Membangun Keseimbangan Kondisi Sosial-Ekonomi Warga Kab. Bogor, Jauh Lebih Penting Daripada Membangun Gapura

Minggu, 19 Juli 2026 - 20:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOGOR, MNP – Menyikapi substansi dari pemberitaan di salah satu fortal media online, yang memuat pernyataan dari Kepala DPKP Kab Bogor, Eko Mujiarto, yang sudah secara eksklusif, disertai semangat dukungannya, terhadap keinginan orang nomor Satu di Kabupaten Bogor, Rudy Susmanto, di hadapan awak media itu. Yang memaparkan target rencana inovatif Bupati, membangunkan sebuah Gapura Tri Tangtu Buana (berupa bangunan fisik : red), masing-masing satu unit di setiap kecamatan sekabupaten Bogor pada beberapa hari yang lalu. Kang Asep Didi (Kordinator wilayah Jabar-Banten untuk Media Nasional POTRET), angkat bicara, (Minggu, 19/7/2026).

Menurut Kang Asep, sapaan akrabnya, kalau sekedar merencanakan, hal apa pun sah-sah saja jika bagi para pemangku kebijakan kekuasaan, itu memang domain mereka selaku pejabat birokrasi pemerintahan, termasuk di Pemda Kab. Bogor ini.

Tetapi jangan mentang – mentang dirinya sedang berkuasa, lantas semau dirinya itu menggulirkan suatu kebijakan, namun harus matang pengkajian segala aspek terkaitnya, termasuk kajian kearifan lokalnya, terlebih di kajian manfaat-mudlaratnya, itu harus dikaji terlebih dulu secara mendalam.

Tidak boleh sembarangan, juga jangan mengorientasikan pada kepentingan prinsip ekonomi, demi mencapai angka serapan anggaran, guna memenuhi syahwat pengukuhan jabatan atau menumpuk pundi materi duniawi.

Dirinya menegaskan satu alasan fundamental yang menurutnya lebih penting dari alasan apa pun. Dari pemahamannya itu, Asep mempertanyakan terkait keinginan Bupati tersebut tanpa tedeng aling-aling, kurang lebih begini yang dipertanyakannya (dalam bahasa Daerah : Sunda).

“Duka teuing ngalartieun duka hanteu kana hartina tur essensi sajati na, tina tetekon Kecap, dugikeun ka Kalimat Tri Tangtu di Buana ? Sabab ari ceuk Kula mah, nu kudu tuluy tuluyan tur kudu masiev diwangunkeun mah lain pisik Gapura Tri Tangtu Buana na, komo sabari jeung taya pangamalan na dina jalan kahirupan Manusa-manusa na. Nu kudu diwangun mah Jiwa jeung Raga Manusa na, ti mimiti Tekad dina Lebet Manah na, Emutan dina Uteuk na, Ucapan dina Lisan na sareng sagala Paripolah na, anu kudu harade tur nyarambung sadaya (teu patojaiyah). Tah eta anu kudu nyaan diwangun bener – bener mah Pak Bupati oge Pak Kadis DPKPP. Ngaberes keun kasenjangan Sosial – Ekonomi warga di Bogor wae can bisa mereskeun, kalahka hayang ngawangun Gapura, hadeeeuh…”

(Dalam bahasa Nasional) kurang lebihnya begini : “Tidak tahu pada ngerti atau tidak, terhadap arti dan essensi sejati dalam ketentuan Kata~Kalimat *Tri Tangtu Buana itu ???* Sebab, hal yang harus dibangun berkelanjutan secara merata di mana – mana itu, bukan *Gapura Tri Tangtu di Buana* nya, apalagi jika tanpa praktik nyatanya dalam tatacara menjalankan kehidupan Manusianya. Mulai dari harus bisa mengintegrasi kan Jiwa hingga raganya, mulai dari Niatnya dalam Qalbu/Hati, Pemikirannya dalam Nalarnya, Ucapan dari Lisan Mulutnya serta Perbuatan/Perilakunya di dalam sepak terjangnya. Tentu yang baik-baik dan terintegrasikan (tidak ber tolak belakang), terhadap segala ketentuan aturan yang ada dan berlaku, di negara Kita. Nah, itu yang harus benar-benar Bapak bangun mah, Pak Bupati, Pak Kadis DPKPP. Untuk ngeberesin kesenjangan Sosial-Ekonomi warga di Bogor saja belum bisa, eh malah merencanakan membangun Gapura Tri Tangtu Buana, hadeeuh.” tegas Asep.

“Ini untuk sekedar saling mengingatkan aja, lanjut Asep. Itu antar Kita yang merasa, serta Kita yang mengaku Orang Sunda. Kurang lebihnya begini terkait Tafsir Filosofy Tri Tangtu Buana. Itu suatu filosofi kosmologi Sunda, itu yang mengatur kaidah (tata kehidupan Manusia dan pemerintahan). Yang Ajaran-ajarannya berAkar didalam Tiga Pilar Utama berikut ini : (Rama, Resi, Ratu/Prabu), yang harus dipadukan jadi kesatuan utuh di perilaku manusia secara universal, disebut Tekad, Ucap, hingga Laku Lampah (Niat, Ucapan dan Perbuatan/Perilaku).”

Ketiga Elemen tadi wajib diselaraskan/diintegrasi kan/disinkronisasikan (harus nyambung/hanteu patojaiyah). Penting agar tercipta kehidupan yang Harmonis, Adil, Sejahtera dan berkeAdilan. ke-Tiga Pilar Utama (Tri Tangtu di Buana) tersebut, adalah Konsep dalam membagi keKuasaan (bukan berbagi keKuasaan) yang wajib berFungsi Sosial ke dalam Tiga Pilar itu. Yang saling mengawasi, saling melengkapi. Penerapan nya sebagai berikut :

1. Ratu (Raja/Prabu) : (jika ini untuk zaman sekarang), Pemimpin Eksekutif, Pembuat Kebijakan. Karakter Utamanya harus bisa *Ngagurat Batu* yang artinya “Teguh dan Adil seperti batu dengan kerasnya.

2. Rama (Tokoh Warga Masyarakat/Rakyat) : Penghubung antara si Penguasa dengan Rakyatnya. Karakter Utamanya harus bisa *Ngagurat Lemah/Tanah* (harus mampu mengAkar dan Dekat dengan Rakyat Kelas Bawah seperti/ibarat Tanah).
3. Resi (Pendeta/Guru/Cendekiawan/Wati) : para Pemuka Agama, Pendidik dan Penasihat Moralitas. Karakter Utamanya harus bisa *Ngagurat Angin* (harus mampu memBimbing Ummat Manusia dengan Arif dan Bijak/Obyektif).

Kemudian memiliki Tiga Potensi Diri terintegrasi : (Bayu-Sabda-Hedap), pun Filsafat ini, wajib menjadi pedoman etika individual yang menyatakan bahwa sebagai manusia, harus : menyatukan ketiga unsur potensi dasar tadi secara selaras serta seimbang.

1. Bayu (Tekad) : Niat dan Kekuatan Bathin yang Murni/Natural.

2. Sabda (Ucapan) : Perkataannya yang harus Jujur, Benar, dan berManfaat.

3. Hedap (Laku Lampah) : Perbuatan atau Tindakan Nyata yang membawakan keBaikan bagi Alam Semesta pun berikut isinya.

Ketiga Konsep Spiritual itu menekankan bahwa : Kesejahteraan (Hurip na Manusa), itu hanya akan tercapai jika sudah ada keseimbangan antara : Pemimpin, Rakyat, serta Moralitas kesemua pihak nya itu. Jika Kita belum dapat menyeimbangkan semua itu, maka hanya mimpi di Tengah Hari Bolong, khayalan kosong melompong.

“Untuk dapat memahami hingga mampu menerap kan filsafat tersebut tidak lah mudah, apalagi orang sembarangan. Karena itu perlu Kita gali mendalam, ke kedalamanan Filsafat khasanah ke-Sundaan itu sendiri. Wabil khususnya, mengenai Akar Hystoris yang disertai Penerapan, dalam Spiritualitas Adab hingga Adat Istiadat dari khasanah ke-Sundaan tersebut, di dalam hidup dan kehidupan Kita saat ini. Mengingat Saya juga Anda, bahkan Kita semua belum tentu mampu, juga belum tentu kuat didalam membelinya apalagi buat menjalankannya. Karena untuk hal yang berkaitan Filosofi Tri Tangtu Buana Sunda, itu mudah namun tidak boleh digampangin. Karena Kita semua harus mampu mengelaborasi kan ketiganya, sekaligus mengintegrasikan unsur ketiganya, yakni tentang hubungan selaras antara Manusia dengan Tuhan, Manusia dengan sesama Manusia, hingga Manusia dengan Alam Semesta beserta isinya.

Loading

Penulis : Red

Berita Terkait

Sertifikat Terbit di Kawasan Sempadan, Kredibilitas BPN Kota Tasikmalaya Dipertanyakan
Perkuat Layanan Kemanusiaan, Bank BTN Hibahkan Satu Unit Ambulans untuk Relindo Pemalang
Pantura Pemalang – Pekalongan Darurat Miras, Rizal Bawazier: Ini Ancaman Nyata Generasi Bangsa!
Lestarikan Tradisi, Kampung Situbeet Siap Gelar Kibar Budaya 2026
Momen Akrab Satgas TMMD 129 Tasikmalaya Makan Bareng Warga Usai Bangun TPT
Sisi Humanis Komunitas Otomotif: Brio Squad Tasikmalaya Berbagi Kebahagiaan di HUT ke-3
Gunakan Senpi Rakitan, Polres Lampung Selatan Ringkus Komplotan Curas Modus COD Motor
UMKM Tasikmalaya Didorong Bangkit, Koperasi Liar Menjamur: FORDEM Tantang Dinas Bertindak Tegas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 11:42 WIB

Sertifikat Terbit di Kawasan Sempadan, Kredibilitas BPN Kota Tasikmalaya Dipertanyakan

Senin, 20 Juli 2026 - 10:52 WIB

Perkuat Layanan Kemanusiaan, Bank BTN Hibahkan Satu Unit Ambulans untuk Relindo Pemalang

Senin, 20 Juli 2026 - 10:32 WIB

Pantura Pemalang – Pekalongan Darurat Miras, Rizal Bawazier: Ini Ancaman Nyata Generasi Bangsa!

Minggu, 19 Juli 2026 - 22:17 WIB

Lestarikan Tradisi, Kampung Situbeet Siap Gelar Kibar Budaya 2026

Minggu, 19 Juli 2026 - 20:25 WIB

Membangun Keseimbangan Kondisi Sosial-Ekonomi Warga Kab. Bogor, Jauh Lebih Penting Daripada Membangun Gapura

Berita Terbaru

Berita terbaru

Lestarikan Tradisi, Kampung Situbeet Siap Gelar Kibar Budaya 2026

Minggu, 19 Jul 2026 - 22:17 WIB