Di Milangkala ke-9 Sabodo Debus Extreme, Budayawan Minta Pemerintah Serius Lestarikan Seni Sunda

Minggu, 11 Oktober 2026 - 15:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TASIKMALAYA, MNP — Sembilan tahun perjalanan Padepokan Sabodo Debus Extreme Tasikmalaya menjadi momentum penting untuk mempererat persaudaraan antarpelaku seni sekaligus menguatkan komitmen pelestarian budaya daerah.

Namun, di balik kemeriahan Milangkala ke-9 tersebut, terselip harapan agar perhatian dan apresiasi pemerintah terhadap seni budaya di Kota Tasikmalaya semakin nyata dan tidak berhenti sebatas dukungan administratif.

Mengusung tema “Batur Jadi Dulur, Dulur Tambah Akur”, perayaan milangkala ini bukan sekadar seremoni ulang tahun padepokan.

Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan para pelaku seni budaya lintas daerah, bahkan dihadiri tamu dari luar Pulau Jawa hingga mancanegara.

Sekretaris Padepokan Sabodo Debus Extreme Tasikmalaya, Kang Grey, mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan yang mampu mempertemukan para pegiat budaya dari berbagai wilayah, termasuk Jawa Barat, Banten, Sukabumi, Bogor, dan Garut, serta sejumlah daerah lainnya.

“Alhamdulillah, pada Milangkala ke-9 ini kami bisa menghadirkan rekan-rekan pelaku seni budaya dari berbagai daerah. Bahkan, ada yang datang dari Papua, Kalimantan, hingga luar negeri. Ini menjadi kebanggaan sekaligus bukti bahwa seni budaya memiliki kekuatan untuk menyatukan masyarakat tanpa dibatasi jarak dan wilayah,” ungkap Kang Grey.

Menurutnya, pertemuan lintas daerah tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat jejaring kebudayaan sekaligus membuka peluang agar Kota Tasikmalaya semakin dikenal sebagai salah satu ruang tumbuhnya seni tradisi Sunda.

Kang Grey menilai dukungan pemerintah terhadap kegiatan kebudayaan di Kota Tasikmalaya selama ini sudah ada.

Namun, ia berharap dukungan tersebut dapat ditingkatkan agar para pelaku seni memiliki ruang yang lebih luas untuk berkarya, berkembang, dan memperkenalkan kebudayaan kepada masyarakat.

“Kami mengakui dukungan pemerintah sudah ada, meskipun menurut kami belum maksimal. Harapan kami, khususnya Pemerintah Kota Tasikmalaya, bisa lebih mengapresiasi para pelaku seni budaya yang selama ini terus berupaya menjaga dan melestarikan warisan budaya,” tegasnya.

Ia menilai kegiatan kebudayaan tidak semestinya dipandang hanya sebagai hiburan atau agenda seremonial.

Jika dikelola secara konsisten dan didukung dengan baik, kegiatan semacam ini berpotensi menjadi daya tarik kunjungan, menggerakkan usaha masyarakat, serta memberikan dampak ekonomi bagi daerah.

Kehadiran tamu dari berbagai wilayah, menurutnya, menjadi peluang untuk memperkenalkan potensi Kota Tasikmalaya lebih luas.

Karena itu, sinergi antara pemerintah, komunitas seni, pelaku usaha, dan masyarakat perlu diperkuat agar kegiatan budaya memberikan manfaat yang berkelanjutan.

Harapan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah daerah: bagaimana potensi seni budaya yang dimiliki masyarakat dapat diterjemahkan menjadi program pembinaan, ruang pertunjukan, fasilitasi kegiatan, dan promosi kebudayaan yang lebih terarah.

Rangkaian Milangkala ke-9 Padepokan Sabodo Debus Extreme diisi dengan berbagai pertunjukan seni budaya, di antaranya tari jaipongan, debus, pencak silat, serta penampilan kesenian lainnya.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan para seniman, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar semakin mengenal, mencintai, dan bangga terhadap kebudayaan sendiri.

Di tengah perubahan zaman dan derasnya pengaruh budaya populer, regenerasi menjadi salah satu pekerjaan penting dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional.

Tanpa keterlibatan generasi muda, berbagai kesenian berisiko kehilangan penerus dan ruang hidupnya di tengah masyarakat.

Karena itu, pelestarian budaya membutuhkan lebih dari sekadar pertunjukan sesekali. Diperlukan pembinaan yang berkesinambungan, kesempatan tampil, serta dukungan berbagai pihak agar seni tradisi tetap hidup dan relevan bagi generasi berikutnya.

Kang Grey pun menyampaikan terima kasih kepada pemerintah yang telah memberikan izin penyelenggaraan kegiatan, Haji Aris dari Sabila selaku donatur, para tamu undangan, serta seluruh pelaku seni budaya yang hadir dan turut menyukseskan perayaan tersebut.

Ia secara khusus mengapresiasi partisipasi para seniman dari Kota Tasikmalaya maupun luar daerah yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan mempererat hubungan persaudaraan melalui kegiatan kebudayaan.

Senada dengan itu, Abah Arul selaku Ketua Padepokan Sabodo menegaskan bahwa nilai utama yang ingin dibangun melalui kegiatan Milangkala ke-9 Padepokan Sabodo adalah kekeluargaan dan kebersamaan antarpelaku seni budaya.

Menurutnya, seni budaya bukan hanya tentang mempertahankan tradisi atau menampilkan keahlian di atas panggung, melainkan juga membangun hubungan sosial yang lebih erat, menumbuhkan sikap saling menghormati, serta memperkuat semangat gotong royong.

“Yang paling utama itu kekeluargaan. Dengan adanya seni budaya ini, Abah berharap kita semakin erat, semakin guyub, dan bersama-sama melestarikan seni budaya sesuai dengan tema hari ini: ‘Batur Jadi Dulur, Dulur Tambah Akur’,” ungkap Abah Arul.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa perbedaan latar belakang, daerah asal, maupun aliran kesenian tidak seharusnya menjadi sekat.

Sebaliknya, keberagaman harus menjadi kekuatan untuk membangun persatuan dan menjaga kekayaan budaya Nusantara.

Milangkala ke-9 Padepokan Sabodo Debus Extreme menjadi pengingat bahwa pelestarian kebudayaan membutuhkan konsistensi, kebersamaan, dan dukungan nyata dari berbagai pihak.

Padepokan dan komunitas seni telah menunjukkan perannya melalui kegiatan, pertunjukan, serta upaya mempertemukan para pelaku budaya lintas daerah.

Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan semangat tersebut terus berlanjut melalui pembinaan generasi muda dan kolaborasi yang lebih kuat.

Pemerintah Kota Tasikmalaya diharapkan dapat menjadikan komunitas seni sebagai mitra strategis dalam pembangunan kebudayaan, bukan sekadar pihak yang dilibatkan ketika ada kegiatan seremonial.

Sebab, menjaga seni budaya bukan hanya tanggung jawab para seniman. Ini merupakan tanggung jawab bersama agar warisan leluhur tetap hidup, dikenal generasi penerus, dan menjadi kebanggaan daerah.

Loading

Penulis : Alex

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Fun Bike Gowes Bareng Pemuda Tasik dan BSS Meriahkan Milangkala ke-25 Kota Tasikmalaya
Penghasilan Nelayan Pangandaran Turun, Faktor Harga Pasar Jadi Pemicu
Healing Hemat di Kuningan: Menikmati Sunset dan Udara Sejuk di Taman Bunut
Rutin Gelar Pengajian Kitab Bulanan, RPA CV Assalam Family Pererat Silaturahmi Bersama Warga Bantarsari
Tegang! Karyawan PT SBL Tertibkan Rombongan Mengaku KSO Agrinas di Indragiri Hulu
Tingkatkan Kualitas PAUD, Kober Bunda Hati Launching Hasil Revitalisasi Sarpras
Narapidana Dipindahkan Dari Rutan Jakarta Pusat, Keamanan dan Pembinaan Jadi Fokus
SMPN 1 Petarukan Perkuat Skill Digital Para Guru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 15:43 WIB

Di Milangkala ke-9 Sabodo Debus Extreme, Budayawan Minta Pemerintah Serius Lestarikan Seni Sunda

Minggu, 11 Oktober 2026 - 10:46 WIB

Fun Bike Gowes Bareng Pemuda Tasik dan BSS Meriahkan Milangkala ke-25 Kota Tasikmalaya

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:54 WIB

Penghasilan Nelayan Pangandaran Turun, Faktor Harga Pasar Jadi Pemicu

Minggu, 11 Oktober 2026 - 08:56 WIB

Healing Hemat di Kuningan: Menikmati Sunset dan Udara Sejuk di Taman Bunut

Minggu, 11 Oktober 2026 - 07:23 WIB

Rutin Gelar Pengajian Kitab Bulanan, RPA CV Assalam Family Pererat Silaturahmi Bersama Warga Bantarsari

Berita Terbaru

Berita terbaru

Penghasilan Nelayan Pangandaran Turun, Faktor Harga Pasar Jadi Pemicu

Minggu, 11 Okt 2026 - 09:54 WIB