Pemangkasan Anggaran Pendidikan, Pengkhianat Konstitusi dan Pembodohan Anak Sistematis 

Kamis, 13 Februari 2025 - 22:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, MNP – Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) se-Nusantara mengecam keras kebijakan pemangkasan anggaran pendidikan yang dilakukan pemerintah.

Kebijakan ini bukan hanya bentuk kelalaian, tetapi pengkhianatan terhadap amanat konstitusi yang menegaskan bahwa negara bertanggung jawab atas pendidikan rakyatnya.

Lebih dari itu, pemotongan ini merupakan strategi pembodohan anak bangsa secara sistematis yang akan menghancurkan masa depan Indonesia.

Di tengah kualitas pendidikan yang masih tertinggal jauh dibandingkan negara lain, pemangkasan anggaran ini semakin memperburuk keadaan.

Sekolah-sekolah di daerah terpencil masih kekurangan fasilitas, tenaga pengajar belum mendapatkan kesejahteraan yang layak.

Sementara biaya pendidikan tinggi semakin tidak terjangkau akibat kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang terus melonjak.

Arip Muztabasani, Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara mengatakan, pemangkasan anggaran pendidikan bukan sekedar salah urus, tetapi kebijakan yang menghancurkan generasi penerus bangsa.

Menurut, Arip, Negara justru melanggengkan kebodohan dengan membiarkan rakyatnya tetap terjebak dalam keterbelakangan.

“Bagaimana mungkin kita berbicara tentang masa depan Indonesia jika pendidikan justru dijadikan korban?,” tegas Arip.

Kritik Keras: Negara Gagal, Pendidikan Dikorbankan

Pemangkasan anggaran ini jelas bertentangan dengan Pasal 31 Ayat 4 UUD 1945, yang mengamanatkan bahwa anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN dan APBD. Dengan pemotongan ini, negara telah gagal menjalankan tanggung jawab konstitusionalnya.

Konsekuensi dari kebijakan ini sangat nyata:

Kesenjangan pendidikan semakin melebar. Sekolah di kota besar masih mendapatkan fasilitas memadai, sementara di pelosok negeri, ribuan siswa harus belajar dalam kondisi yang tidak layak.

Beban mahasiswa semakin berat. Kenaikan UKT yang tidak terkontrol semakin menjauhkan pendidikan tinggi dari rakyat miskin.

Kesejahteraan tenaga pendidik semakin terabaikan. Guru honorer dan dosen di kampus swasta semakin sulit mendapatkan penghidupan yang layak.

Penurunan kualitas pendidikan. Minimnya investasi dalam pendidikan akan berdampak langsung pada buruknya kualitas lulusan dan semakin jauhnya Indonesia dari daya saing global.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya dunia pendidikan yang akan runtuh, tetapi masa depan Indonesia juga akan semakin terpuruk dalam keterbelakangan.

Tuntutan BEM PTNU Se-Nusantara

BEM PTNU se-Nusantara dengan tegas menuntut pemerintah untuk:

– Mengembalikan dan meningkatkan anggaran pendidikan sesuai amanat konstitusi agar akses dan kualitas pendidikan tidak semakin memburuk.

– Menghentikan komersialisasi pendidikan, termasuk menekan kenaikan UKT yang semakin tidak terkendali.

– Menjamin pemerataan pendidikan, terutama di daerah tertinggal yang masih kekurangan fasilitas dan tenaga pengajar.

– Meningkatkan kesejahteraan guru dan dosen, terutama tenaga pendidik honorer yang selama ini diabaikan.

– Melibatkan mahasiswa dan akademisi dalam pengambilan kebijakan pendidikan, agar kebijakan yang dibuat benar-benar berpihak kepada rakyat, bukan hanya kepada kepentingan elite.

Jangan Biarkan Negara Membodohi Rakyatnya!

Pendidikan adalah hak fundamental dan kunci utama kemajuan bangsa. Jika pemerintah tetap memangkas anggarannya, ini bukan hanya kebijakan yang salah, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap rakyat.

Pemangkasan ini adalah strategi terselubung untuk menciptakan generasi yang lemah, tidak kritis, dan mudah dikendalikan.

“Jika suara mahasiswa tidak didengar, maka gerakan perlawanan akan semakin besar. Kami tidak akan tinggal diam ketika hak rakyat diinjak-injak!,” tutup Arip.

Hidup Mahasiswa! Hidup Pendidikan! Hidup Rakyat Indonesia!

Loading

Penulis : Alex

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Bupati Bogor Diduga Masuk Pusaran Konflik Kebenaran Lawan Kebatilan Manipulator Pasar Citeureup 2?
Cicipi Kopi ‘Kopita’, Kasat Samapta Puji Inovasi UMKM Desa Tinada
500 Unit Bedah Rumah Turun ke Enrekang, Wabup Andi Tenri Liwang: Wujud Nyata Asta Cita Presiden Prabowo
Kopi Delleng dan Olahan UMKM Stand Desa Siempat Rube 1 Sedot Perhatian Pengunjung Pesta Oang-Oang 2026
Polres Garut Gagalkan Peredaran Sabu, Puluhan Paket Siap Edar Berhasil Disita
Bupati Franc Bernhard Tumanggor Pimpin Upacara Hari Jadi Ke-23 Kabupaten Pakpak Bharat
Semarak Pesta Budaya Oang-Oang 2026: Artis Nasional dan Lokal Sukses Goyang Lapangan Kasean Banurea
PT MKM Diduga Alih Fungsikan Tanggul Irigasi Pertanian di Belanti Siam Jadi Jalan Angkutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:43 WIB

Bupati Bogor Diduga Masuk Pusaran Konflik Kebenaran Lawan Kebatilan Manipulator Pasar Citeureup 2?

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:30 WIB

Cicipi Kopi ‘Kopita’, Kasat Samapta Puji Inovasi UMKM Desa Tinada

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:14 WIB

500 Unit Bedah Rumah Turun ke Enrekang, Wabup Andi Tenri Liwang: Wujud Nyata Asta Cita Presiden Prabowo

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:21 WIB

Kopi Delleng dan Olahan UMKM Stand Desa Siempat Rube 1 Sedot Perhatian Pengunjung Pesta Oang-Oang 2026

Selasa, 28 Juli 2026 - 12:35 WIB

Polres Garut Gagalkan Peredaran Sabu, Puluhan Paket Siap Edar Berhasil Disita

Berita Terbaru

Berita terbaru

Cicipi Kopi ‘Kopita’, Kasat Samapta Puji Inovasi UMKM Desa Tinada

Selasa, 28 Jul 2026 - 14:30 WIB