GARUT, MNP – Tiga dasawarsa lebih bukanlah waktu yang singkat untuk merawat sebuah ikatan persaudaraan yang kokoh.
Alumni Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut Angkatan XI, yang populer dengan nama SHABELAST, membuktikan kekokohan tersebut melalui pertemuan akbar bertajuk “Sanad Rasa” yang digelar di Kantor Aryajaya Summarecon Bandung pada Sabtu, 2 Mei 2026.
Mengusung tema “Ngalap Berkah, Ngerawat Ukhuwah: Sanad Rasa 32 Tahun”, acara ini menjadi titik balik bagi lulusan tahun 1994 untuk memperkuat kembali fondasi persaudaraan yang telah dibangun selama enam tahun masa pendidikan di pesantren.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu poin krusial dalam pertemuan ini adalah komitmen seluruh alumni untuk menanggalkan status sosial dan jabatan yang selama ini melekat dalam kehidupan profesional mereka.
Panitia menekankan bahwa dalam semangat “Sanad Rasa”, setiap individu kembali menjadi santri yang setara.
Ahmad Musthofa Al Maroghi selaku ketua angkatan menjelaskan bahwa momen ini adalah waktu untuk melepas semua atribut duniawi dan kembali menjadi santri yang dulu terbiasa makan bersama dalam satu wadah atau babarengan dina baskom.
Langkah ini diambil guna menyambung kembali sanad rasa yang mungkin sempat merenggang oleh jarak dan waktu, sekaligus menjadikan komunitas ini sebagai support system yang saling menguatkan.
Narasi “Sanad Rasa” ini diposisikan sebagai antitesis dari kegiatan reuni yang sekadar bersifat hura-hura.
SHABELAST ingin membuktikan bahwa silaturahmi yang terawat dengan baik merupakan aset sosial yang sangat besar untuk menghadapi berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks.
Oleh karena itu, pertemuan ini juga difungsikan sebagai wadah musyawarah untuk merumuskan aksi sosial nyata yang memberikan dampak langsung, baik bagi sesama alumni yang membutuhkan bantuan maupun kontribusi bagi almamater Pesantren Darul Arqam secara keseluruhan.
Dalam diskusi yang berlangsung, sejumlah tokoh alumni memberikan pandangan strategis mengenai pentingnya mentransformasi ukhuwah menjadi sesuatu yang produktif dan memiliki nilai ekonomi nyata.
Prof. Hilman Latief selaku Bendahara Umum Muhammadiyah menjelaskan bahwa rahasia bertahannya organisasi Muhammadiyah selama lebih dari satu abad adalah adanya “gula-gula” berupa Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), sebuah model yang menurutnya sangat patut ditiru oleh komunitas alumni.
Pandangan ini diperkuat oleh Dr. Andre Ikhsano, Rektor LSPR Institute, yang menegaskan bahwa silaturahmi yang kuat harus dijadikan modal utama untuk melahirkan hasil yang produktif.
Sejalan dengan upaya tersebut, Giri Fajar Wibawa selaku Managing Director Arya Jaya menawarkan model crowdfunding atau pendanaan bersama sebagai instrumen investasi awal bagi keluarga besar SHABELAST, mengingat bagi alumni di usia matang, peran sebagai investor adalah pilihan strategis dalam lingkaran bisnis.
Di sisi lain, Ustad Zaky Zarkasyi selaku Pengasuh Ponpes Saung Al Quran mengingatkan agar seluruh semangat kebersamaan ini tetap dilandasi oleh mentalitas memberi atau giving sebagai ciri utama dari ahli surga.
Semangat kebersamaan atau babarengan ini menjadi panggilan bagi para alumni untuk kembali “pulang” ke akar identitas mereka setelah 32 tahun melangkah keluar dari gerbang pesantren.
Kehadiran setiap kawan dipandang bukan sekadar pengisi kursi, melainkan bagian yang tak terpisahkan dari keutuhan persaudaraan.
Sebagaimana ditegaskan oleh panitia, tanpa kehadiran rekan-rekan atau dalam istilah lokal mun eweuh maneh, ukhuwah ini tidak akan pernah dirasakan utuh, sehingga setiap alumni diharapkan pulang dengan membawa berkah serta semangat baru untuk terus saling merangkul.
![]()
Penulis : Ahmad Sofwan









Tinggalkan Balasan