Tasikmalaya, MNP – Dinas Kesehatan melalui UPTD Puskesmas Bantar menggelar pelatihan dan pembentukan Kader Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) HIV-IMS Berbasis Komunitas (Karang Taruna).
Hal itu mengingat tingginya kasus HIV – Infeksi Menular Seksual (IMS) di Kota Tasikmalaya yang menunjukkan tren kenaikan signifikan.
Acara yang dilaksanakan di Aula UPTD Puskesmas Bantar, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari, Senin (10/11/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Nampak hadir Lurah, Kasipem Trantib, Kapus, Ketua Karang Taruna Kota dan Kecamatan, serta peserta Karang Taruna dari Kelurahan Sukajaya dan Sukamulya.
Kepala Puskesmas Bantar, Tedi Setyadi, SKM., M.Si., mengatakan, kolaborasi dengan Karang Taruna ini penting karena tren kasus HIV-IMS di Kota Tasikmalaya cukup tinggi dan terus meningkat setiap bulan.
“Kami menggandeng Karang Taruna supaya bisa kolaborasi mensosialisasikan tentang HIV/IMS kepada masyarakat, juga agar bisa menekan angka kasus HIV-IMS di wilayah Puskesmas Bantar ini,” jelas Tedi.
Heri Sulihudin, S.Pd.I., Ketua Karang Taruna Kota Tasikmalaya, mengungkapkan keprihatinannya terhadap data yang ada.
“Hari ini miris, angka HIV/AIDS cukup tinggi, angkanya hampir 1.300 penderita. Sebanyak 76% di antaranya adalah usia produktif, 20 sampai 40 tahun,” kata Heri.
Yang lebih memprihatinkan, Heri menyebut bahwa penularan HIV/AIDS didominasi bukan lagi dari jarum suntik narkoba atau seks bebas, melainkan dari perilaku Lelaki Seks Lelaki (LSL) atau yang biasa dikenal LGBT.
Heri menegaskan Karang Taruna tidak akan diam. Program penanggulangan HIV/AIDS ini menjadi salah satu fokus utama Karang Taruna Kota Tasikmalaya tahun 2025, selain masalah sampah, geng motor, dan narkoba.
“Ini bukan hanya sebatas masalah kesehatan tetapi juga menjadi masalah sosial. Seluruh elemen masyarakat harus bahu membahu untuk memutuskan rantai penularan HIV/AIDS,” tegasnya.
Tujuan utama dari pelatihan ini adalah pencegahan, penanganan (agar penderita tidak dikucilkan), dan mendorong pemeriksaan dini.
“Potensi besar terkait HIV/AIDS bisa diperiksakan. Gejala-gejala ini sudah muncul di usia 17 tahun. Para pemuda harus ambil bagian mencari solusi, jangan sampai jadi korban,” tambah Heri.
Dr. Mili Mulyani, Narasumber dari Puskesmas Bantar, menjelaskan materi yang disampaikan meliputi definisi, penyebab, cara penularan, hingga penanganannya.
“Diharapkan para kader Karang Taruna ini dapat mensosialisasikan di lingkungannya, mulai dari keluarga sampai ke masyarakat. Jika ada orang yang dicurigai berisiko, harap segera melapor atau diajak ke Puskesmas untuk pemeriksaan,” ujar Dr. Mili.
Ia menambahkan, Puskesmas Bantar kini telah menyediakan pemeriksaan HIV secara bertahap, mulai dari calon pengantin (catin) hingga ibu hamil (bumil).
Ani Widianti, Sekretaris Karang Taruna Kelurahan Sukajaya, mewakili peserta menyatakan antusiasme mereka.
“Kami berharap setelah pembentukan kader P2PM ini, kami sebagai generasi muda bisa memberikan arahan dan sosialisasi kepada pemuda-pemudi lainnya bagaimana menghindari penularan HIV/AIDS.”
Karang Taruna Kecamatan Bungursari, diwakili Eri Darwin, M.Pd., juga mengapresiasi program ini, yang di tingkat kecamatan hanya menyisakan tiga kelurahan lagi yang belum mendapatkan kegiatan P2PM, salah satunya Kelurahan Sukarindik.
![]()
Penulis : Hendrik
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan