MAKASSAR, MNP – Dewan Pengurus Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Universitas Hasanuddin (DPK GMNI Unhas) mengambil langkah tak biasa.
Organisasi ekstra kampus yang selama ini identik dengan aksi jalanan itu kini berencana merambah ranah akademis.
DPK GMNI Unhas resmi mengusulkan kolaborasi strategis dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unhas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tujuannya jelas, melahirkan riset dan pengabdian yang langsung menyentuh kebutuhan kaum marhaen, rakyat kecil yang menjadi napas perjuangan GMNI sejak era Bung Karno.
Sekretaris DPK GMNI Unhas, Qadri, menegaskan bahwa mahasiswa tidak bisa hanya bergerak di luar kampus tanpa menyentuh hulu keilmuan.
Menurutnya, organisasi ekstra harus berani duduk satu meja dengan perguruan tinggi untuk melahirkan gagasan yang terukur dan berdampak.
“Sebagai kaum marhaen, maka GMNI Unhas harus berkontribusi nyata baik di bidang akademis dan pengabdian ke masyarakat,” ucap Qadri saat ditemui di Makassar, Selasa (8/9/2026) siang.
Ia menyebut penelitian dan pengabdian bukan sekadar program seremonial, melainkan program strategis yang akan menjadi ruh kerja-kerja GMNI Unhas ke depan.
Kader-kadernya saat ini tengah mempersiapkan sejumlah kajian yang relevan dengan persoalan masyarakat hari ini, mulai dari kemiskinan, ketimpangan akses teknologi, hingga pemberdayaan ekonomi kerakyatan.
Lebih jauh, Qadri menjelaskan GMNI Unhas tidak ingin risetnya berhenti di atas kertas. Timnya akan turun langsung meninjau sejumlah lokasi di Sulawesi Selatan yang dinilai potensial menjadi objek penelitian dan pengabdian.
Setiap lokasi akan dipetakan persoalannya, lalu dicarikan solusi konkret.
“Bukan riset saja, kita juga akan membuat solusi. Entah itu teknologi tepat guna atau skema peningkatan ekonomi masyarakat, semua itu adalah jalan revolusi Trisakti yang kita maksud,” tegas mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unhas ini.
Baginya, pengabdian tanpa solusi sama saja dengan wacana. Karena itu GMNI ingin memastikan setiap program yang dijalankan bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.
Ambisi GMNI Unhas tidak berhenti sampai di situ. Qadri menargetkan hasil-hasil riset kadernya harus naik kelas dan diakui secara akademik.
Ia menyebut pihaknya akan mencari “rumah jurnal” untuk mempublikasikan karya-karya tersebut, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Tentu kita akan mencari rumah jurnal untuk publikasi, dan kita berharap LPPM mau berkolaborasi,” jelas Qadri.
Targetnya pun tidak main-main. “Kalau bisa Sinta 2 sampai 4, kalau perlu kita akan maksimalkan terindeks Scopus,” sambungnya.
Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa GMNI ingin mematahkan stigma bahwa organisasi pergerakan hanya kuat di orasi, tapi lemah di literasi.
Ajakan kolaborasi ini menurut Qadri adalah bentuk tanggung jawab moral GMNI sebagai bagian dari civitas akademika Unhas.
“Memang GMNI UNHAS adalah organisasi ekstra, namun kadernya adalah mahasiswa Unhas,” tutur Qadri.
Dengan status itu, ia berharap LPPM Unhas dapat membuka ruang seluas-luasnya agar GMNI bisa terlibat dalam skema penelitian dan pengabdian resmi kampus.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi jembatan antara semangat pergerakan dengan tata kelola akademik yang profesional, sehingga lahir riset yang tidak hanya ilmiah, tapi juga membumi.
Jika usulan ini diterima, maka GMNI Unhas akan menjadi salah satu organisasi kemahasiswaan pertama di Unhas yang secara sistematis menggandeng LPPM untuk memproduksi karya ilmiah.
Langkah ini diyakini akan menjadi model baru bagaimana organisasi ekstra kampus bisa berkontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat, tanpa meninggalkan ideologi marhaenisme yang menjadi ruh perjuangannya.
![]()
Penulis : Rahmat Lamada/Maxi Sondakh
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan