TASIKMALAYA, MNP — Berakhirnya rangkaian kegiatan Tasik Oktober Festival (TOF) menjadi momentum bagi penyelenggara untuk menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sekaligus melakukan evaluasi demi peningkatan kualitas pelaksanaan kegiatan pada masa mendatang.
Penanggung Jawab Kegiatan TOF, H. Rana Nur Alamsyah, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Kota Tasikmalaya, seluruh panitia, para pelaku usaha, komunitas, peserta, relawan, masyarakat, serta berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut hingga seluruh rangkaiannya berakhir.
Menurut H. Rana, terselenggaranya TOF merupakan hasil kerja kolektif yang membutuhkan dukungan, koordinasi, dan partisipasi berbagai unsur. Ia menilai kolaborasi tersebut menjadi modal penting dalam menghadirkan kegiatan yang tidak hanya menjadi ruang hiburan dan interaksi masyarakat, tetapi juga berpotensi mendukung aktivitas ekonomi serta memperkenalkan potensi daerah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Atas nama penanggung jawab dan seluruh panitia, saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kota Tasikmalaya termasuk kepada pihak UPTD Dadaha yang sudah memfasilitasi tempat untuk kegiatan tersebut dan seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, baik berupa tenaga, pikiran, waktu, maupun sumber daya lainnya. TOF dapat terlaksana karena adanya kebersamaan dan kontribusi dari banyak pihak,” ujar H. Rana Nur Alamsyah.
Ia menegaskan, berakhirnya kegiatan bukan berarti berakhir pula semangat kolaborasi yang telah dibangun. Sebaliknya, pengalaman selama penyelenggaraan TOF harus menjadi pijakan untuk memperbaiki berbagai aspek pelaksanaan agar kegiatan serupa pada masa mendatang dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Sementara itu, Ketua Pelaksana TOF, Jajang Yusuf Hidayat, mengungkapkan bahwa selama rangkaian kegiatan berlangsung, terdapat 10 kegiatan besar yang telah dilaksanakan. Secara umum, seluruh rangkaian tersebut dapat berjalan dengan lancar berkat kerja sama panitia dan dukungan berbagai pihak.
Menurut Jajang, antusiasme warga masyarakat juga menjadi salah satu catatan positif dalam pelaksanaan TOF. Partisipasi masyarakat menunjukkan adanya ruang bagi kegiatan publik untuk mempertemukan berbagai kalangan, menggerakkan aktivitas, serta membangun interaksi antara penyelenggara, pelaku usaha, komunitas, dan pengunjung
“Alhamdulillah, selama pelaksanaan TOF terdapat 10 kegiatan besar yang kami selenggarakan dan secara umum dapat berjalan dengan lancar. Kami juga melihat antusiasme masyarakat cukup baik. Hal ini tentu menjadi penyemangat bagi kami untuk terus melakukan pembenahan dan mempersiapkan penyelenggaraan yang lebih baik ke depannya,” ujar Jajang Yusuf Hidayat.
Ia menyampaikan bahwa capaian tersebut tidak terlepas dari peran seluruh unsur yang terlibat, mulai dari panitia dan pihak pendukung hingga masyarakat yang turut meramaikan kegiatan. Karena itu, apresiasi patut diberikan kepada semua pihak yang telah ikut menjaga keberlangsungan rangkaian acara.
Meski demikian, Jajang menilai kelancaran pelaksanaan dan tingginya antusiasme masyarakat tetap perlu diimbangi dengan evaluasi yang objektif. Setiap kegiatan berskala besar memiliki tantangan tersendiri, terutama menyangkut pengaturan teknis, kenyamanan pengunjung, ketertiban kawasan, kebersihan, serta aktivitas warga yang berlangsung di sekitar lokasi.
“Kami berharap ke depan masih diberikan kesempatan untuk kembali menyelenggarakan kegiatan TOF dengan persiapan yang lebih matang, koordinasi yang lebih kuat, serta kualitas pelaksanaan yang jauh lebih baik. Pengalaman tahun ini menjadi bahan pembelajaran agar kekurangan yang masih ada dapat diperbaiki dan manfaat kegiatan bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” tambahnya.
Di balik rangkaian kegiatan yang telah terlaksana, H. Rana Nur Alamsyah juga menyadari bahwa penyelenggaraan acara di ruang publik berpotensi menimbulkan dampak terhadap aktivitas masyarakat sekitar. Oleh karena itu, ia menyampaikan permohonan maaf apabila selama TOF berlangsung masih terdapat kekurangan atau hal-hal yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga.
“Atas nama penyelenggara, kami memohon maaf sebesar-besarnya apabila selama kegiatan berlangsung terdapat kekurangan, baik dalam pengaturan teknis, lalu lintas, kebersihan, kebisingan, pelayanan, maupun hal lainnya yang dirasakan mengganggu kenyamanan masyarakat. Kami menghormati setiap masukan dan memahami bahwa kegiatan publik harus tetap memperhatikan hak serta kepentingan warga sekitar,” ungkapnya.
Menurut H. Rana, permohonan maaf bukan sekadar formalitas setelah kegiatan berakhir, melainkan bagian dari tanggung jawab penyelenggara kepada masyarakat. Keberhasilan sebuah kegiatan, katanya, tidak cukup diukur dari banyaknya acara yang terlaksana atau antusiasme pengunjung, tetapi juga dari kemampuan penyelenggara mengelola dampak, menjaga ketertiban, dan membangun komunikasi yang baik dengan lingkungan sekitar.
Ia menegaskan bahwa kritik dan saran masyarakat harus ditempatkan sebagai bahan evaluasi yang konstruktif. Setiap masukan menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi hal-hal yang perlu dipertahankan, diperbaiki, maupun ditingkatkan dalam perencanaan kegiatan berikutnya.
“Kami terbuka terhadap kritik dan saran. Kami tidak ingin hanya melihat apa yang sudah berjalan baik, tetapi juga harus berani mengevaluasi kekurangan. Harapan kami, TOF ke depan dapat dipersiapkan lebih matang, lebih tertib, lebih nyaman, dan semakin memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegas H. Rana.
Selain evaluasi terhadap pelaksanaan acara, tanggung jawab penyelenggara juga mencakup penyelesaian seluruh tahapan pascakegiatan. Pembongkaran stan, tenda, dan perlengkapan, serta pembersihan dan penataan kembali area yang digunakan, menjadi bagian penting untuk memastikan kawasan tersebut dapat kembali dimanfaatkan masyarakat.
H. Rana menegaskan bahwa proses pascakegiatan harus tetap diperhatikan sebagai bagian dari keseluruhan tanggung jawab panitia. Penyelenggaraan yang baik bukan hanya terlihat ketika acara berlangsung, tetapi juga dari bagaimana penyelenggara menyelesaikan kewajibannya setelah kegiatan berakhir.
“Kami berkomitmen menyelesaikan proses pascakegiatan secara bertanggung jawab, termasuk pembongkaran perlengkapan, pembersihan, dan penataan kembali lokasi. Kami berharap kawasan yang digunakan dapat kembali dimanfaatkan masyarakat dengan nyaman dan tertib,” jelasnya.
Sejalan dengan itu, Jajang Yusuf Hidayat berharap pengalaman dari 10 kegiatan besar yang telah dilaksanakan dapat menjadi modal untuk menyusun konsep TOP berikutnya secara lebih terarah. Evaluasi, menurutnya, perlu dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya terhadap jalannya acara, melainkan juga terhadap efektivitas koordinasi, kesiapan teknis, pengelolaan kawasan, serta respons masyarakat.
Ia berharap dukungan Pemerintah Kota Tasikmalaya, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat dapat terus terjaga sehingga penyelenggaraan TOF pada masa mendatang memiliki kualitas yang semakin baik dan mampu menjangkau manfaat yang lebih luas.
H. Rana Nur Alamsyah dan Jajang Yusuf Hidayat pada prinsipnya berharap TOF dapat terus berkembang sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas, dan berbagai unsur lainnya. Namun, keberlanjutan kegiatan tersebut perlu disertai perencanaan yang realistis, koordinasi yang solid, serta perhatian terhadap kenyamanan dan kepentingan masyarakat.
Antusiasme pengunjung dan kelancaran pelaksanaan 10 kegiatan besar menjadi catatan positif. Pada saat yang sama, evaluasi tetap diperlukan agar penyelenggaraan berikutnya tidak hanya mempertahankan hal-hal yang telah berjalan baik, tetapi juga mampu memperbaiki kekurangan secara terukur.
Dengan demikian, TOF diharapkan tidak berhenti sebagai rangkaian acara tahunan semata, melainkan berkembang menjadi kegiatan yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat, mendorong aktivitas ekonomi, memperkuat kebersamaan, dan tetap mengedepankan ketertiban serta tanggung jawab sosial.
![]()
Penulis : Alex
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan