Tasikmalaya, MNP – Warga Kampung Garawangi, Kelurahan Nagarawangi, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.
Warga ini memohon bantuan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) untuk pengobatan lanjutan Iqbal Maulana (18), korban kecelakaan tunggal yang terjadi empat tahun silam, tepatnya pada 2021.
Pasalnya, Iqbal hingga kini masih terbaring lemah dengan pen di kedua kakinya dan belum bisa berjalan normal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Permohonan ini disampaikan oleh Asep, kakak korban, kepada media di kediamannya pada Sabtu (27/09/2025).
Asep menceritakan bahwa kecelakaan terjadi saat mereka menuju Kecamatan Cineam, di mana rem motor yang mereka kendarai blong dan terjun ke jurang.
“Waktu itu saya hanya mengalami cedera tulang iga dan sudah pulih, tapi adik saya mengalami patah tulang di kedua kakinya hingga saat ini masih menggunakan pen,” ungkap Asep dengan nada haru.
Dirinya memohon dengan sangat agar Pemkot Tasikmalaya, khususnya Dinas Sosial, Baznas, dan rumah sakit daerah, dapat membantu biaya dan proses pengobatan Iqbal, termasuk terapi jalan dan pembukaan pen.
“Adik saya masih muda, baru 18 tahun. Masa depannya masih panjang, bagaimana bisa mencari kerja atau menikah jika masih dalam kondisi seperti ini,” ujar Asep.
Keluarga korban mengakui bahwa mereka sempat mendapatkan bantuan dari berbagai pihak pascakecelakaan dari Dinas Sosial, Baznas dan seorang warga bernama Cucu.
Namun, kini mereka menghadapi kesulitan ekonomi yang sangat berat. Kartu KIS milik Iqbal dikabarkan sudah tidak aktif, membuat mereka kesulitan membiayai kontrol dan pengobatan.
“Sekarang untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit, apalagi biaya pengobatan. Pernah sekali ke rumah sakit saja, biaya ambulansnya mencapai Rp200 ribu,” lanjutnya.
Asep juga menekankan pentingnya pendampingan medis profesional, terutama dalam proses terapi jalan. Ia khawatir penanganan tanpa pengawasan medis justru akan memperparah kondisi adiknya.
Asep menyebut, dulu Dr. Feri yang menangani adiknya bilang terapi jalan harus dengan pengawasan medis.
“Kami takut salah, apalagi melihat kondisi pen di kaki adik saya, saya sendiri ngeri. Takutnya malah tambah parah kalau tanpa arahan tenaga medis,” pungkas Asep, berharap Pemkot segera memberikan uluran tangan dan pendampingan untuk memulihkan masa depan adiknya.
![]()
Penulis : DK
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan