RTH Tamiang Layang Jadi “Taman Bahaya”, Fasilitas Bermain Anak Rusak Parah, Warga: Kemana Anggaran Perawatan?

Selasa, 30 Juni 2026 - 10:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BARITO TIMUR, MNP – Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tamiang Layang, yang seharusnya menjadi paru-paru kota dan pusat aktivitas rekreasi warga di jantung ibu kota Kabupaten Barito Timur, kini berubah wajah menjadi kawasan yang memprihatinkan.

Alih-alih menjadi tempat yang aman dan nyaman, fasilitas di lokasi ini—khususnya area bermain anak—ternyata berada dalam kondisi rusak berat dan membahayakan keselamatan pengunjung.

Tim Investigasi MNP melakukan peninjauan langsung ke lapangan untuk memverifikasi keluhan warga. Hasilnya, apa yang disampaikan masyarakat sepenuhnya benar.

Peralatan bermain yang seharusnya menjadi sarana edukasi dan hiburan bagi anak-anak, kini berkarat, patah, dan tidak layak pakai.

Setiap ayunan atau perosotan yang dipaksa digunakan justru berpotensi menimbulkan cedera serius, mengubah fungsi taman dari tempat bersenang-senang menjadi zona bahaya.

Fungsi Ganda yang Terabaikan

RTH Tamiang Layang dirancang sebagai multifungsi. Selain area bermain anak, ruang ini juga menopang aktivitas olahraga seperti futsal, basket, bulu tangkis, menembak, hingga juggling.

Namun, kerusakan fatal pada area bermain anak menjadi titik kritis yang paling mencolok. Ini bukan sekadar masalah estetika, melainkan kelalaian dalam pemeliharaan aset publik yang berdampak langsung pada keselamatan generasi muda.

Misteri Anggaran dan Akuntabilitas Pengelola

Kondisi memprihatinkan ini memunculkan pertanyaan tajam yang harus dijawab oleh pihak berwenang: Siapa yang bertanggung jawab atas pengelolaan RTH ini, dan kemana larinya biaya perawatan?

Sebagai infrastruktur publik yang menggunakan anggaran daerah, RTH wajib memiliki pos pemeliharaan rutin. Fakta bahwa fasilitas bermain dibiarkan rusak hingga tingkat berbahaya mengindikasikan dua kemungkinan buruk:

1. Tidak Ada Anggaran Perawatan: Pengelola gagal mengalokasikan dana pemeliharaan dalam perencanaan tahunan.

2. Penggelapan atau Penyalahgunaan Dana: Anggaran perawatan sudah dialokasikan, namun tidak terealisasi di lapangan karena kebocoran atau korupsi.

Warga Tamiang Layang, yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan, menegaskan bahwa kondisi ini telah berlangsung cukup lama tanpa ada tindakan nyata.

“Kami bayar pajak dan retribusi daerah, tapi taman yang kami gunakan malah jadi tempat berbahaya. Siapa yang harus bertanggung jawab?” tanya warga tersebut.

Desakan Transparansi Total

Tim Investigasi MNP mendesak Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPR-Perkim) atau instansi pengelola RTH terkait untuk segera:

1.Melakukan perbaikan darurat pada seluruh fasilitas bermain yang rusak demi keselamatan anak-anak.

2.Membuka data transparan mengenai alokasi dan realisasi anggaran pemeliharaan RTH Tamiang Layang selama tiga tahun terakhir.

3.Menetapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) inspeksi berkala agar kerusakan dapat terdeteksi sejak dini.

RTH adalah hak konstitusional warga kota. Membiarkannya rusak sama dengan merampas hak tersebut. Publik Barito Timur menunggu penjelasan resmi, bukan alasan birokrasi.

Jika ada indikasi penyimpangan dalam pengelolaan dana perawatan, aparat penegak hukum harus segera turun tangan.

Loading

Penulis : Tim Investigasi Yulius Yartono/Adi Suseno

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Warga Linggasari Puspasari Gelar Peringatan Maulid Nabi SAW di Masjid Al-Barokah
PB Manguntur Gelar Turnamen Bulu Tangkis Anda Putra, Semarakkan HUT RI ke-81
Buka Pengabdian Masyarakat UIN Alauddin, Bupati Jeneponto Dorong Penguatan Kompetensi Guru
Bupati Jeneponto Buka Pendistribusian KKS Program PKH dan Sembako Tahap II Tahun 2026
Polres Garut dan Forkopimda Garut Tegaskan Komitmen Bersama Tolak Narkoba, Miras, dan OKT
Dandim 0611/Garut Hadiri Deklarasi Bersama Anti Penyalahgunaan Narkoba, Miras dan Obat Keras Tertentu
Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II 2026 di Sukajadi, Hasil Diperkirakan 600 Kilogram
Menjelang Pensiun, Kepala SDN 1 Urug Tasikmalaya Suarakan Pelestarian Aksara Sunda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 20:03 WIB

Warga Linggasari Puspasari Gelar Peringatan Maulid Nabi SAW di Masjid Al-Barokah

Kamis, 27 Agustus 2026 - 19:27 WIB

PB Manguntur Gelar Turnamen Bulu Tangkis Anda Putra, Semarakkan HUT RI ke-81

Kamis, 27 Agustus 2026 - 17:56 WIB

Buka Pengabdian Masyarakat UIN Alauddin, Bupati Jeneponto Dorong Penguatan Kompetensi Guru

Kamis, 27 Agustus 2026 - 17:43 WIB

Bupati Jeneponto Buka Pendistribusian KKS Program PKH dan Sembako Tahap II Tahun 2026

Kamis, 27 Agustus 2026 - 17:15 WIB

Polres Garut dan Forkopimda Garut Tegaskan Komitmen Bersama Tolak Narkoba, Miras, dan OKT

Berita Terbaru