BOGOR, MNP – Ketika Negara terkesan lamban tangani kondisi jalanan yang berlubang, Pemuda memilih bergerak. Bukan berteriak di media sosial, bukan pula beraksi menciptakan kegaduhan dengan aksi demonstrasi, tetapi proaktif bergotong royong, dengan patungan untuk menambal lubang di jalanan itu.
Begitulah yang dilakukan para Pemuda Bogor Barat di wilayah Jasinga, untuk Jalan Nasional Bogor – Leuwi Liang – Jasinga, pada Sabtu (21/2/2026) kemarin.
Aksi nyata dan terpuji yang digerakkan Pemuda Forum Komunikasi Bumi Putra Bogor Barat itu, hanya satu bagian kecil dari sekian banyak aksi nyata mereka selama ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Inilah yang menjadi bukti Potret Getir tentang Koherensi Sosial, korelasi antara kewajiban Negara dan partisipasi rakyat yang semestinya mampu saling menguatkan, bukan saling menutup celah untuk bisa bersama-sama berbuat baik, demi kepentingan umum dan kemaslahatan ummat.
Dengan peralatan beserta material konstruksi serba seadanya itu, para pemuda tersebut menutupi lubang jalanan, dengan formulasi mortar manual swadaya di sekitar lokasi-lokasi jalan berlubang, secara mandiri.
Lubang jalan yang selama ini mengancam terhadap keselamatan nyawa para pengendara itu, khususnya para pemotor, berkat aksi mereka kini menjadi lebih aman dilintasi.
Kerusakan jalannya yang kerap memicu kecelakaan, juga diperparah minimnya Penerangan Jalan Umum, menjadi jebakan maut bagi para pengendara, terlebih saat melintas malam hari.
Ruas jalan tersebut adalah akses vital warga Jasinga dan sekitarnya, menuju ke sekolah-sekolah, ke rumah rumah sakit, pasar, hingga ke pusat layanan publik.
Baik bagi warga yang dari arah Jasinga, maupun yang ke arah Jasinga, jalan tersebutlah akses utama dan satu-satunya bagi para pengendara beragam moda transportasi.
Secara hukum, tanggung jawab itu jelas. UU Nomor 38 tahun 2004 tentang Jalan, menegaskan terkait perbaikan Jalan Nasional merupakan kewenangan pemerintah pusat melalui Ditjen Bina Marga dan Balai Pelaksana Jalan Nasional.
Namun berbeda faktanya di lapangan, warga menilai respons dari pihak terkait yang berwenang tersebut, belum sebanding dengan Urgensi Risikonya, yang kapan saja bisa merenggut nyawa para pengendara yang melintas di atasnya.
Karena itulah, menjelang hadirnya Ramadhan 1447 Hijriah ini, para pemuda di Bogor Barat mengadakan musyawarah bersamanya, bertujuan menyampaikan pesan moral edukatif, yang lebih mendalam bagi pihak terkait urusan infrastruktur yang lebih dari sekadar melakukan tambal sulam, terhadap jalan berlubang tersebut.
“Kalau para pemuda saja bisa patungan begini demi menutup lubang di jalanan, mengapa Umaro di Negara ini belum mau dan mampu untuk hadir sepenuhnya?,” tutur sang koordinator aksi tutup lubang jalan tersebut pada media ini.
Dirinya juga menegaskan, bahwa gerakan ini bukan suatu ekspresi kebencian, melainkan Sindiran Halus Edukatif.
“Ini bukan untuk menyerang, tetapi Edukasi pengingat bagi Kita semua, tentang betapa pentingnya Koherensi Sosial, antara para Pemangku Kebijakan Negara dengan rakyatnya.” tegasnya.
Bagi mereka, infrastruktur bukan sekadar Proyek dan Angka Serapan Anggaran. Tapi harus lebih menunjukkan kehadiran wajah itikad baik dari para Umaro pemangku kebijakan Negara, termasuk di Kabupaten Bogor ini.
Yang tidak cukup hanya mengatas namakan kepentingan rakyat, tetapi tidak mau serta tidak mampu mewujudkan kepentingan rakyat secara nyata, dan langsung dapat dirasakan faedahnya oleh rakyat yang dimaksudkan.
Ketika warga Negara harus menambalkan sendiri jalan Nasional, pertanyaannya pun bukan lagi siapa yang salah, melainkan seberapa utuh Komitmen Sosial Kita sebagai sebuah Bangsa di Satu Negara yang sama.
Para pemuda mendesak perbaikan di jalan Nasional secara menyeluruh, bukan lagi sekedar tambal sulam sementara. Sebab yang dipertaruhkan nyawa para pengguna jalannya, bukan hanya kenyamanan semu dalam berkendara, melain kan betapa amat berharganya nyawa Manusia.
![]()
Penulis : Asep Didi
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan