Jakarta, MNP – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang terus perkuat program pembinaan kemandirian Warga Binaan dengan menggandeng dunia akademik.
Kali ini, Lapas Cipinang bekerja sama dengan Universitas Budi Luhur dalam penyelenggaraan pelatihan bertajuk “Pengembangan Wirausaha Berkelanjutan Melalui Produk Inovatif Ramah Lingkungan
Pelatihan ini difokuskan pada pembuatan lilin aromaterapi, sebagai keterampilan bernilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh Warga Binaan setelah bebas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari implementasi 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (IMIPAS), Agus Andrianto, khususnya pada aspek pemberdayaan Warga Binaan melalui pelatihan keterampilan produktif.
Puluhan Warga Binaan antusias mengikuti pelatihan yang dibimbing langsung oleh mahasiswa dari Program Studi Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Studi Global, Universitas Budi Luhur.
Selain belajar teknik pembuatan lilin aromaterapi, peserta juga mendapat pembekalan dasar-dasar kewirausahaan seperti perencanaan usaha, manajemen produksi, dan pemasaran produk.
Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Wachid Wibowo, menyampaikan bahwa warga binaan di Lapas mendapatkan dua jenis pembinaan, yakni pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian.
Pelatihan pembuatan lilin aromaterapi ini termasuk dalam pembinaan kemandirian yang selama ini menjadi bagian dari program Bidang Kegiatan Kerja.
Sebagai bentuk optimalisasi, kegiatan kali ini diselenggarakan oleh Bidang Pembinaan, khususnya Seksi Bimbingan Kemasyarakatan, melalui kolaborasi dengan dunia kampus.
Wachid Wibowo menyebut, kerja sama dengan dunia kampus menjadi langkah strategis dalam mengembangkan pola pembinaan yang lebih inovatif dan adaptif terhadap kebutuhan zaman.
“Kami ingin membekali Warga Binaan dengan keterampilan yang benar-benar bisa diterapkan dalam kehidupan nyata,” kata Wachid Wibowo, Minggu (15/06/2025).
Dijelaskan, lilin aromaterapi adalah produk kreatif yang memiliki nilai jual dan ramah lingkungan, sehingga dapat menjadi bekal untuk wirausaha setelah bebas.
“Ini sejalan dengan semangat pembinaan yang berorientasi pada kemandirian dan pemberdayaan,” tegasnya, Wachid Wibowo.
Senada dengan hal itu, Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan, Endi Budi, menjelaskan bahwa keterampilan pembuatan lilin aromaterapi yang ramah lingkungan sangat relevan dengan tren industri kreatif saat ini.
Pelatihan ini, menurutnya, menjadi lebih tepat sasaran karena dikembangkan bersama mahasiswa yang memahami kebutuhan dan dinamika pasar kekinian.
“Keterampilan yang diajarkan diharapkan dapat langsung diterapkan dan diserap oleh masyarakat, sehingga proses reintegrasi sosial warga binaan benar-benar membawa dampak positif dan berkelanjutan,” harapnya.
Sementara itu, salah satu instruktur pelatihan dari mahasiswa Universitas Budi Luhur, Intan, menyampaikan apresiasinya terhadap semangat belajar para peserta.
“Warga Binaan sangat antusias dan teliti dalam setiap proses pembuatan. Kami berharap keterampilan ini menjadi bekal berharga bagi mereka untuk merintis usaha mandiri di masa depan,” ungkapnya.
Melalui pelatihan ini, Lapas Kelas I Cipinang kembali tegaskan komitmennya dalam mewujudkan pembinaan yang berdampak nyata.
Kolaborasi dengan dunia kampus menjadi wujud sinergi yang memperkuat arah pemasyarakatan modern—bukan sekadar menjalankan fungsi pengawasan, tetapi juga menghadirkan pendidikan dan keterampilan yang relevan bagi masa depan Warga Binaan.
Ini sejalan dengan semangat Pemasyarakatan Pasti Bermanfaat untuk Masyarakat, di mana setiap program dirancang untuk menghasilkan individu yang lebih siap berkontribusi secara positif setelah bebas, sehingga reintegrasi sosial dapat berjalan lebih optimal, inklusif, dan berkelanjutan.
![]()
Penulis : Ragil
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan