Tasikmalaya, MNP — Industri sandal khas Tasikmalaya kini berada dalam situasi genting. Produk-produk impor asal Cina terus membanjiri pasar lokal dengan harga murah.
Hal itu berdampak signifikan bagi stabilitas marketing lokal dan membuat para pelaku usaha sandal rumahan semakin terdesak bahkan terancam gulung tikar.
H. Beben, Ketua PRAKATAS (Perkumpulan Pengrajin Sendal Tasikmalaya) yang juga pengusaha sandal asal Mangkubumi angkat bicara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dia menyatakan bahwa kondisi ini sudah sangat mengkhawatirkan dan mendesak Pemerintah Kota Tasikmalaya untuk segera bertindak.
“Produk sandal dari Cina dijual sangat murah. Kami jelas tidak bisa bersaing dari segi harga. Banyak pengrajin kecil yang akhirnya berhenti produksi karena tidak kuat menanggung kerugian,” kata H. Beben saat ditemui di kediamannya, Rabu (30/07/2025).
Ia menyebutkan bahwa sentra-sentra produksi sandal di wilayah Mangkubumi yang dulu sempat ramai, kini mulai sepi dan tidak lagi beroperasi. Bahkan beberapa rumah produksi sudah dialihfungsikan menjadi tempat usaha lain.
Menurutnya, jika tidak segera diatasi, lima tahun ke depan industri sandal Tasikmalaya bisa tinggal sejarah.
“Kami di PRAKATAS sangat prihatin. Ini bukan cuma soal ekonomi, tapi juga soal jati diri Tasikmalaya. Sandal itu produk budaya sekaligus ikon kota kita,” ujarnya.
H. Beben berharap Pemkot Tasikmalaya tidak hanya hadir secara seremonial saat pameran atau festival, melainkan benar-benar memberikan dukungan nyata kepada para pengrajin.
Ia mengusulkan adanya program pelatihan inovasi desain, akses bahan baku dengan harga terjangkau, bantuan permodalan berbasis koperasi, serta dukungan pemasaran digital melalui e-katalog dan media sosial.
Selain itu, H. Beben menyoroti pentingnya kebijakan perlindungan terhadap produk lokal.
Ia mendorong adanya regulasi yang membatasi masuknya barang impor murah ke pasar tradisional dan memberi ruang lebih besar bagi produk lokal untuk berkembang di pusat-pusat perbelanjaan.
“Kita tidak anti-impor, tapi kalau terus dibiarkan tanpa perlindungan, produk lokal akan mati pelan-pelan. Padahal ini sumber nafkah ribuan warga,” tegasnya.
Sebagai Ketua PRAKATAS, H. Beben juga mengajak masyarakat untuk lebih mencintai produk buatan sendiri. Ia percaya bahwa kualitas sendal lokal Tasikmalaya tidak kalah dengan produk luar, hanya perlu sedikit dorongan dan perhatian dari semua pihak.
Industri sandal Tasikmalaya bukan sekadar usaha ekonomi, tetapi juga cermin dari kreativitas dan kearifan lokal.
Jika tidak diselamatkan sekarang, maka yang hilang bukan hanya lapangan pekerjaan, tetapi juga warisan budaya yang telah melekat kuat dalam identitas masyarakat Kota Resik ini.
![]()
Penulis : SN
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan