Tasikmalaya, MNP – Berandalan bermotor memang kerap terdengar melakukan tindakan kejahatan yang meresahkan masyarakat.
Disini Peran dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu harus hadir di tengah-tengah masyarakat, terkhusus Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.
Pasalnya, banyak sekali laporan-laporan dari masyarakat terkait prosedur ketika akan melaporkan kepada pihak kepolisian, karena mereka tidak langsung menggubris.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal tersebut di sampaikan Agis Ikbal Nurjamil Wakil Sekretaris Bidang Pertahanan dan Keamanan HMI Cabang Tasikmalaya di sela Seminar Pencegahan Kenakalan Remaja di Gedung Creative Center Dadaha, Kota Tasikmalaya. Minggu (24/05/2025).
Menurut Agis, pada dasarnya kenakalan yang mengarah kejahatan memang dimulai dari usia remaja menuju dewasa dan otomatis yang menjadi tindakan kejahatan itu dari para pelajar.
“Makanya kita terfokus kepada sasaran peserta kegiatannya itu pelajar dan mahasiswa. Nah mungkin itu sedikit tujuannya kita mengadakan seminar ini karena untuk menampung apa yang menjadi aspirasi dari masyarakat,” jelas Agis.
Terkait dengan respon Aparat Penegak Hukum (APH) atau kepolisian, dirinya mengapresiasi karena selalu berusaha untuk peduli. Lain halnya dengan pemerintah Kota Tasikmalaya selama ini seolah olah tidak ada kepedulian.
Sejauh ini pihak kepolisian dalam bidang eksekusi, Agis sangat mengapresiasi karena terus berkomunikasi dengan Kasat Reskrim, Kasat Narkoba mengupdate seputar informasi kenakalan remaja ini.
“Tapi dari Pemkot Tasikmalaya saya rasa kurang memperhatikan apa yang menjadi kenyamanan di wilayahnya. Mereka sibuk kayaknya main-main (jogging, red) ataupun apa gitu tah, sampai saya rasa beliau tidak kerja termasuk walikotanya” cetus Agus.
Remaja Nakal Masuk Barak Militer
Agis mengaku masih setuju dan tidak setuju terkait program Gubenur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) yang memasukan para siswa yang nakal untuk di kirim ke Barak Militer.
“Memang (remaja nakal, red) harus ke barak kalau misalkan ada orang-orang yang memang di luar dugaan seperti kejahatan-kejahatan. Itu positif untuk mendisiplinkan para pelajar ataupun mahasiswa yang memang melakukan tindak kejahatan,” jelas Agis.
Namun lanjut dia, sisi negatifnya, Agis menilai seharusnya pelajar itu di didik atau dibina di sekolahnya, karena pelajar masih membutuhkan pemahaman ataupun ilmu pengetahuan yang memang harusnya itu di genjot di sekolah.
“Jika ada pilihan di kirim ke barak militer dan di masukan ke pesantren, saya lebih setuju memasukan ke pesantren, sesuai dengan jargon Kota Tasik Kota Santri,” katanya.
![]()
Penulis : Alex
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan