TASIKMALAYA, MNP — Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak semata menjadi perayaan historis, melainkan juga ruang refleksi kritis atas sejauh mana cita-cita kemerdekaan benar-benar diwujudkan dalam kehidupan berbangsa.
Hal tersebut disampaikan Asep Endang M Syams, politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Tasikmalaya. Ia menilai, delapan dekade lebih kemerdekaan seharusnya menjadi ukuran kemajuan dalam menghadirkan keadilan sosial, bukan sekadar seremonial tahunan yang kehilangan makna substantif.
“81 tahun Indonesia merdeka dari penjajahan. Namun perjuangan belum selesai karena hari ini kita masih berhadapan dengan ketimpangan struktural, keserakahan, dan dominasi kekuatan ekonomi-politik yang tidak berpihak pada rakyat kecil,” ungkapnya, Senin (17/08).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menegaskan, kemerdekaan tidak boleh dipahami sebatas lepas dari kolonialisme historis, tetapi harus tercermin dalam realitas sosial yang adil dan setara. Tanpa itu, kemerdekaan hanya menjadi narasi formal yang belum sepenuhnya hadir dalam kehidupan warga.
“Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajah, tetapi juga bebas dari segala bentuk penindasan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Menurut Asep, tantangan bangsa saat ini telah bergeser dari sekadar mempertahankan kedaulatan menuju persoalan yang lebih kompleks, seperti ketimpangan ekonomi, kesenjangan akses layanan publik, serta konsentrasi sumber daya yang belum merata.
Ia menilai, semangat kemerdekaan harus diterjemahkan dalam kebijakan dan keberpihakan nyata terhadap kelompok masyarakat yang masih berada dalam posisi rentan, terutama dalam akses pendidikan, ekonomi, pekerjaan, dan pelayanan dasar.
“Jika kemerdekaan tidak menghadirkan keadilan yang dirasakan semua lapisan masyarakat, maka kita masih memiliki pekerjaan rumah yang besar sebagai bangsa,” ujarnya.
Asep juga menekankan bahwa peringatan HUT RI tidak boleh berhenti pada ritual tahunan, melainkan harus menjadi momentum evaluasi kolektif terhadap arah pembangunan nasional agar tetap berada dalam koridor keadilan sosial.
“Semangat kemerdekaan harus terus hidup dalam kebijakan dan tindakan nyata. Jangan sampai kemerdekaan hanya menjadi simbol, sementara ketimpangan masih dirasakan sebagian rakyat,” tambahnya.
Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan momentum kemerdekaan sebagai energi bersama dalam memperkuat solidaritas sosial, menjaga persatuan, serta mendorong tata kehidupan berbangsa yang lebih adil, inklusif, dan bermartabat.
Dengan demikian, 81 tahun kemerdekaan Indonesia tidak hanya menjadi penanda perjalanan sejarah, tetapi juga pengingat bahwa cita-cita kemerdekaan masih harus terus diperjuangkan secara konsisten dan berkelanjutan.
![]()
Penulis : Alex
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan