JAKARTA, MNP – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung bulan depan, dinamika bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin menghangat.
Salah satu nama yang banyak diperbincangkan adalah H. Gudfan Arif Ghofur atau yang akrab disapa Gus Gudfan.
Sejumlah pemberitaan media menyebutkan bahwa dukungan terhadap Bendahara Umum PBNU tersebut terus mengalir dari berbagai kalangan, mulai dari para kiai, pengurus wilayah (PWNU), pengurus cabang (PCNU), hingga aktivis Nahdlatul Ulama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka menilai Gus Gudfan sebagai sosok yang memiliki kapasitas untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut di era abad kedua NU.
Perhatian publik juga tertuju pada pandangan ulama kharismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) terhadap sosok Gus Gudfan.
Dalam salah satu pemberitaan media, Gus Baha dikutip menyampaikan ungkapan berbahasa Jawa, “Hla wong dia putune,” yang dipahami sebagai penegasan mengenai garis keturunan ulama yang dimiliki Gus Gudfan.
Dalam pemberitaan tersebut dijelaskan bahwa menurut pandangan Gus Baha, nasab bukan sekadar kebanggaan genealogis, melainkan amanah yang harus diwujudkan melalui akhlak, pengabdian, serta kemanfaatan bagi umat. Nilai-nilai itu disebut tercermin dalam perjalanan pengabdian Gus Gudfan selama ini.
Sementara itu, KH Muhammad Zaim Ahmad Ma’shoem juga memberikan penilaian positif terhadap Gus Gudfan.
Ia menyebut Gus Gudfan sebagai figur yang tumbuh dari tradisi pesantren sekaligus memiliki kemampuan menjawab tantangan zaman, terutama dalam upaya memperkuat kemandirian ekonomi umat.
Selain dikenal sebagai kader NU, Gus Gudfan juga memiliki latar belakang sebagai keturunan Wali Songo. Dari garis ayah, ia disebut merupakan keturunan ke-16 Sunan Drajat, sedangkan dari garis ibu berasal dari keturunan Sunan Giri.
Latar belakang tersebut dinilai membentuk karakter kepemimpinannya yang berpijak pada nilai-nilai keislaman dan tradisi pesantren.
Pendidikan yang ditempuh di Pesantren Manbaul Ma’arif Denanyar, serta pengamalannya dalam Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, disebut turut membentuk kematangan spiritual dan kehati-hatian dalam menjalankan amanah organisasi.
Di bidang profesional, Gus Gudfan memiliki pengalaman sebagai pengusaha di sektor minyak dan gas, petrokimia, hingga pertambangan batu bara. Pengalaman tersebut dinilai menjadi bekal dalam mendorong kemandirian ekonomi warga Nahdlatul Ulama.
Adapun dalam perjalanan organisasinya, Gus Gudfan meniti proses kaderisasi dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), kemudian dipercaya sebagai Bendahara PP Pagar Nusa, Bendahara RMI PWNU Jawa Timur, hingga menjabat sebagai Bendahara Umum PBNU.
Meski lebih banyak dikenal sebagai sosok yang bekerja di balik layar, rekam jejaknya dalam mengelola organisasi berskala nasional dinilai menjadi salah satu modal penting apabila mendapat amanah memimpin PBNU.
Dengan berbagai dukungan yang terus bermunculan, nama Gus Gudfan dinilai menjadi salah satu figur yang diperhitungkan dalam bursa Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35.
Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan para peserta muktamar sesuai mekanisme organisasi Nahdlatul Ulama.
![]()
Penulis : Alex
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan