TASIKMALAYA, MNP — Momentum HUT ke-81 Palang Merah Indonesia (PMI) tidak sekadar diisi dengan kegiatan seremonial.
PMI Kota Tasikmalaya memanfaatkannya sebagai ruang edukasi sekaligus menguatkan kembali peran donor darah sukarela di tengah kebutuhan darah masyarakat yang terus berjalan.
Hal itu mengemuka dalam Talkshow Edukasi Kesehatan Mental dan Karakter Golongan Darah yang digelar PMI Kota Tasikmalaya di Aula Bapelitbangda Lantai 3, Rabu (16/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan tersebut turut menggandeng Bank Indonesia dalam menghadirkan edukasi kepada masyarakat, termasuk materi mengenai perlindungan konsumen.
Sementara PMI membawa isu kesehatan, donor darah, serta pengenalan karakter golongan darah sebagai bagian dari materi talkshow.
Peserta kegiatan berjumlah sekitar 150 orang, terdiri dari unsur dinas, satuan kerja, organisasi, Koordinator Keluarga Donor Darah (KDD), donor darah sukarela, hingga insan pers. Sekitar 50 orang turut mendukung kegiatan sebagai panitia dan undangan.
Ketua PMI Kota Tasikmalaya, Rahmat Kurnia, menegaskan bahwa kegiatan tersebut diarahkan bukan hanya untuk memperingati HUT PMI, tetapi juga menjaga kesinambungan gerakan donor darah sukarela.
“Kegiatan talkshow ini dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT Palang Merah Indonesia (PMI), khususnya di tingkat Kota Tasikmalaya. Tahun ini menjadi momentum penting karena PMI yang secara nasional berdiri pada 17 September 1945 telah berusia 81 tahun,” ujar Rahmat.
Menurutnya, keberadaan KDD di berbagai instansi memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu pintu untuk menjaga keberlangsungan donor darah sukarela.
Para anggota KDD diharapkan tidak hanya menjadi penghubung, tetapi juga mampu mempertahankan partisipasi para pendonor yang selama ini rutin menyumbangkan darah.
“Ini juga menjadi upaya untuk mempertahankan keberadaan para donor darah sukarela yang selama ini rutin mendonorkan darah. Kadang-kadang ada yang mulai berhenti atau vakum, sehingga perlu kembali diingatkan dan diberikan motivasi. Di sisi lain, kami juga ingin menambah jumlah donor darah sukarela,” katanya.
Rahmat mengungkapkan, kebutuhan darah di Kota Tasikmalaya secara ideal berada di kisaran 2.800 kantong per bulan. Jika dihitung berdasarkan 30 hari, kebutuhan tersebut setara sekitar 90 kantong per hari.
Kebutuhan itu dilayani melalui jejaring pelayanan darah, termasuk UTD PMI Kota Tasikmalaya, UTD PMI Kabupaten Tasikmalaya, serta pelayanan darah di rumah sakit.
Di tingkat Kota Tasikmalaya, PMI juga mendistribusikan darah sesuai kebutuhan rumah sakit dan pasien. Rahmat menyebut distribusi PMI Kota Tasikmalaya rata-rata berada pada kisaran 35–40 kantong per hari, dengan jumlah yang dapat berubah mengikuti kebutuhan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa keberadaan donor darah sukarela bukan sekadar kegiatan sosial sesaat. Kontinuitas donor menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan darah ketika masyarakat membutuhkan.
Selain persoalan ketersediaan, PMI juga menaruh perhatian pada keamanan dan kualitas darah hingga sampai kepada penerima.
Rahmat menjelaskan, darah yang telah diproses dan akan didistribusikan ke rumah sakit harus dijaga kondisinya selama perjalanan. Karena itu, PMI Kota Tasikmalaya memiliki layanan pengantaran darah menggunakan kendaraan khusus dengan fasilitas pengendalian suhu.
“Darah yang didistribusikan ke rumah sakit harus aman dan kualitasnya terjaga. Karena itu, temperatur darah selama proses pengiriman harus tetap terjaga. Kami menggunakan cool box dan layanan pengantaran agar darah yang dikirim tetap dalam kondisi sesuai ketentuan hingga diterima rumah sakit,” jelasnya.
Menurut Rahmat, aspek tersebut menjadi bagian penting dari pelayanan PMI. Sebab, tugas PMI tidak berhenti pada proses donor dan penyediaan darah, tetapi juga memastikan darah dapat didistribusikan secara aman kepada fasilitas pelayanan kesehatan yang membutuhkan.
Sementara itu, materi mengenai karakter golongan darah dikemas sebagai edukasi yang diharapkan dapat menambah pengetahuan peserta.
Rahmat mengatakan, pengenalan karakter golongan darah A, B, AB, dan O diharapkan dapat menjadi pengetahuan populer yang mudah dipahami masyarakat dan menjadi bahan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, materi tersebut lebih ditempatkan sebagai edukasi populer, bukan sebagai dasar untuk menentukan kepribadian seseorang secara mutlak.
“Dengan adanya pemahaman mengenai karakter golongan darah, diharapkan peserta mendapatkan pengetahuan yang populer dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Para peserta bisa mengenal berbagai karakter yang dikaitkan dengan golongan darah A, B, AB maupun O sebagai bagian dari materi talkshow,” tuturnya.
Bagi PMI Kota Tasikmalaya, momentum HUT ke-81 menjadi kesempatan untuk memperluas pesan kemanusiaan. Di satu sisi, masyarakat diajak memahami berbagai informasi kesehatan dan edukasi; di sisi lain, kesadaran untuk menjadi donor darah sukarela terus didorong.
Rahmat berharap kegiatan tersebut dapat memberikan dampak berkelanjutan, terutama dalam menjaga eksistensi para pendonor lama sekaligus membuka ruang bagi munculnya pendonor-pendonor baru.
“Momentum HUT PMI ini jangan hanya menjadi kegiatan seremonial. Kami ingin menjadikannya sebagai sarana edukasi sekaligus memperkuat semangat kemanusiaan. Para donor darah sukarela harus terus dipertahankan, sementara masyarakat yang belum menjadi donor juga diharapkan tergerak untuk menjadi donor darah sukarela,” pungkasnya.
![]()
Penulis : Alex
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan