bahan pokok naik tanpa kendali, tapi narasi tentang pertumbuhan ekonomi terus dijadikan tameng. Kota-kota besar membangun gedung pencakar langit.
Sementara desa-desa masih berkutat pada listrik yang padam dan jalan yang tak pernah diaspal. Anak-anak belajar lewat internet yang tak pernah stabil, dan jutaan pekerja bergelut dengan gaji yang tak cukup untuk sekadar hidup layak.
Ini bukan kemerdekaan seperti yang pernah dibayangkan para pendiri bangsa. Dalam dunia politik, janji-janji menjadi komoditas murah. Pemilu hadir lima tahun sekali, tapi suara rakyat masih sering diabaikan begitu kotak suara ditutup.
Elite politik berganti, tapi wajah-wajah lama tak pernah benar-benar hilang. Yang muda tampil, tapi membawa cara berpikir yang tak jauh beda. Kekuasaan bukan lagi soal pengabdian, tapi urusan jaringan, kekayaan, dan bagaimana tetap bertahan selama mungkin di kursi yang sama.
Generasi muda sibuk dengan pencitraan di layar. Mereka besar di tengah banjir informasi, tapi miskin makna. Tak sedikit yang lebih mengenal selebritas asing daripada sejarah bangsanya sendiri.
Ironi terbesar justru muncul saat Hari Kemerdekaan tiba lomba makan kerupuk dan panjat pinang jadi puncak euforia, tapi tak ada perenungan tentang apa sebenarnya yang sedang dirayakan.
Kemerdekaan seharusnya bukan seremoni satu hari. Kemerdekaan adalah proses panjang yang menuntut keberanian untuk berkata jujur bahwa banyak hal belum selesai.
Bahwa ada luka-luka yang belum sembuh, ada mimpi-mimpi yang belum diwujudkan, dan ada suara-suara yang masih dibungkam. Membicarakan kemerdekaan tanpa bicara soal ketidakadilan adalah pengkhianatan terhadap sejarah.
Indonesia hari ini bukan bangsa yang gagal, tapi jelas belum mencapai titik yang layak dibanggakan sepenuhnya. Negeri ini masih bertahan bukan karena sistemnya hebat, tetapi karena rakyatnya keras kepala untuk tetap berdiri.
Mereka yang bangun pagi demi menghidupi keluarga, yang mengajar dengan gaji pas-pasan, yang mengabdi di pelosok tanpa perhatian, mereka adalah wajah asli dari kemerdekaan yang sebenarnya.
Justru karena itu, perayaan 17 Agustus seharusnya menjadi momen untuk mengoreksi arah, bukan sekadar mengenang masa lalu. Sudah saatnya kata “merdeka” tak hanya berhenti di spanduk dan mikrofon pidato.
“Merdeka” harus kembali menjadi api yang membakar semangat untuk membenahi apa yang salah, melanjutkan yang belum selesai, dan melindungi mereka yang masih tertinggal.
Kemerdekaan bukan tentang bebas dari penjajahan, tapi tentang berani menciptakan keadilan. Bukan tentang bendera yang berkibar, tapi tentang harga diri yang tak bisa dibeli.
Selama masih ada ketimpangan yang dibiarkan, masih ada kekuasaan yang disalahgunakan, maka tugas bangsa ini belum selesai.
Selamat Hari Kemerdekaan. Semoga tahun ini, perayaannya tak hanya berhenti di tiang bendera tetapi ikut berkibar di dalam hati dan tindakan nyata.
![]()
Penulis : Eliza Rahmawati Mahasiswi FISIP Universitas Siliwangi









Tinggalkan Balasan