BOGOR, MNP – Aliansi UMKM Bogor menggelar aksi di depan bank BRI KCP Sindang Barang, Jalan Letjen Ibrahim Ajie Kecamatan Bogor Barat. Mereka mendesak penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar tidak dipersulit, pada Jum’at (02/10/2026).
Koordinator Aksi Aliansi UMKM, Soleh Hadi, yang memimpin langsung aksi tersebut, mengatakan ke tim media ini, ada praktik pengalihan kredit, yang merugikan pelaku usaha kecil (UMKM).
“Tuntutan kami sama seperti kemarin. Kami mendesak pihak Bank pemerintah seperti BRI ini, supaya mereka tidak mempersulit penyaluran KUR, sebagai regulator program kebijakan dari pemerintah Kita,” ujar Soleh Hadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Soleh mengaku pernah menjadi korban Bank. Dia menyebutkan pengajuan KUR miliknya dipersulit, dan malah dialihkan oleh pihak Bank ke Kupedes.
“Dulu saya pernah mau ambil KUR dipersulit, lalu dialihkan Bank menjadi Kupedes (Kredit Usaha Pedesaan),” ungkapnya.
Menurut Soleh, bunga Kupedes sangat tinggi. Ia menyebut bunganya tadi mencapai 22% per tahun dengan sistem bunganya yang majemuk.
“Dalam Kupedes itu Pak, bunganya sangat tinggi, 22% setahun dan dengan bunga majemuk. Gede banget lah pokoknya!” jelasnya.
Dia memberi simulasi, jika meminjam Rp 65 Juta selama 60 bulan. Cicilan bulan pertamanya Rp 600 ribu cicilan pokok dan Rp 1,1 Juta itu bayar bunganya.
“Artinya kalau kita nutup sebelum jatuh temponya, contoh baru setahun kita tutup, hutang pinjaman pokoknya itu baru kecicil sedikit,” jelasnya.
Soleh mempertanyakan alasan Bank memberikan Kupedes kepada UMKM. Padahal itu, menurutnya lagi, platform KUR UMKM dari pemerintah Kita itu masih banyak saldonya.
“Kenapa Usaha Kecil seperti Kami ini dikasih Kupedes ? Sedangkan di program KUR, Anggaran Pemerintah saja masih silva, masih besar saldo. Karena anggaran untuk KUR masih banyak yang belum tersalurkan,” ujar Soleh.
Ia menyinggung arahan dari Presiden Prabowo. Presiden meminta Bank tidak terus menerus buat – buat peraturan internal, yang dapat mempersulit dinamika program KUR.
“Pak Prabowo pun bilang, jangan bikin aturan lagi, jangan bikin aturan yang bersifat internal terus. Ini malah dipersulit,” ujarnya.
Soleh membandingkan agunan dari kedua jenis kredit tersebut. Kupedes yang bunganya tinggi itu justru meminta jaminan AJB tanah dan bangunan miliknya.
“Saya yang Kupedes saja pakai jaminan AJB. Nah, KUR itu enggak dimintai ajaminan,” ungkapnya.
Dia pun membandingkan besaran bunga. Antara KUR yang hanya 6% per tahun, dengan Kupedes yang 22% per tahunnya.
“Bunganya selangit. KUR cuma 6% setahun, Bang. Artinya kalau Kita pinjam Rp 100 Juta, bunganya cuma Rp 6 Juta setahun. Kalau Kupedes Rp 100 Juta, bunganya itu Rp 22 juta setahun. Kayak Kita kredit motor Bang, kayak leasing gitu,” paparnya.
Dampaknya, papar Soleh, masih banyak kan warga Bogor (yang tidak paham hal tersebut : red), hingga mereka gagal mendapat pinjaman KUR, kemudian pelariannya Bank Keliling, Bank Emok dan lain-lain.
“Banyak masyarakat Kita di Bogor ini, masih belum tahu. Mau pinjam modal dari program KUR, tetapi karena tidak tahu proses dan caranya, mereka jadi pesimis dan meng-klaim, nggak bisa lah, susah lah hingga akhirnya mereka nyerah, lalu pinjam Bank Berjanji alias Bank Emok hingga Bank Keliling alias Rentenir,” ujar Soleh.
Sementara itu Pimpinan Bank BRI-KCP Sindang Barang, saat ditemui dikantornya, belum dapat dimintai keterangannya, malah beralasan sedang sibuk menerima tamu, tapi demi keberimbangan substansi pemberitaan, redaksi Kami membuka ruang seluas-luasnya untuk memberikan hak jawab dari pihak terkait.
![]()
Penulis : Asep Didi/Tim
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan