ENREKANG, MNP – Persoalan sampah yang menumpuk di Kota Enrekang kini menjadi bahan diskusi panas di kalangan putra-putri Massenrenpulu yang berada di perantauan.
Melalui grup WhatsApp “Generasi Baru Massenrenpulu” yang beranggotakan akademisi, pejabat, pengusaha, dan tokoh politik asal Enrekang, mereka meluapkan keprihatinan terhadap kondisi kampung halaman yang dinilai semakin jorok.
Diskusi itu dipicu oleh beredarnya foto dan video tumpukan sampah di sejumlah titik kota. Seorang anggota grup dengan tegas mempertanyakan keseriusan pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Hal Sepele yg sangat mendasar ini gak musti terjadi…Bupati sisa perintahkan Dinas Terkait..jngn2 Bupati kurang care atau kadis nya yg tdk bisa menjalankan intruksi bupati..atau memang 22 nya gak peduli????” tulisnya pada Minggu 3 Agustus 2026 pukul 07.16 WITA.
Keresahan semakin menguat. Anggota lain menyoroti bahwa jika persoalan sampah yang nyata dan kasat mata saja tidak bisa ditangani, maka jangan harap persoalan lain yang lebih kompleks bisa diselesaikan.
“Kalaulah sampah yg nyata kasat mata sbg nda bisa di tangani oleh pemerintah jgn lah harap akn mampu membersihkan sampah2 kantor dan sampah2 masyarakt…” ujarnya pukul 08.26 WITA.
Kritik juga diarahkan pada gaya kepemimpinan. “Terlalu Ramah ke masyarakat tp gak peduli dgn Ramah Lingkungan yah om Nurdin,” tulis salah satu anggota.
Pernyataan itu ditanggapi dengan: “Berarti klau begitu pung, keramahannya ke masyarakat sbg pencitraan.” Diskusi ini menunjukkan adanya kekecewaan bahwa pembangunan Enrekang belum menyentuh persoalan dasar pelayanan publik.
Anggota grup yang mengaku sebagai “Anak Maspul di Rantau” menyampaikan rasa malu melihat kampungnya kotor.
“Leader itu hadir untuk membuat Pelayanan Publik secara Maksimal sesuai Regulasi yg ada..sy sebagai Ank maspul di Rantau gak suka liat kampung sya Jorok Begtu…kalau Bupati dan jajaran gak bisa tangani…gak usah banyak Retorika..masyarakat perlu Eksyen…” tegasnya.
Ia juga menyoroti bahwa masalah ini sudah berulang sejak 10 tahun lalu dan meminta agar tidak ada lagi pembiaran.
Di akhir diskusi, muncul desakan agar evaluasi dilakukan. “Siapa kah Kadis LH om Nurdin…suruhmi Bupati ganti kalau gak bisa handel Sampah,”.
Mereka juga mengajak warga di kampung agar berani mengkritisi pemerintah demi kepentingan bersama.
“Beranilah kita2 ini semua kalau buat kampung…memberikan masukan ke pemerintah…selama itu buat kepentingan bersama…jgn jadi penjilat yg suka menyenangkan hati bupati dan jajarannya saja.”
Aspirasi ini menjadi cermin bahwa kepedulian terhadap Enrekang tidak pernah padam, meski jarak memisahkan.
![]()
Penulis : Rahmat Lamada
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan