Tasikmalaya, MNP – Kelompok Aktivis Black Block menggelar Aksi Teaterikal Baca Puisi dan Diskusi yang berlangsung di Ruang Bergembira Jalan Cieunteung Gede Kota Tasikmalaya, Minggu malam (04/05/2025).
Aksi Teaterikal yang diberi judul “Kesetaraan Pemerintah dengan Kebijakan yang Melenceng” yang berkisah tentang Ketidakadilan Pemerintah dalam mengemban jabatan.
Ihsan, yang menjadi narator aksi Teaterikal ini mengatakan, kisah ini terjadi di suatu negeri, bukan di Konoha, bukan juga di Wakanda tapi di Tasikmalaya yang notabenenya sejuta cerita dan problematika.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Naza, sebagai Pembaca Puisi menegaskan bahwa aroma anarki begitu kental dalam puisi-puisi Karya Rifki. Anarki di sini bukan semata-mata kekacauan, melainkan penolakan terhadap struktur otoritatif dan nilai-nilai sakral yang sudah dianggap ajeg.
“Dalam seni, ini menjadi pembebasan ekspresi, semacam kebebasan mutlak untuk tidak tunduk pada “aturan-aturan keindahan” yang telah ditetapkan,” kata Naza.
Dalam konteks “Nabi Kesengsaraan”, anarki diterjemahkan sebagai keberanian untuk menggugat, mempertanyakan hal-hal yang dianggap tabu, bahkan sakral, termasuk keyakinan sosial dan religius.
Rifki Syarani Fachry, penyair kelahiran Ciamis 1994, yang melaunching buku berjudul “Nabi Kesengsaraan” menyebut, karyanya bukan sekedar buku puisi, melainkan ruang dialog tentang agama, sosial, tubuh yang sakit, dan jiwa yang melawan.
“Saya juga menafsirkan setiap pembaca bebas menterjemahkan karya, karena puisi tidak seperti undang-undang, tidak harus logis,” ujarnya.
Dia menulis karena merasa tidak memiliki ruang bicara di masyarakat, dimana posisi penyair di masyarakat saat ini.
“Saya merasa seperti orang cacat yang tak punya lidah untuk bicara, maka saya menulis buka supaya masyarakat peka,” tegasnya.
Nampak hadir dalam acara tersebut, Pasar Tasik Gratis, Atas Dasar, Putik Perempuan Indonesia, BEM Fisip Unsil, Umtas, Cipasung dan yang lainnya.
![]()
Penulis : Dadan
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan