TASIKMALAYA, MNP – Warga Kota Tasikmalaya perlu mulai bersiap menghadapi perubahan pola cuaca setelah wilayah tersebut mengalami periode musim kemarau pada 2026.
Berdasarkan pemutakhiran prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kota Tasikmalaya termasuk dalam Zona Musim (ZOM) 38 bersama sebagian wilayah Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya.
Dalam pemutakhiran prediksi musim kemarau 2026, BMKG mencatat ZOM 38 yang mencakup Kota Tasikmalaya dan Tasikmalaya bagian tengah diprediksi mengalami puncak kemarau pada September 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sifat musim kemarau diperkirakan bawah normal (BN) atau lebih kering dibandingkan kondisi normal klimatologis.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena masyarakat Kota Tasikmalaya sebelumnya telah merasakan dampak musim kemarau, mulai dari berkurangnya ketersediaan air hingga meningkatnya jumlah hari tanpa hujan di sejumlah wilayah.
BMKG secara nasional memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli–September, dengan Agustus menjadi bulan ketika wilayah terdampak puncak kemarau paling luas.
Kondisi ini dipengaruhi antara lain oleh perkembangan fenomena El Niño yang berpotensi meningkatkan kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia.
Khusus Jawa Barat, BMKG menyebut sebagian besar wilayah memasuki musim kemarau pada Mei hingga Juni.
Sementara puncaknya umumnya terjadi pada Agustus dan sebagian wilayah masih berlanjut hingga September.
Curah hujan diperkirakan berada pada kategori rendah hingga menengah dengan sifat hujan di bawah normal.
Dengan demikian, masyarakat Kota Tasikmalaya tidak serta-merta dapat menganggap bahwa hujan akan langsung turun dengan intensitas tinggi setelah memasuki akhir kemarau.
Peralihan menuju musim hujan dapat berlangsung secara bertahap dan kondisi cuaca dapat berbeda antarwilayah.
BMKG sendiri menyediakan pembaruan prediksi curah hujan bulanan, termasuk untuk Kota Tasikmalaya.
Data tersebut penting menjadi acuan pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengantisipasi perubahan cuaca, terutama menghadapi potensi kekeringan maupun hujan lebat ketika periode peralihan musim berlangsung.
Masyarakat juga diimbau tetap memperhatikan informasi resmi BMKG karena prediksi musim dapat mengalami pemutakhiran mengikuti perkembangan dinamika atmosfer dan kondisi iklim global.
Bagi Kota Tasikmalaya, masa peralihan dari kemarau menuju musim hujan perlu menjadi momentum untuk mempersiapkan saluran drainase, membersihkan lingkungan dari sampah yang dapat menyumbat aliran air, serta memastikan ketersediaan air bersih.
Sebab, datangnya hujan setelah periode kemarau panjang tidak hanya membawa manfaat bagi ketersediaan air, tetapi juga dapat meningkatkan risiko genangan, banjir lokal, longsor di wilayah tertentu, dan angin kencang apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Karena itu, masyarakat Kota Tasikmalaya diharapkan tidak hanya menunggu datangnya musim hujan, tetapi juga melakukan langkah antisipasi sejak sekarang.
Pemerintah daerah, masyarakat, serta seluruh pemangku kepentingan perlu bekerja sama agar perubahan musim dapat dihadapi dengan kesiapsiagaan yang lebih baik.
![]()
Penulis : Soni
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan