TASIKMALAYA, MNP – Intensitas hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Tasikmalaya dalam beberapa hari terakhir memicu serangkaian bencana hidrometeorologi.
Sedikitnya 16 desa yang tersebar di enam kecamatan dilaporkan terdampak tanah longsor, mulai dari material tanah yang menutup akses jalan, kerusakan rumah warga, hingga amblasnya sejumlah infrastruktur.
Kondisi tersebut mengakibatkan aktivitas masyarakat terganggu, terutama pada jalur penghubung antardesa dan antarkecamatan. Sejumlah akses transportasi bahkan sempat tidak dapat dilalui kendaraan akibat tertimbun material longsoran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin, menyampaikan bahwa hujan yang turun selama beberapa hari terakhir menjadi salah satu pemicu terjadinya longsor di sejumlah wilayah. Bahkan, beberapa ruas jalan penghubung yang sebelumnya baru selesai diaspal turut terdampak bencana.
Menurutnya, kondisi geografis Kabupaten Tasikmalaya yang memiliki banyak kawasan perbukitan dan tebing dengan kontur tanah labil perlu mendapat perhatian serius, khususnya ketika memasuki musim penghujan.
Cecep mengingatkan para kepala desa dan camat agar meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan longsor diminta tidak menganggap remeh hujan dengan intensitas ringan sekalipun, karena kondisi tanah yang labil berpotensi memicu pergerakan tanah.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Roni AKS, menjelaskan bahwa sebaran longsor terjadi di sejumlah wilayah, terutama kawasan selatan Kabupaten Tasikmalaya.
Adapun desa yang dilaporkan terdampak meliputi Desa Bojonggambir, Wandasari, Bojongkapol, Campakasari, Padakamulyan, Mangkonjaya, Desa Bojongsari, Cikuya, Cintabodas, Jatiwaras, Sukawangun, Cikukulu, Serang, Tenjowaringin, serta Mulyasari.
Dampak longsor tidak hanya menutup badan jalan, tetapi juga mengakibatkan kerusakan pada sejumlah rumah warga dan mengganggu akses penghubung antar kawasan.
PBD bersama unsur TNI, Polri, Dinas PUPR, pemadam kebakaran, serta masyarakat melakukan koordinasi dan penanganan di lokasi terdampak. Upaya pembersihan material longsor dilakukan agar akses transportasi yang terganggu dapat kembali digunakan.
Meski dalam rangkaian kejadian tersebut tidak dilaporkan adanya korban jiwa, kondisi ini tetap menjadi peringatan bagi masyarakat maupun pemerintah setempat untuk meningkatkan kewaspadaan.
Memasuki November 2026, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi perlu diantisipasi. Pemerintah desa dan kecamatan diharapkan aktif melaporkan perkembangan situasi kepada BPBD agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Bencana longsor yang terjadi di 16 desa tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bukan hanya diperlukan ketika bencana sudah terjadi, tetapi juga harus dibangun melalui langkah pencegahan, pemantauan kawasan rawan, dan kesiapan penanganan darurat.
![]()
Penulis : Soni
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan