Garut Tempo Doeloe, Mengenang Pesona ‘Swiss van Java’ Dekade 1910-an

Rabu, 18 Februari 2026 - 11:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Dispusip Garut

Foto : Dispusip Garut

GARUT, MNP – Jejak Priangan di Pada Masa Kolonial” Dalam rangka Hari Jadi Garut ke-213 di Seputaran Pendopo Garut, yang digelar hari ini Rabu 18 Februari 2026.

Selamat datang di ruang waktu, tempat ingatan visual membawa kita kembali ke Garut pada dekade 1910–1920-an—sebuah masa ketika tanah Priangan dikenal luas sebagai “Swiss van Java”.

Melalui lensa kamera para fotografer masa kolonial, kita diajak menelusuri wajah Garut tempo dulu: bentang alamnya yang memesona, hotel-hotel megah yang menjadi persinggahan kaum elite, serta bangunan-bangunan yang menandai transformasi kota di bawah administrasi Hindia Belanda.

Pada awal abad ke-20, kawasan Cipanas telah berkembang menjadi tujuan wisata unggulan. Pemandian air panas di kaki Gunung Guntur dan panorama pegunungan yang mengelilingi kota menghadirkan lanskap eksotis yang dipromosikan secara luas oleh pemerintah kolonial.

Foto-foto yang dipamerkan memperlihatkan hamparan kebun, jalan-jalan tanah yang membelah perbukitan, serta suasana pedesaan yang masih alami—sebuah Garut yang tenang, namun perlahan bergerak menuju modernitas kolonial.

Salah satu ikon kejayaan pariwisata masa itu adalah Hotel Papandayan, hotel termewah di Priangan pada masanya. Bangunan bergaya arsitektur kolonial dengan sentuhan tropis ini berdiri megah, menjadi simbol eksklusivitas dan kemewahan.

Tidak jauh darinya, berdiri pula Hotel Ngamplang di kawasan dataran tinggi, menawarkan pemandangan lapangan golf dan pegunungan yang memukau.

Melalui foto-foto hitam putih yang tersaji, kita dapat melihat bagaimana hotel-hotel tersebut bukan sekadar tempat menginap, tetapi juga ruang sosial tempat bertemunya pejabat kolonial, pengusaha perkebunan, dan wisatawan Eropa.

Bangunan-bangunan pemerintahan dan fasilitas umum yang muncul dalam dokumentasi visual ini mencerminkan tata kota yang mulai tertata rapi. Jalan raya yang lebar, jembatan kokoh, serta kantor-kantor administrasi menunjukkan hadirnya sistem kolonial yang terstruktur.

Di balik kemegahan arsitektur itu, tersirat dinamika sosial: kerja paksa, sistem perkebunan, dan stratifikasi masyarakat yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah masa tersebut.

Namun, pameran ini tidak semata menghadirkan romantisme visual. Ia juga mengajak kita membaca ulang sejarah. Foto-foto ini adalah arsip—jejak yang membekukan waktu.

Mereka menjadi saksi bagaimana identitas Garut dibentuk oleh interaksi antara alam, kolonialisme, dan masyarakat lokal. Di antara lanskap indah dan bangunan megah, tersimpan kisah tentang daya tahan, adaptasi, dan perubahan.

Melalui pameran ini, kami mengundang Anda untuk tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan denyut zaman itu. Membayangkan suara delman di jalanan kota, percakapan dalam bahasa Belanda di beranda hotel, serta aktivitas masyarakat pribumi yang menjadi bagian penting dari denyut kehidupan Garut tempo dulu.

Garut hari ini adalah hasil perjalanan panjang sejarahnya. Dengan menatap foto-foto dari era 1910–1920-an ini, kita tidak sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga merawat ingatan kolektif—agar sejarah tetap hidup dan memberi makna bagi generasi kini dan mendatang.

Loading

Penulis : Wawan Uje

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Soal Polemik Acara Safari Jurnalis Desa Kemang, Ini Klarifikasi Ketua PWI Kabupaten Bogor
Di Balik Angka, Ada Hak Warga yang Terpenuhi: Dukcapil Jeneponto Terus Tingkatkan Layanan Adminduk
Gubernur Jabar Ingkar Janji? Tokoh Masyarakat Desak Realisasi Akses Jalan SMAN 11 Tasikmalaya 
Cemari Saluran Air, Satpol PP Pemalang Ancam Tutup Rumah Makan di Jalan Jenderal Sudirman 
Bolos ke Pantai Widuri, Belasan Pelajar Apes Diciduk Satpol PP Pemalang
Guru Penjaskes di Pemalang Ungkap Pentingnya Jalan Kaki bagi Kebugaran Siswa
Gunakan Skema PKTD, Pemdes Tampa Mulai Pembangunan Gang Manguleng
Tiga Pilar Keamanan Tasikmalaya Satukan Langkah di Makodim 0612/Tasikmalaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 22:09 WIB

Soal Polemik Acara Safari Jurnalis Desa Kemang, Ini Klarifikasi Ketua PWI Kabupaten Bogor

Selasa, 14 Juli 2026 - 20:27 WIB

Di Balik Angka, Ada Hak Warga yang Terpenuhi: Dukcapil Jeneponto Terus Tingkatkan Layanan Adminduk

Selasa, 14 Juli 2026 - 17:52 WIB

Gubernur Jabar Ingkar Janji? Tokoh Masyarakat Desak Realisasi Akses Jalan SMAN 11 Tasikmalaya 

Selasa, 14 Juli 2026 - 17:00 WIB

Cemari Saluran Air, Satpol PP Pemalang Ancam Tutup Rumah Makan di Jalan Jenderal Sudirman 

Selasa, 14 Juli 2026 - 16:43 WIB

Bolos ke Pantai Widuri, Belasan Pelajar Apes Diciduk Satpol PP Pemalang

Berita Terbaru

Berita terbaru

Bolos ke Pantai Widuri, Belasan Pelajar Apes Diciduk Satpol PP Pemalang

Selasa, 14 Jul 2026 - 16:43 WIB