TASIKMALAYA, MNP — Sebanyak 37 peserta tampil anggun dalam Pasanggiri Pinton Anggon Kabaya Sunda Sinjang Batik Tasikan yang digelar di Bale Binangkit, Mandalawangi Hotel, Kota Tasikmalaya, Minggu (20/9/2026).
Mengenakan kebaya formal yang dipadukan dengan sinjang batik khas Tasikmalaya, para peserta dari berbagai kelompok usia tampil di hadapan dewan juri dan ratusan penonton.
Mereka tidak sekadar mempertontonkan busana, tetapi membawa pesan tentang pentingnya menjaga identitas budaya lokal agar tidak tergerus perkembangan tren fashion modern.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan yang diinisiasi Pasundan Istri (PASI) Kota Tasikmalaya tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan tradisi dengan kebutuhan zaman.
Kebaya dan batik Tasik didorong tidak berhenti sebagai simbol dalam acara seremonial, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, khususnya generasi muda.
Pasanggiri tersebut membagi peserta ke dalam tiga kategori usia, yakni 16–30 tahun, 30–55 tahun, serta 60 tahun ke atas. Pembagian kategori ini sekaligus menunjukkan bahwa kebaya dan batik tidak mengenal batas generasi.
Kehadiran peserta lintas usia menjadi salah satu gambaran bahwa pelestarian budaya membutuhkan kesinambungan. Tradisi tidak cukup hanya dikenang, tetapi perlu terus digunakan, dikenalkan, dan dikembangkan agar tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candra Negara, yang hadir dalam kegiatan tersebut memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan pasanggiri.
Menurutnya, kegiatan semacam ini memiliki nilai strategis dalam memperkenalkan batik khas Tasikmalaya kepada generasi muda.
“Acara seperti ini sangat positif dan harus terus dilestarikan. Ini salah satu cara mengenalkan batik khas Tasikmalaya kepada generasi muda agar mereka cinta dan bangga memakai produk daerah sendiri,” ujar Diky.
Namun, Diky juga mengakui adanya keterbatasan fiskal Pemerintah Kota Tasikmalaya sehingga dukungan dalam bentuk anggaran terhadap berbagai kegiatan masyarakat belum dapat dilakukan secara maksimal.
“Jujur saja, dengan kondisi fiskal saat ini pemerintah belum bisa maksimal membantu anggaran. Minimal kita bisa hadir sebagai bentuk support dan motivasi terhadap kegiatan-kegiatan yang diadakan masyarakat,” katanya.
Menurutnya, keterbatasan anggaran tidak semestinya menghentikan kreativitas masyarakat dalam menjaga dan mengembangkan seni budaya daerah.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada PASI dan seluruh masyarakat yang masih konsisten menghidupkan seni budaya di Kota Tasikmalaya.
Ketua PASI Kota Tasikmalaya, Hj. Elin Herlina, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas pengenalan kebaya dan batik khas Tasikmalaya sekaligus mendorong regenerasi pelestari budaya.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar mempertahankan keberadaan batik Tasik, tetapi bagaimana membuat batik tersebut tetap relevan dan diminati generasi muda.
“Kami ingin batik Tasik tidak hanya dikenal sebagai oleh-oleh, tapi juga bisa menjadi busana yang dipakai sehari-hari oleh anak muda. Makanya kami gelar pasanggiri ini,” jelas Elin.
Ia berharap masyarakat semakin mengenal beragam motif dan filosofi batik Tasikmalaya serta memiliki kebanggaan untuk menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Elin juga menyebut Kota Tasikmalaya pernah memperoleh Anugerah Ibu Bangsa pada 2023 sebagai penghargaan atas analisis telisik batik Kota Tasikmalaya.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi salah satu penanda bahwa batik Tasik memiliki nilai sejarah dan budaya yang patut terus dikembangkan.
Sementara itu, Wakil Ketua Dekranasda Kota Tasikmalaya, Rani Permayani, menyoroti tantangan lain dalam regenerasi pengguna batik.
Menurutnya, sebagian anak muda masih memandang batik sebagai pakaian yang identik dengan acara formal dan dianggap kurang sesuai dengan gaya berpakaian generasi sekarang.
Karena itu, inovasi desain dinilai penting agar batik tidak kehilangan identitas, tetapi sekaligus mampu mengikuti perkembangan selera pasar.
“Anak muda sekarang ingin tampil modis. Jadi batik Tasik kita buat lebih kekinian, dipadu dengan model streetwear, crop top kebaya, dan lain-lain, sehingga mereka tidak malu memakainya untuk nongkrong atau ke kampus,” ungkap Rani.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti mempertahankan bentuk lama secara kaku. Justru, keberlangsungan budaya membutuhkan ruang inovasi agar nilai tradisional dapat beradaptasi tanpa kehilangan karakter dasarnya.
Pasanggiri Pinton Anggon Kabaya Sunda Sinjang Batik Tasikan akhirnya bukan sekadar panggung peragaan busana.
Di balik kemeriahan catwalk, terselip pekerjaan yang jauh lebih besar: bagaimana memastikan kebaya dan batik Tasik tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap hidup dan digunakan oleh generasi yang akan datang.
Sebab, budaya akan sulit bertahan apabila hanya dipajang dan diperingati. Ia membutuhkan pemakai, pelaku, inovator, sekaligus generasi penerus yang merasa bahwa budaya daerah merupakan bagian dari kehidupan mereka sendiri.
![]()
Penulis : Alex
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan