PANGANDARAN, MNP — Di tengah padatnya rutinitas persidangan, pendampingan hukum, serta berbagai dinamika profesi, puluhan advokat asal Kota dan Kabupaten Tasikmalaya memilih mengambil jeda untuk membangun sesuatu yang tidak kalah penting, silaturahmi dan kebersamaan.
Sebanyak 21 advokat bersama keluarga menggelar Family Gathering Advokat Tasikmalaya ke-5 di Pangandaran, Jawa Barat, pada 28–29 Agustus 2026. Dengan membawa keluarga masing-masing, jumlah peserta yang hadir mencapai kurang lebih 84 orang.
Mengusung tema “Bersama Keluarga, Bersama Profesi, Bersama Membangun Harmoni”, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda rekreasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih dari itu, family gathering menjadi ruang untuk mempertemukan keluarga, memperkuat komunikasi antar sesama advokat, sekaligus merawat solidaritas di tengah keberagaman organisasi dan latar belakang profesi.
Ketua sekaligus salah satu penanggung jawab kegiatan, Tatang Rustandi, S.H., yang juga Ketua LBH FAKTA Tasikmalaya, menilai silaturahmi antar sesama advokat perlu terus dipelihara.
Menurutnya, hubungan antarpelaku profesi jangan hanya terbentuk karena kepentingan pekerjaan atau pertemuan di ruang persidangan.
“Jangan sampai kita hanya bertemu ketika ada perkara, di ruang sidang, atau dalam urusan pekerjaan. Silaturahmi harus dibangun dalam suasana yang lebih cair, sehingga hubungan antar sesama advokat tidak berhenti pada hubungan profesional, tetapi juga tumbuh menjadi hubungan kekeluargaan,” ujar Tatang.
Ia menegaskan, family gathering merupakan salah satu cara untuk menjaga komunikasi sekaligus memperkuat solidaritas di antara para advokat.
“Kegiatan ini bukan sekadar berkumpul dan berekreasi. Ada pesan yang lebih besar, yaitu bagaimana kita menjaga silaturahmi, memperkuat solidaritas, dan membangun suasana kekeluargaan di tengah dinamika profesi yang semakin kompleks,” katanya.
Menurut Tatang, keterlibatan keluarga justru menjadi salah satu kekuatan utama dalam kegiatan tersebut. Keluarga adalah bagian penting dalam perjalanan seorang advokat.
“Mereka yang selama ini memberikan dukungan ketika kita menjalankan tugas dan menghadapi berbagai persoalan profesi. Karena itu, keluarga juga perlu mendapatkan ruang untuk saling mengenal dan membangun kebersamaan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Undang Sarip Hidayat, S.H., Ketua LBH NILAMAS Tasikmalaya. Ia mengatakan kegiatan tersebut sengaja dikemas dalam suasana santai dan kekeluargaan agar para peserta dapat berinteraksi di luar konteks pekerjaan.
Menurutnya, kesibukan sebagai advokat terkadang membuat komunikasi antar sesama hanya berlangsung dalam konteks perkara dan pekerjaan.
“Kita sehari-hari disibukkan dengan perkara, persidangan, klien, dan berbagai persoalan hukum. Family gathering ini menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas tersebut dan kembali melihat bahwa di balik profesi kita, ada keluarga dan ada persaudaraan yang perlu dirawat,” katanya.
Undang menilai keberagaman organisasi advokat maupun perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi sekat dalam membangun hubungan baik.
“Kita boleh berbeda organisasi, berbeda cara pandang, bahkan berbeda pendapat dalam persoalan tertentu. Namun, jangan sampai perbedaan itu memutus silaturahmi. Justru kedewasaan dalam profesi ditunjukkan dengan kemampuan untuk tetap saling menghargai dan menjaga persaudaraan,” tegasnya.
Ia menuturkan, semangat itulah yang ingin dibangun melalui Family Gathering Advokat Tasikmalaya ke-5.
“Yang kami bangun bukan sekadar acara dua hari satu malam. Harapannya, setelah kembali ke Tasikmalaya, komunikasi tetap berjalan, silaturahmi semakin kuat, dan hubungan kekeluargaan semakin erat. Jangan sampai kebersamaan hanya selesai ketika kegiatan selesai,” ujarnya.
Pangandaran menjadi ruang perjumpaan bagi para advokat dan keluarga untuk sejenak melepas rutinitas profesi.
Suasana pantai dan lingkungan wisata menjadi latar yang menciptakan interaksi lebih cair. Para peserta dapat berkumpul, berbincang, menikmati suasana Pangandaran, serta menghabiskan waktu bersama keluarga.
Momentum tersebut sekaligus memperlihatkan sisi lain kehidupan seorang advokat. Di balik profesi yang identik dengan ruang persidangan, dokumen hukum, dan pendampingan perkara, terdapat keluarga yang menjadi bagian penting dalam perjalanan profesional mereka.
Kehadiran keluarga membuat kegiatan tidak hanya menjadi forum antar sesama advokat, tetapi berkembang menjadi ruang silaturahmi antar keluarga.
Profesi advokat menuntut profesionalitas, integritas, independensi, serta komitmen dalam memberikan bantuan dan pendampingan hukum kepada masyarakat.
Namun, kekuatan sebuah komunitas profesi tidak semata-mata ditentukan oleh kapasitas profesional. Komunikasi, silaturahmi, rasa saling menghormati, dan kemampuan menjaga hubungan baik juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem profesi yang sehat.
Tidak ada sekat ruang persidangan. Tidak ada suasana formal. Yang hadir adalah para advokat bersama keluarga, duduk bersama, berbincang, dan menikmati waktu dalam suasana yang lebih hangat.
Pesan yang ingin disampaikan pun sederhana, tetapi memiliki makna kuat: profesi boleh berbeda organisasi, tetapi persaudaraan tidak boleh kehilangan ruang.
Pelaksanaan Family Gathering Advokat Tasikmalaya yang telah memasuki gelaran ke-5 menunjukkan bahwa tradisi kebersamaan tersebut terus dipertahankan.
Bagi para peserta, keberlanjutan kegiatan bukan hanya soal seberapa sering acara digelar, melainkan bagaimana nilai silaturahmi yang dibangun dari tahun ke tahun tetap hidup.
Dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya, hubungan yang semula dibangun melalui profesi diharapkan berkembang menjadi hubungan yang lebih dekat secara personal dan kekeluargaan.
Karena itu, Family Gathering Advokat Tasikmalaya ke-5 di Pangandaran bukan sekadar perjalanan wisata. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengisi kembali energi kebersamaan, memperkuat komunikasi, merawat persaudaraan, dan menegaskan bahwa soliditas profesi juga membutuhkan fondasi kemanusiaan.
![]()
Penulis : Alex
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan