TASIKMALAYA, MNP — Dua pekan tanpa pasokan air yang memadai membuat sekitar 70 kepala keluarga (KK) di RT 03/11, Kampung Conggeang, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, harus menghadapi persoalan serius dalam memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Di tengah kondisi tersebut, bantuan air bersih dari jajaran Brigif 13/Galuh Rahayu hadir sebagai respons terhadap kebutuhan warga. Penyaluran air dilakukan dalam rangka memperingati HUT Brigif 13/Galuh Rahayu Ke-77 dan disambut antusias masyarakat.
Bagi warga, air yang disalurkan bukan sekadar bantuan seremonial. Di tengah kekeringan, bantuan tersebut menjadi kebutuhan nyata yang langsung dirasakan manfaatnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua RT 03, Jejen, menyampaikan apresiasi kepada jajaran Brigif 13/Galuh Rahayu atas kepedulian dan respons terhadap kondisi masyarakat.
“Atas nama warga RT 03, kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Brigif 13/Galuh Rahayu yang telah menyalurkan bantuan air bersih. Bantuan ini sangat berarti bagi warga, karena kurang lebih sudah dua minggu kami mengalami kekeringan dan kesulitan mendapatkan air bersih,” ujar Jejen.
Menurut Jejen, kehadiran Brigif 13/Galuh Rahayu menunjukkan bahwa kepedulian terhadap masyarakat dapat diwujudkan melalui tindakan konkret, terutama ketika warga menghadapi persoalan kebutuhan dasar.
“Kami sangat terbantu dengan adanya bantuan ini. Mudah-mudahan kepedulian seperti ini terus terjaga. TNI bukan hanya hadir dalam tugas pertahanan dan keamanan, tetapi juga dapat hadir di tengah masyarakat ketika menghadapi persoalan sosial seperti kekeringan dan krisis air bersih,” katanya.
Meski mengapresiasi bantuan Brigif 13/Galuh Rahayu, Jejen menegaskan bahwa persoalan air bersih tidak seharusnya berhenti pada penyaluran bantuan ketika krisis terjadi.
Menurutnya, kekeringan berpotensi menjadi persoalan berulang setiap musim kemarau. Karena itu, diperlukan intervensi pemerintah melalui pembangunan infrastruktur penyediaan air bersih yang dapat digunakan masyarakat dalam jangka panjang.
“Kami berharap ke depan ada solusi dari pemerintah. Kalau wilayah ini memang rawan kekeringan, kami berharap bisa dibangun sumur bor atau sarana air bersih yang dapat dimanfaatkan warga secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Jejen berharap pemerintah tidak hanya melakukan penanganan ketika kondisi sudah memasuki fase krisis, tetapi mulai melakukan langkah antisipasi terhadap wilayah yang memiliki kerawanan kekeringan.
“Jangan sampai warga baru mendapatkan perhatian ketika sudah mengalami krisis. Kami berharap ada langkah antisipasi dan solusi permanen, sehingga ketika musim kemarau datang, masyarakat tidak lagi kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari,” tegasnya.
Momentum HUT Brigif 13/Galuh Rahayu Ke-77 juga mendapat apresiasi dari masyarakat. Jejen berharap kegiatan sosial yang menyentuh langsung kebutuhan warga dapat terus dilakukan dan menjadi bagian dari kedekatan TNI dengan masyarakat.
“Kami mengucapkan selamat HUT Brigif 13/Galuh Rahayu Ke-77. Semoga TNI, khususnya Brigif 13/Galuh Rahayu, semakin maju, semakin dekat dengan masyarakat, dan selalu diberikan kekuatan untuk terus berdedikasi serta mengabdi untuk negeri,” pungkas Jejen.
Penyaluran air bersih tersebut menjadi bentuk kepedulian yang langsung dirasakan warga di tengah kondisi kekeringan.
Namun di sisi lain, persoalan yang terjadi di Kampung Conggeang juga menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat langkah mitigasi kekeringan dan memastikan akses air bersih bagi masyarakat dapat terjamin, bukan hanya saat kondisi darurat, tetapi juga secara berkelanjutan.
![]()
Penulis : Alex
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan