Tasikmalaya, MNP – Hampir tiga bulan lamanya masyarakat dipertontonkan kelihaian sang penguasa dengan percaya diri bermain peran sebagai penyelenggara sekaligus wasit dalam pemilu kali ini.
Etika tak lagi menjadi standar moral dalam merebut kuasa, hukum tak lagi menjadi pelindung bagi mereka yang teraniaya.
Tangisan tak lagi menjadi arti ketika nafsu berkuasa menjadi tujuan utama. Pemilihan umum yang semula menjadi semangat reformasi seketika hilang tak bernisan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Statement tersebut diutarakan Fajar Anugerah Koordinator Lapangan Aksi Taubat Demokrasi yang di gelar Pimpinan Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PD KAMMI) Kota Tasikmalaya, depan Balaikota Tasikmalaya.
Nampak hadiri Kepala Kesbangpol Kota Tasikmalaya, Ketua KPU Kota Tasikmalaya, Bawaslu Kota Tasikmalaya, Senin (12/02/2024).
Massa aksi pun secara bergantian berorasi menyampaikan aspirasi terkait dengan kondisi demokrasi di negeri ini, bahkan pembacaan puisi pun terdengar lantang. Dalam aksi tersebut, peserta melakukan simulasi matinya demokrasi.
Adapun, pernyataan sikap PD KAMMI Kota Tasikmalaya dalam tema Gerakan Selamatkan Masa Depan Demokrasi Indonesia sebagai berikut
1. Menuntut Netralitas Presiden dan Penyelenggara Pemilu 2024
2. Menuntut KPU, Bawaslu, dan Penyelenggara Pemilu 2024 lainnya di Kota Tasikmalaya untuk profesional menjaga Pemilu dari kecurangan
3. Apabila Presiden Indonesia dan Penyelenggara Pemilu 2024 tidak melaksanakan konstitusi dengan sebaik-baiknya maka menuntut untuk turun dari jabatannya.
Masa aksi sempat memecahkan gelas bertuliskan demokrasi yang mengisyaratkan demokrasi negeri ini telah hancur.
Selain itu, massa aksi juga melakukan tabur bunga pada foto presiden Jokowi yang bertuliskan penjahat demokrasi.
![]()
Penulis : Alex
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan