Elis Lisnawati: Pelaku Budaya Jangan Hanya Dibutuhkan, Pemerintah Harus Hargai dan Didukung Merata

Minggu, 11 Oktober 2026 - 15:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TASIKMALAYA, MNP – Persoalan penghargaan, kesejahteraan, dan pemerataan dukungan terhadap pelaku seni budaya kembali menjadi sorotan.

Di tengah berbagai pernyataan tentang pentingnya pelestarian budaya daerah, masih terdapat harapan besar dari para seniman dan budayawan agar perhatian pemerintah tidak berhenti pada seremoni dan retorika, tetapi diwujudkan melalui kebijakan serta tindakan nyata.

Sorotan tersebut disampaikan Elis Lisnawati, A.Ma.Pd., Ketua DPC Manggala Garuda Putih, saat menghadiri Milangkala ke-9 Padepokan Sabodo Seni Debus Extreme Tasikmalaya.

Dalam kesempatan wawancara bersama awak media, Elis menyampaikan pandangan kritis mengenai posisi pelaku budaya yang dinilainya masih membutuhkan pengakuan dan penghargaan yang lebih utuh.

Menurut Elis, keinginan para pelaku seni budaya sebenarnya sederhana, yakni keberadaan mereka diterima, dihargai, dan diakui sebagai bagian penting dari identitas serta kekayaan budaya bangsa.

“Harapan kami dari dulu tetap sama. Kami dari kalangan kebudayaan ingin dihargai, bukan sekadar dibutuhkan. Pelaku budaya, seniman, dan budayawan ingin keberadaannya diterima dan diakui, bukan hanya dicari ketika ada kepentingan atau kegiatan tertentu,” ungkap Elis.

Ia menegaskan, penghargaan terhadap pelaku budaya tidak seharusnya hanya muncul ketika pemerintah atau pihak tertentu membutuhkan penampilan seni untuk memeriahkan sebuah acara.

Lebih dari itu, mereka perlu memperoleh ruang yang layak, pengakuan yang berkelanjutan, serta perhatian terhadap kesejahteraan yang selama ini masih menjadi persoalan.

Elis menilai, kecintaan terhadap budaya daerah harus dibuktikan melalui tindakan nyata.

Sebab, pernyataan mencintai budaya akan kehilangan makna apabila para pelaku yang menjaga, merawat, dan mewariskan kebudayaan justru masih merasa dipandang sebelah mata.

“Jujur, kondisi kesejahteraan padepokan, budayawan, dan para pelaku seni budaya masih memprihatinkan. Kalau kita mengatakan cinta budaya, lalu mana buktinya? Mana kenyataannya? Jangan sampai kecintaan terhadap budaya hanya bagus dalam ucapan, tetapi belum terasa dalam kehidupan para pelakunya,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menggelar festival, pertunjukan, atau perayaan hari jadi padepokan.

Dibutuhkan keberpihakan yang konkret agar para pelaku budaya memiliki kesempatan untuk terus berkarya tanpa harus menghadapi persoalan kesejahteraan secara sendirian.

Di sisi lain, Elis tidak menampik bahwa dukungan dari pemerintah sudah ada. Namun, menurutnya, dukungan tersebut masih perlu ditingkatkan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh komunitas seni dan budaya.

Elis secara khusus menyoroti pentingnya pemerataan perhatian pemerintah terhadap seluruh komunitas seni budaya.

Ia berharap dukungan tidak terkonsentrasi pada kelompok tertentu, sementara kelompok lainnya kesulitan memperoleh kesempatan yang sama.

“Dari pihak pemerintah sebenarnya sudah ada dukungan, tetapi memang belum maksimal. Kalaupun ada yang sudah maksimal, itu baru terasa di tempat-tempat tertentu. Harapan saya, dukungan ini bisa merata. Jangan sampai ada kesan membeda-bedakan karena kedekatan, persahabatan, atau hubungan kekerabatan,” ujarnya.

Menurut Elis, kebijakan kebudayaan yang sehat harus dibangun di atas prinsip keadilan, keterbukaan, dan kesetaraan kesempatan.

Setiap komunitas yang memiliki komitmen terhadap pelestarian budaya semestinya mendapatkan ruang untuk berkembang berdasarkan kiprah, kebutuhan, dan kontribusinya.

Pemerintah daerah, lanjutnya, perlu membuka ruang komunikasi yang lebih luas dengan komunitas seni, padepokan, seniman, serta budayawan.

Dengan demikian, program pembinaan dan bantuan kebudayaan dapat disusun berdasarkan kebutuhan riil di lapangan, bukan semata-mata berdasarkan siapa yang paling dekat dengan pengambil kebijakan.

Pesan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi pemangku kebijakan di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya untuk mengevaluasi sejauh mana program pelestarian budaya telah menjangkau komunitas secara adil.

Sebab, apabila pelestarian budaya benar-benar menjadi prioritas, perhatian terhadap para pelakunya tidak boleh bersifat sesaat, apalagi hanya muncul ketika kegiatan seremonial berlangsung.

Di sela penyampaian kritik dan harapannya, Elis juga menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Milangkala ke-9 Padepokan Sabodo Seni Debus Extreme Tasikmalaya.

Ia menilai momentum tersebut penting untuk mempererat silaturahmi, memperkuat solidaritas, dan membangun hubungan antarpelaku seni budaya lintas daerah.

Atas nama Manggala Garuda Putih Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Elis menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan agar Padepokan Sabodo terus tumbuh dan konsisten menjaga eksistensinya.

“Kami dari Manggala Garuda Putih Kabupaten dan Kota Tasikmalaya mengucapkan selamat Milangkala ke-9 untuk Padepokan Sabodo. Semoga Sabodo semakin nanjeur, semakin solid, dan terus berkiprah dalam menjaga serta mengembangkan seni budaya,” tuturnya.

Milangkala ke-9 Padepokan Sabodo diharapkan tidak sekadar menjadi perayaan perjalanan sebuah komunitas, tetapi juga menjadi ruang refleksi bersama mengenai masa depan seni budaya, khususnya di wilayah Tasikmalaya.

Pada akhirnya, kekuatan kebudayaan tidak hanya diukur dari banyaknya pertunjukan atau meriahnya sebuah perayaan.

Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana para pelaku budaya memperoleh penghormatan, kesempatan berkarya, dan keberlanjutan hidup yang layak.

Budaya tidak akan benar-benar terjaga jika orang-orang yang merawatnya terus berjuang sendirian. Menghargai budaya berarti menghargai manusia yang menghidupkannya.

Loading

Penulis : Alex

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Di Milangkala ke-9 Sabodo Debus Extreme, Budayawan Minta Pemerintah Serius Lestarikan Seni Sunda
Fun Bike Gowes Bareng Pemuda Tasik dan BSS Meriahkan Milangkala ke-25 Kota Tasikmalaya
Penghasilan Nelayan Pangandaran Turun, Faktor Harga Pasar Jadi Pemicu
Healing Hemat di Kuningan: Menikmati Sunset dan Udara Sejuk di Taman Bunut
Rutin Gelar Pengajian Kitab Bulanan, RPA CV Assalam Family Pererat Silaturahmi Bersama Warga Bantarsari
Tegang! Karyawan PT SBL Tertibkan Rombongan Mengaku KSO Agrinas di Indragiri Hulu
Tingkatkan Kualitas PAUD, Kober Bunda Hati Launching Hasil Revitalisasi Sarpras
Narapidana Dipindahkan Dari Rutan Jakarta Pusat, Keamanan dan Pembinaan Jadi Fokus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 15:51 WIB

Elis Lisnawati: Pelaku Budaya Jangan Hanya Dibutuhkan, Pemerintah Harus Hargai dan Didukung Merata

Minggu, 11 Oktober 2026 - 15:43 WIB

Di Milangkala ke-9 Sabodo Debus Extreme, Budayawan Minta Pemerintah Serius Lestarikan Seni Sunda

Minggu, 11 Oktober 2026 - 10:46 WIB

Fun Bike Gowes Bareng Pemuda Tasik dan BSS Meriahkan Milangkala ke-25 Kota Tasikmalaya

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:54 WIB

Penghasilan Nelayan Pangandaran Turun, Faktor Harga Pasar Jadi Pemicu

Minggu, 11 Oktober 2026 - 08:56 WIB

Healing Hemat di Kuningan: Menikmati Sunset dan Udara Sejuk di Taman Bunut

Berita Terbaru

Berita terbaru

Penghasilan Nelayan Pangandaran Turun, Faktor Harga Pasar Jadi Pemicu

Minggu, 11 Okt 2026 - 09:54 WIB