Membaca Pola “Lelang Dimainkan” dalam Tata Kelola Pengadaan Daerah

Senin, 22 Desember 2025 - 15:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

H. Nur Kholis | Aktivis dan Advokat

H. Nur Kholis | Aktivis dan Advokat

Bogor, MNP – Pengadaan barang dan jasa pemerintah sejatinya dirancang sebagai instrumen penting untuk memastikan penggunaan anggaran publik berjalan efisien, transparan, dan akuntabel.

Kerangka regulasi telah disusun cukup lengkap, mulai dari undang-undang keuangan negara hingga peraturan teknis pengadaan.

Namun dalam praktiknya, berbagai laporan dan kajian menunjukkan bahwa sistem yang baik di atas kertas belum selalu berbanding lurus dengan realitas di lapangan.

Salah satu persoalan yang kerap menjadi sorotan adalah dugaan praktik pengadaan yang tidak sepenuhnya kompetitif.

Dalam berbagai diskursus kebijakan dan hasil penelitian lembaga pengawas, muncul pola berulang di mana proses lelang secara formal berjalan sesuai prosedur, tetapi secara substansi kompetisinya patut dipertanyakan. Fenomena inilah yang di ruang publik sering disebut sebagai “lelang dimainkan”.

Pola tersebut umumnya tidak berdiri sendiri. Modus yang dibicarakan dalam berbagai kajian meliputi penyusunan persyaratan teknis yang sangat spesifik, sehingga hanya sedikit pelaku usaha yang dapat memenuhinya, proses evaluasi yang sulit diverifikasi publik secara memadai; hingga rendahnya partisipasi peserta lelang yang seharusnya menjadi indikator awal adanya kompetisi sehat.

Semua ini belum tentu membuktikan pelanggaran hukum, tetapi cukup untuk menandai adanya risiko tata kelola.

Persoalan ini menjadi semakin kompleks ketika dikaitkan dengan dinamika jejaring antardaerah. Di satu sisi, forum lintas daerah dibutuhkan sebagai ruang koordinasi dan berbagi praktik baik antar pemerintah daerah.

Namun di sisi lain, tanpa mekanisme pengawasan yang kuat, forum semacam ini juga berpotensi disalahartikan atau disalahgunakan, terutama jika tidak disertai prinsip transparansi dan akuntabilitas yang tegas.

Penting ditekankan bahwa keberadaan forum lintas daerah pada dasarnya bersifat netral dan konstruktif. Ia dapat menjadi sarana memperkuat kapasitas daerah dalam perencanaan dan pengadaan.

Namun, seperti instrumen kebijakan lainnya, manfaat atau risikonya sangat bergantung pada komitmen para aktor yang terlibat. Di sinilah negara dituntut hadir melalui pengawasan yang konsisten, bukan semata melalui penindakan, tetapi juga pencegahan sistemik.

Dampak dari tata kelola pengadaan yang tidak optimal tidak bisa dianggap remeh. Selain berpotensi menimbulkan pemborosan anggaran, kondisi ini juga dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah dan menghambat pelaku usaha yang beritikad baik.

Dalam jangka panjang, hal tersebut berisiko melemahkan iklim pembangunan dan daya saing ekonomi daerah. Karena itu, perbaikan pengadaan tidak cukup hanya dengan menambah aturan baru.

Yang lebih mendesak adalah memperjelas interpretasi regulasi, meningkatkan kapasitas aparatur pengadaan, memperkuat sistem pengawasan internal dan eksternal, serta membuka ruang partisipasi publik yang lebih bermakna. Transparansi bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan fondasi kepercayaan.

Opini ini tidak dimaksudkan untuk menuding pihak tertentu, melainkan sebagai ajakan reflektif agar tata kelola pengadaan daerah terus dibenahi. Anggaran publik adalah amanah. Setiap rupiah yang dibelanjakan harus dapat dipertanggungjawabkan, bukan hanya secara hukum, tetapi juga secara moral kepada masyarakat.

Jika pengadaan dikelola dengan integritas, maka pembangunan daerah akan berdiri di atas fondasi yang kuat. Sebaliknya, jika celah-celah tata kelola dibiarkan, maka persoalan yang sama akan terus berulang, senyap, sistemik, dan mahal biayanya bagi negara.

Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan opini penulis dan tidak mewakili sikap redaksi.

Loading

Penulis : H. Nur Kholis Aktivis dan Advokat

Berita Terkait

Datangi Kejari Pemalang, Yayasan Cakrawala Minta Transparansi Kasus Dana Hibah Dindikpora 2024
‎Dandim 0611/Garut Pimpin Langsung Olahraga Bersama, Perkuat Soliditas Prajurit
Tolak Jadi Generasi Rapuh! Pemuda Bungursari Dibekali Edukasi Organisasi dan Seni Budaya
Inspektorat Bartim Kebut Hitung Kerugian Negara Kasus Perumdam Tirta Janang, Target Tuntas Desember 2026
GAPURA Tuding Pemkot Tasikmalaya Tumpul Pengawasan: Ruko Pasar Cikurubuk Disulap Jadi WC Umum Berbayar
PUTR Ungkap Alih Fungsi Ruko Jadi WC Umum Berbayar, Gapura Desan Pemkot Tasik Tutup Operasional
Hujan Picu Longsor di 16 Desa Kabupaten Tasikmalaya, Akses Jalan Terganggu
Pemkab Tasikmalaya Siapkan Optimalisasi Eks Kantor Setda di Kota Tasikmalaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 17:59 WIB

Datangi Kejari Pemalang, Yayasan Cakrawala Minta Transparansi Kasus Dana Hibah Dindikpora 2024

Selasa, 3 November 2026 - 17:46 WIB

‎Dandim 0611/Garut Pimpin Langsung Olahraga Bersama, Perkuat Soliditas Prajurit

Selasa, 3 November 2026 - 17:32 WIB

Tolak Jadi Generasi Rapuh! Pemuda Bungursari Dibekali Edukasi Organisasi dan Seni Budaya

Selasa, 3 November 2026 - 14:55 WIB

Inspektorat Bartim Kebut Hitung Kerugian Negara Kasus Perumdam Tirta Janang, Target Tuntas Desember 2026

Selasa, 3 November 2026 - 13:27 WIB

GAPURA Tuding Pemkot Tasikmalaya Tumpul Pengawasan: Ruko Pasar Cikurubuk Disulap Jadi WC Umum Berbayar

Berita Terbaru