Kabut Asap Musim Kemarau: “Warisan Buruk” Jadikan Generasi Penyakitan

Rabu, 19 Agustus 2026 - 10:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BARITO TIMUR, MNP – Kualitas udara di wilayah Kalimantan Tengah, khususnya di Kabupaten Barito Timur, kini telah dikategorikan berada pada tingkat tidak sehat.

Kondisi ini merupakan dampak langsung dari meluasnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang kembali terjadi seiring memasuki musim kemarau.

Peristiwa kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Barito Timur serta wilayah Kalimantan Tengah pada umumnya, senantiasa berulang setiap kali musim kemarau tiba.

Berbagai upaya pencegahan telah dilakukan pihak berwenang, mulai dari penyebaran imbauan kepada masyarakat hingga penanganan langsung berupa pemadaman titik api.

Namun, upaya-upaya tersebut belum mampu membuahkan hasil yang signifikan, sehingga api terus melahap kawasan hutan dan lahan, kebakaran berulang terus terjadi, dan kabut asap kembali melanda wilayah ini tanpa henti.

Dilihat dari penyebabnya, kebakaran lahan di wilayah ini sebagian memang dikaitkan dengan praktik pembukaan lahan untuk keperluan pertanian.

Akan tetapi, kenyataan yang sering ditemukan di lapangan menunjukkan adanya unsur kesengajaan yang mengkhawatirkan.

Pembakaran tidak hanya terbatas pada lahan pertanian atau perkebunan, melainkan juga menyasar kawasan hutan dan lahan lain yang sama sekali tidak diperuntukkan bagi kegiatan tersebut.

Dampak yang ditimbulkan dari kabut asap ini terhadap kesehatan masyarakat tidak boleh dipandang sebelah mata.

Gangguan kesehatan bukanlah sekadar masalah sesaat yang akan hilang seiring berhentinya asap, melainkan berdampak jangka panjang dan dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang berkelanjutan.

Pembakaran hutan dan lahan yang dilakukan secara tidak bertanggung jawab hingga menimbulkan kabut asap luar biasa, pada hakikatnya telah meninggalkan apa yang dapat disebut sebagai “warisan buruk” bagi generasi mendatang.

Kerusakan lingkungan dan penurunan kualitas kesehatan masyarakat yang terjadi saat ini akan menjadi beban berat yang harus ditanggung oleh anak cucu kita kelak, sehingga menjadikan mereka generasi yang penyakitan akibat kelalaian kita hari ini.

Oleh sebab itu, kesadaran kolektif serta tindakan nyata dari seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan untuk memutus mata rantai kebiasaan merusak ini, demi menjaga lingkungan dan kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.

Loading

Penulis : Adi Suseno

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Lumiland Dadaha, Suguhkan 5 Juta Lampu, Potensi Jadi PAD Kota Tasikmalaya
Daya Tarik Festival Lumiland Dadaha Potensi Penyumbang PAD Kota Tasikmalaya
Kepala SMPN 1 Petarukan: Pramuka Bukan Sekadar Ekskul, Tapi Pembentuk Karakter
H. Rana Nur Alamsyah: Fun Bike TOF 2026 Bukan Sekadar Gowes, Momentum Pererat Silaturahmi Warga
Elis Lisnawati: Pelaku Budaya Jangan Hanya Dibutuhkan, Pemerintah Harus Hargai dan Didukung Merata
Di Milangkala ke-9 Sabodo Debus Extreme, Budayawan Minta Pemerintah Serius Lestarikan Seni Sunda
Fun Bike Gowes Bareng Pemuda Tasik dan BSS Meriahkan Milangkala ke-25 Kota Tasikmalaya
Penghasilan Nelayan Pangandaran Turun, Faktor Harga Pasar Jadi Pemicu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 13:09 WIB

Lumiland Dadaha, Suguhkan 5 Juta Lampu, Potensi Jadi PAD Kota Tasikmalaya

Senin, 12 Oktober 2026 - 12:59 WIB

Daya Tarik Festival Lumiland Dadaha Potensi Penyumbang PAD Kota Tasikmalaya

Senin, 12 Oktober 2026 - 12:19 WIB

Kepala SMPN 1 Petarukan: Pramuka Bukan Sekadar Ekskul, Tapi Pembentuk Karakter

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:48 WIB

H. Rana Nur Alamsyah: Fun Bike TOF 2026 Bukan Sekadar Gowes, Momentum Pererat Silaturahmi Warga

Minggu, 11 Oktober 2026 - 15:51 WIB

Elis Lisnawati: Pelaku Budaya Jangan Hanya Dibutuhkan, Pemerintah Harus Hargai dan Didukung Merata

Berita Terbaru