TASIKMALAYA, MNP – Tradisi munggahan merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Sunda dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Secara filosofis, munggahan dimaknai sebagai proses “naik” atau meningkatkan kualitas diri, baik secara spiritual maupun sosial.
Momen ini menjadi sarana refleksi, memperbaiki hubungan antar sesama, serta mempersiapkan diri agar dapat menjalankan ibadah puasa dengan hati yang bersih dan penuh keikhlasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam praktiknya, munggahan sering diisi dengan kegiatan berkumpul bersama keluarga, kerabat, maupun masyarakat sekitar.
Mereka saling bersilaturahmi, mempererat tali persaudaraan, serta saling memaafkan atas kesalahan yang pernah terjadi.
Nilai utama yang terkandung dalam tradisi ini adalah kebersamaan, kesederhanaan, dan kehangatan emosional yang menjadi bekal penting dalam menjalani bulan Ramadan.
Namun, seiring perkembangan zaman, makna munggahan mulai mengalami pergeseran. Sebagian masyarakat justru memaknai tradisi ini sebagai ajang rekreasi berlebihan, seperti berpiknik ke tempat wisata, mengadakan pesta, atau mengonsumsi makanan secara berlebihan.
Praktik semacam ini berpotensi mengaburkan esensi munggahan yang seharusnya berfokus pada persiapan batin, bukan sekadar hiburan.
Fenomena tersebut juga dapat memicu kesenjangan sosial di tengah masyarakat. Aktivitas yang bersifat konsumtif dan berlebihan dapat menimbulkan rasa kurang nyaman atau kecemburuan sosial, terutama bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan ekonomi yang sama.
Hal ini tentu bertolak belakang dengan semangat kebersamaan dan kesederhanaan yang menjadi ruh dari munggahan itu sendiri.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk kembali memahami makna asli munggahan sebagai tradisi yang sarat nilai spiritual dan sosial.
Dengan menjaga kesederhanaan, memperkuat silaturahmi, serta memperbanyak introspeksi diri, munggahan dapat menjadi momentum yang bermakna dalam menyambut Ramadan, sekaligus memperkuat harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
![]()
Penulis : Arrie Haryadi
Editor : Redi Setiawan









Betul menyambut bulan suci ramadhan dengan prosesi yg sederhana tapi mempunyai nilai yang sangat tinggi,