Jeneponto, MNP – Kegiatan proyek literasi berbasis buku bacaan bertema “Kolase Batik” digelar mahasiswa KKN-T Literasi Gelombang 114 Universitas Hasanuddin (Unhas) di pelataran kantor Desa Lentu, Kabupaten Jeneponto.
Dari Cerita ke Karya : Kolase Batik sebagai Ekspresi Literasi Visual
Kharina selaku Koordinator Desa Lentu menyebut, literasi tidak selalu harus dituangkan dalam bentuk tulisan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Di tangan anak-anak yang penuh imajinasi, literasi bisa berubah wujud menjadi sebuah karya seni sederhana namun bermakna” katanya pada 23 Juli kemarin.
Kegiatan ini merupakan salah satu pendekatan kreatif untuk mendorong keterlibatan anak dalam proses membaca secara menyenangkan.
Anak-anak tidak hanya diajak membaca buku, tetapi juga mengekspresikan pemahaman mereka dalam bentuk visual.
Dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana seperti gambar pola baju, bungkusan kado motif batik, Gunting dan lem, mereka menciptakan kolase yang terinspirasi dari cerita yang telah mereka baca, yatitu buku “Batik Tambal Anom”.
Dijelaskan Kharina, motif batik dipilih bukan tanpa alasan. Batik merupakan bagian dari identitas budaya Indonesia yang kaya makna.
“Dengan menyusun motif batik dari potongan-potongan kecil, anak-anak belajar mengenal budaya sekaligus menyampaikan gagasan secara kreatif,” ucap Kharina.
Menurutnya, kolase menjadi media reflektif, tempat anak-anak menuangkan pemaknaan mereka terhadap isi cerita ke dalam simbol dan warna.
Proses ini melatih lebih dari sekadar keterampilan motorik halus. Anak-anak belajar mengamati, menafsirkan, memilih, menyusun, hingga menyelesaikan sebuah karya,
“Langkah-langkah yang sejatinya mencerminkan proses berpikir kritis dan kreatif yang penting dalam pengembangan literasi,” ujarnya.
Selain itu lanjut Kharina, kolase batik sebagai proyek literasi visual membuktikan bahwa membaca bisa menjadi aktivitas yang lebih hidup dan berkesan ketika dipadukan dengan seni.
“Anak-anak tak lagi pasif menyerap informasi, melainkan aktif mengolah dan mengekspresikannya kembali dalam bentuk baru. Mereka menjadi subjek dari proses pembelajaran, bukan sekadar penerima,” bebernya.
Kegiatan ini juga menciptakan ruang dialog antara anak, cerita, dan budaya. Melalui motif yang mereka pilih dan susun, setiap anak bercerita tentang sudut pandang dan nilai yang mereka temukan dari buku yang dibaca.
“Tidak ada hasil yang benar atau salah. Yang ada hanyalah keberanian untuk mencoba dan kebebasan untuk menyampaikan gagasan,” tegasnya.
Kolase batik ini bukan hanya proyek seni biasa, tapi bagian dari cara kami mengenalkan bahwa membaca bisa menjadi awal dari proses kreatif yang menyenangkan.
Anak-anak tidak hanya membaca, tapi juga memaknai dan mengekspresikan isi cerita sesuai versi mereka sendiri.
Pada akhirnya, proyek “Kolase Batik” menjadi simbol dari sebuah pendekatan literasi yang lebih luas dan inklusif—bahwa literasi bukan hanya tentang mengenal huruf dan kata,
“Tetapi juga tentang bagaimana kita mengolah makna dan mengekspresikannya. Dari cerita yang dibaca, lahirlah karya yang berbicara. Sebuah ekspresi visual yang sederhana, namun penuh makna,” pungkas Kharina.
![]()
Penulis : Mahmud Sewang
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan