ENREKANG, MNP – Skandal proyek jalan beton siluman di ruas Malua-Kolai, Kecamatan Malua, Kabupaten Enrekang, semakin terbongkar dan memasuki babak baru yang penuh drama kepanikan.
Proyek yang diklaim bersumber dari anggaran 2026 Balai Jalan Provinsi Sulsel yang belum genap sebulan selesai namun sudah hancur berhamburan dicungkil jari tangan.
Kini pelaksananya diduga kuat panik setelah video kebobrokan mutu betonnya viral di media sosial dan menjadi sorotan nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fakta terbaru yang sangat mengejutkan diungkap oleh tokoh masyarakat setempat kepada Media Nasional Potret.
Setelah video viral yang memperlihatkan betapa rapuhnya beton tersebut beredar luas, pihak pelaksana proyek yang selama ini misterius dan tidak diketahui identitasnya, tiba-tiba muncul secara diam-diam dan mencoba memperbaiki kerusakan dengan cara yang sangat tidak profesional dan terkesan asal-asalan.
Mereka diduga hanya menambah ketebalan sekitar kurang lebih 5 cm di atas beton lama yang sudah hancur tersebut, tanpa membongkar total dan tanpa perbaikan pondasi bawah yang menjadi akar masalah utama.
Modus perbaikan tambal sulam 5 cm tersebut dinilai warga sebagai akal-akalan licik untuk menghilangkan barang bukti kejahatan konstruksi.
“Ini bukan perbaikan, ini penipuan jilid dua. Bagaimana bisa beton yang dari awal sudah tidak ada batu pecahnya, adukan manual pakai skop, dan pondasi bawahnya hanya tanah galian yang dibuang ke tengah, hanya ditambal 5 cm di atasnya? Itu sama saja membungkus bangkai dengan plastik,” ujar salah satu tokoh masyarakat Malua yang meminta namanya dirahasiakan karena takut diintimidasi, dengan nada geram.
Dugaan warga tentang perbaikan siluman tersebut ternyata diperkuat oleh pernyataan Kepala Dinas PU Kabupaten Enrekang, Dr. Andi Sapada, saat ditemui wartawan pada Senin, 28 September 2026.
Meskipun sebelumnya ia mengaku tidak mengetahui asal-usul proyek tersebut dan mengaku baru tahu dari video viral di medsos, namun anehnya ia mengatakan,
“Saya dengar-dengar sudah diperbaiki.” Pernyataan tersebut menimbulkan pertanyaan besar, dari mana Kadis PU Enrekang mendengar informasi perbaikan jika ia sendiri mengaku proyek tersebut bukan kegiatannya dan tidak tahu siapa pelaksananya.
Kejanggalan proyek tanpa tuan ini semakin lengkap setelah sebelumnya terjadi aksi lempar bola yang sangat memalukan antar instansi pemerintah.
Pada Jumat, 25 September 2026, Staf PPK Bidang Bina Marga Dinas PU Pemprov Sulsel dengan tegas membantah bahwa proyek tersebut adalah milik PU Provinsi dan mengarahkan untuk mengecek ke PU Kabupaten Enrekang.
Namun Kepala Dinas PU Kabupaten Enrekang, Dr. Andi Sapada, juga membantah dan mengaku baru melihat videonya di media sosial, bahkan sempat mengarahkan wartawan untuk mencari informasi ke Dinas Pertanian Kabupaten Enrekang yang juga dengan tegas dibantah oleh Kepala Dinas Pertanian, Dr. Ikbar Ashadhi.
Dengan adanya upaya perbaikan diam-diam setebal 5 cm pasca viral, maka semakin jelas bahwa proyek tersebut memang ada pelaksananya dan ada yang merasa bertanggung jawab, namun sengaja bersembunyi di balik status siluman.
Masyarakat menilai, jika memang pekerjaan tersebut sesuai bestek dan juknis, mengapa harus panik dan melakukan penambalan setelah viral?
Seharusnya jika sesuai prosedur, pelaksana dengan gagah berani menunjukkan RAB, hasil uji lab, dan metode kerja yang menggunakan molen dan vibro, bukan malah melakukan tambal sulam di malam hari.
Masyarakat Malua-Kolai kini tidak lagi hanya menuntut perbaikan jalan, namun menuntut transparansi total dan penegakan hukum.
Mereka mendesak Inspektorat Kabupaten Enrekang, BPKP Sulsel, serta Tipidkor Polda Sulsel dan Kejati Sulsel untuk segera turun ke lokasi melakukan sidak dan audit forensik.
Harus dilakukan pembongkaran ulang (core drill) untuk membuktikan apakah di bawah tambalan 5 cm yang baru tersebut masih terdapat beton lama setebal 10 cm yang hancur, tanpa leveling, tanpa batu pecah, dan adukan manual.
![]()
Penulis : Rahmat Lamada
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan