BARITO TIMUR, MNP – Katanya Bartim Expo adalah pesta rakyat, ajang pamer segala potensi daerah. Tapi kenyataannya, buat para musisi lokal yang darahnya memang mengalir dari tanah ini, ikut tampil di Bartim Expo rasanya bukan sekadar bawa gitar dan nyanyi.
Rasanya kayak harus ikut lomba jadi “agen rahasia” atau “juru lobi berprestasi”! Harus pandai merayu, harus tahu pintu mana yang harus diketuk, sampai bolak-balik sana-sini seolah sedang memohon sedekah, padahal cuma minta izin tampil sebentar tanpa minta bayaran. Lucu, tapi kalau dipikir-pikir bikin geli sekaligus miris.
Disatu sisi mereka harus pontang-panting cari tahu siapa yang harus ditemui, kapan waktunya pas, sampai takut salah bicara dan pintu mana yang harus diketuk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara mereka memiliki potensi, tidak sekedar tampil biasa namun sanggup menjadi Band pengiring artis atau backup band dan diantara lagu-lagu mereka adalah napas daerah, irama yang tumbuh dari tanah sendiri.
Tapi di sisi lain, panggung yang sama sudah terisi rapi, seolah tempat itu memang sudah disiapkan khusus untuk orang tertentu.
Belum lagi kabar yang berhembus, bahkan setingkat pejabat pun harus melobi panitia agar bisa berpartisipasi tampil di panggung hiburan. Sungguh sangat miris.
Kita jadi bertanya-tanya sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal: ke mana perginya upaya membina dan mengakomodasi putra-putri daerah? Bukankah mereka seharusnya menjadi bintang utama, bukan tamu yang harus memohon izin masuk ke rumah sendiri?
Kondisi ini memancing aneka dugaan, mulai dari faktor A sampai Z. Ada yang bilang mungkin karena prosedurnya berbelit-belit sampai tak terlihat ujungnya.
Ada yang menduga karena masih ada anggapan “orang luar lebih bagus daripada kita sendiri”. Ada juga yang menyindir mungkin karena jalur kenalan. Atau jangan-jangan faktor D: “siapa cepat dia dapat”, padahal yang “cepat” belum tentu yang paling tepat.
Tentu saja boleh menghadirkan musisi dari luar untuk meramaikan suasana. Tapi jangan sampai anak kandung sendiri dipinggirkan dan harus berjuang setengah mati hanya untuk sekadar menampilkan apa yang mereka miliki. Kalau begini caranya, siapa yang tidak geleng-geleng kepala?.
Semoga kedepannya ada evaluasi menyeluruh dan pintu panggung Barito Timur Expo lebih terbuka lebar tanpa harus lewat lorong lobi yang bikin lelah hati dan pikiran.
![]()
Penulis : Adi Suseno
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan