BOGOR, MNP – Longsornya Tebing Cinekol, Cibeureum, Desa Petir, Kec. Dramaga, pada hari Selasa yang lalu, tidak saja membawa duka bagi keluarga korban, tapi meninggalkan trauma juga kekhawatiran panjang bagi ribuan warga masyarakat sekitar, terutama bagi para pengguna jalan di atasnya.
Itu yang tergambar jelas dibenak warga sekitar, saat mereka dimintai pendapatnya oleh awak media ini, Kamis (7/5/2026).
Kekhawatiran tersebut pun sangat wajar, mengingat di atas lokasi tebing longsor tersebut, merupakan akses jalan utama mereka, yakni ruas jalan kabupaten, pada ruas jalan Dramaga Pasar – Petir – Babakan Gadog, yang menghubungkan beberapa desa. Baik yang berada di dalam wilayah kecamatan Dramaga sendiri, maupun desa-desa di luar wilayah kecamatan Dramaga (Tamansari, Tenjolaya serta Ciampea.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ruas jalan tersebut praktis jadi akses vital, penopang beragam dinamika aktifitas warga, khususnya transportasi ke dan dari wilayah Dramaga.
Namun, pasca longsornya tebing jalan di Cinekol yang berada persis di bawahnya (arah samping bawah ruas jalannya : red), kondisinya jadi mengkhawatirkan bagi keselamatan pengguna jalan, yang lalu lalang di atasnya.
Pasalnya, badan jalannya jadi nampak miring ke arah jurang tebing yang longsor tersebut, dan mulai terlihat ada retakan memanjang di tengah badan jalannya.
Diperkirakan lebih dari 100 meter (bentangan panjang badan jalan dalam kondisi demikian), telah dipasangi Vita Polisi (di-Police Line) oleh pihak Wilkum Polsek Dramaga.
Disediakan juga Plank Peringatan Bahaya, untuk mengarahkan arus lalu lintas dan dijaga-diatur secara bergiliran oleh warga setempat.
Di bawah ruas jalan itulah tebing longsor tersebut berada, dengan kemiringan dinding tebing ditaksir antara 75 hingga 80 derajat, serta ketinggian atau kedalaman tebing jurangnya sekitar 50 hingga 60 meter, dari permukaan badan jalan ke dasar jurang/Kali Cisasah tersebut.
Karena kondisi geografisnya tadi, disertai labilnya mayoritas kontur tanah di kawasan tersebut, menjadikannya rawan dari bencana serupa. Longsor hingga pergerakan tanah, efek erosi dan sedimentasi drainase air oleh sampah, hingga material lainnya di sekitar lokasi, diduga kuat jadi penyebab tambahan terjadinya longsor, selain karena kontur tanah yang labil.
Terlepas dari penyebabnya apa, solusi penanganan masalahnya untuk ke depan, adalah hal terpenting untuk segera Kita bicarakan, serta Kita implementasikan bersama di ranahnya sesuai dengan kapasitas serta bidangnya masing-masing. Karena masalah itu merupakan tanggungjawab bersama, dan demi kepentingan bersama.
Pembangunan DPT Jalan di wilayah desa Bojong Rangkas-Ciampea, itu dapat Kita jadikan “Pilot Project nya” bahwa dengan Kita bermusyawarah, serta menggalakkan kembalinya tradisi gotong royong Kita, maka masalah seberat dan sebesar apa pun, akan menjadi ringan dan terasa kecil.
Gambaran diatas didapat ketika media ini kembali datang ke wilayah sekitar longsor tersebut, sekedar merespons informasi telah terjadinya longsor susulan dari salah seorang warga.
Ketika di lokasi kebetulan bertemu Kades Purwasari dan rombongannya, Kades beserta timnya itu tengah giat inspeksi lokasi-lokasi drainase wilayahnya, yang dinilai perlu penanganan.
Karena diduga turut rusak di beberapa titik, tergerus air ketika banjir melanda, pada malam hari sebelum kejadian longsor Cinekol di keesokan harinya. Akibat kerusakan drainase, warga pada beberapa wilayah RT alami kesulitan air bersih. Karena sarananya, seperti fiva-fiva saluran airnya dan tempat-tempat tampungan air di jalur drainase itu juga rusak akibat banjir tersebut. Kamis, (7/5/2026)
Jadi, ada Tiga hal krusial yang perlu diprioritaskan untuk segera mendapatkan penanganan disana. Pertama perbaikan drainase-sanitasi di sekitar pemukiman warga di atas.
Kedua penanganan kondisi sepanjang ruas jalan, yang riskan alami longsor akibat erosi di atas lokasi longsor Cinekol.
Dan yang ketiga, pentingnya pihak umaro di pemda untuk rajin turun ke wilayah-wilayahnya, untuk mengedukasi masyarakat, tentang pentingnya peduli terhadap sikon lingkungan mereka, secara sosial dan sebagai “Makhluq Sosial” di tengah masyarakat lain di wilayahnya.
![]()
Penulis : Asep Didi
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan