Pedasnya Nagih! Tahu Gejrot Khas Cirebon ini Laku Keras di Alun-alun Pemalang

Rabu, 13 Mei 2026 - 12:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PEMALANG, MNP – Kuliner tradisional Tahu Gejrot Cirebon memiliki sejarah panjang seperti makanan khas lainnya.

Makanan ini berasal dari Desa Jatiseeng, kecamatan Ciledug, kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Kudapan dengan rasa pedas ini,muncul tidak lepas dari pabrik tahu milik keturunan Tionghoa di Jatiseeng.

Di Pemalang Jawa Tengah, tepatnya di depan sebuah super market alun – alun, ada pedagang tahu gejrot yang seharinya bisa menghabiskan ribuan biji tahu-tahu kecil sebagai bahan makanan super pedas ini.

Ribuan tahu tersebut di kemas dalam basket (keranjang plastik) dimana per wadah plastik itu berisi 300-san tahu.

Pardi (46) pedagang tahu gejrot yang berasal dari Kersana, kabupaten Brebes ini sudah berdagang kuliner pedas ini selama belasan tahun di sekitar Alun -alun Pemalang.

Dirinya mulai merintis dengan omzet kecil, hingga sekarang bisa meraih omzet jutaan dalam sehari.

Pardi mulai membuka lapak dagangnya di sebelah timur pos polisi alun – alun, dari jam 11 siang hingga malam, bahkan tak jarang masih sore pun dagangnya sudah ludes di serbu para pelanggannya.

Dengan awal mulai berdagang untuk satu porsi tahu gejrot seharga Rp 3 ribu hingga sekarang, untuk satu porsi di hargai sampai Rp 12 ribu untuk tiap porsi.

Menurut pardi, bersamaan dengan kenaikan harga sayur mayur yang merangkak liar harganya seperti bawang merah, tomat, cabai dan sebagainya, dirinya terpaksa menaikan harga untuk satu porsi penuh tahu gejrotnya seharga Rp 12 ribu.

“Alhamdulillah mas, para pelanggan sudah tahu jika harga cabai sebagai bahan utama sambal tahu gejrot naik harganya, mereka tidak protes,untuk tahu kita habis 8 sampai 10 basket dimana perbasket berisi 300 tahu,” terangnya, pada Rabu (13/5).

Inneke (20) salah seorang pelanggannya mengatakan, jika tahu gejrot di sini berbeda dengan di tempat lain, rasa pedasnya cabai asli dan tidak terlalu lama pedas di mulut.

“Rasa pedasnya cabai asli jadi aman di perut, sudah lama sih beli tahu gejrot disini,” ujarnya singkat.

Saat harga kebutuhan pokok naik seperti saat ini, Pardi tetap berdagang seperti biasa, tidak mempengaruhi dagangnya, masih tetap jualan, bahkan cenderung naik omzetnya jutaan rupiah dalam sehari.

Loading

Penulis : Ragil

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Elis Lisnawati: Pelaku Budaya Jangan Hanya Dibutuhkan, Pemerintah Harus Hargai dan Didukung Merata
Di Milangkala ke-9 Sabodo Debus Extreme, Budayawan Minta Pemerintah Serius Lestarikan Seni Sunda
Fun Bike Gowes Bareng Pemuda Tasik dan BSS Meriahkan Milangkala ke-25 Kota Tasikmalaya
Penghasilan Nelayan Pangandaran Turun, Faktor Harga Pasar Jadi Pemicu
Healing Hemat di Kuningan: Menikmati Sunset dan Udara Sejuk di Taman Bunut
Rutin Gelar Pengajian Kitab Bulanan, RPA CV Assalam Family Pererat Silaturahmi Bersama Warga Bantarsari
Tegang! Karyawan PT SBL Tertibkan Rombongan Mengaku KSO Agrinas di Indragiri Hulu
Tingkatkan Kualitas PAUD, Kober Bunda Hati Launching Hasil Revitalisasi Sarpras

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 15:51 WIB

Elis Lisnawati: Pelaku Budaya Jangan Hanya Dibutuhkan, Pemerintah Harus Hargai dan Didukung Merata

Minggu, 11 Oktober 2026 - 15:43 WIB

Di Milangkala ke-9 Sabodo Debus Extreme, Budayawan Minta Pemerintah Serius Lestarikan Seni Sunda

Minggu, 11 Oktober 2026 - 10:46 WIB

Fun Bike Gowes Bareng Pemuda Tasik dan BSS Meriahkan Milangkala ke-25 Kota Tasikmalaya

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:54 WIB

Penghasilan Nelayan Pangandaran Turun, Faktor Harga Pasar Jadi Pemicu

Minggu, 11 Oktober 2026 - 08:56 WIB

Healing Hemat di Kuningan: Menikmati Sunset dan Udara Sejuk di Taman Bunut

Berita Terbaru

Berita terbaru

Penghasilan Nelayan Pangandaran Turun, Faktor Harga Pasar Jadi Pemicu

Minggu, 11 Okt 2026 - 09:54 WIB