Stamina Menurun Jangan Selalu Salahkan Usia, Diabetes Juga Bisa Datang Diam-Diam

Jumat, 14 Agustus 2026 - 14:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto 1 (dari kiri ke kanan): dr. Gagas; dr. Rochsismandoko, Sp.PD, KEMD, FINASIM, FACE; dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM; dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM; dan Leona A. Karnali, CEO Primaya Hospital Group, berfoto bersama dalam acara Seminar Metabolic Endocrine Primaya Hospital yang diselenggarakan pada Juli 2026.

Foto 1 (dari kiri ke kanan): dr. Gagas; dr. Rochsismandoko, Sp.PD, KEMD, FINASIM, FACE; dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM; dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM; dan Leona A. Karnali, CEO Primaya Hospital Group, berfoto bersama dalam acara Seminar Metabolic Endocrine Primaya Hospital yang diselenggarakan pada Juli 2026.

Dari kekurangan testosteron hingga gangguan metabolisme, Primaya Hospital dorong masyarakat mengenali sinyal tubuh sebelum berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius

JAKARTA, MNP –  Tubuh sebenarnya tidak pernah berhenti memberi sinyal. Stamina yang tidak lagi seperti dulu, tubuh yang lebih mudah lelah, perubahan fungsi seksual, berat badan yang meningkat, hingga kadar gula darah yang mulai berubah sering kali dianggap sebagai bagian dari proses penuaan atau konsekuensi gaya hidup.

Padahal, perubahan tersebut dapat menjadi tanda bahwa terjadi perubahan pada sistem hormon maupun metabolisme tubuh yang perlu diperhatikan.

Ini menjadi salah satu pembahasan pada Seminar Primaya Metabolic Endocrine 2026 yang mengangkat tema “Translating Evidence into Impact: Practical Endocrinology for Real-World Care” pada bulan Juli 2026 lalu.

Acara ini menghadirkan dokter spesialis penyakit dalam seperti dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM dan dr. Khomimah, Sp. PD-KEMD, FINASIM.

Pada pria, misalnya, penurunan kadar testosteron memang terjadi seiring bertambahnya usia. Data European Male Ageing Study (EMAS) menunjukkan penurunan testosteron dan free testosterone semakin nyata setelah usia 50 tahun. Namun, perubahan yang menetap dan disertai keluhan tidak selalu perlu dianggap sebagai bagian normal dari penuaan

Salah satunya adalah late-onset hypogonadism (LOH) atau kekurangan testosteron pada pria. Kondisi ini diperkirakan dialami sekitar 2,1% populasi pria secara umum, dengan prevalensi meningkat dari 0,1% pada pria usia 40–49 tahun menjadi 5,1% pada usia 70–79 tahun. Prevalensinya juga dapat meningkat pada pria dengan obesitas atau metabolic syndrome.

dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM saat sedang melakukan pemaparan pada Primaya Metabolic Endocrine 2026 yang mengangkat tema “Translating Evidence into Impact: Practical Endocrinology for Real-World Care”.

dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM yang berpraktek di UKRIDA Primaya Hospital, mengatakan pria perlu lebih peka terhadap perubahan tubuh yang mulai mempengaruhi aktivitas maupun kualitas hidup.

“Bertambahnya usia memang membawa berbagai perubahan pada tubuh, termasuk hormon. Namun, ketika perubahan seperti mudah lelah, penurunan stamina, atau gangguan fungsi seksual mulai menetap dan memengaruhi kualitas hidup, kondisi tersebut perlu dilihat lebih jauh. Kekurangan testosteron bukan sekadar persoalan usia atau fungsi seksual, tetapi dapat berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan. Karena itu, penting untuk melakukan evaluasi medis secara tepat dan tidak sekadar menganggapnya sebagai proses penuaan,” ujarnya.

Hal serupa juga terjadi pada diabetes. Gangguan metabolisme dapat berkembang tanpa gejala yang jelas sehingga seseorang baru mengetahui kondisinya setelah muncul komplikasi.

Materi Primaya Endocrine 2026 mencatat lebih dari 250 juta orang dewasa di dunia belum menyadari bahwa mereka mengalami gangguan metabolisme, sehingga risiko komplikasi dapat berkembang sebelum pengobatan dimulai.

Di Indonesia, merujuk IDF Diabetes Atlas 2025, Indonesia berada pada peringkat kelima dunia untuk prevalensi diabetes pada usia 20–79 tahun dan peringkat ketiga untuk jumlah kasus yang belum terdiagnosis.

dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM saat sedang melakukan pemaparan pada Primaya Metabolic Endocrine 2026 yang mengangkat tema “Translating Evidence into Impact: Practical Endocrinology for Real-World Care

dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, yang berpraktik di Primaya Hospital Bekasi Barat, menjelaskan bahwa diabetes tidak cukup dipandang sebagai persoalan kadar gula darah.

“Diabetes bukan hanya persoalan gula darah. Prosesnya melibatkan berbagai mekanisme dan organ tubuh, sehingga pengelolaannya juga perlu melihat risiko pasien secara menyeluruh. Kita perlu bergeser dari pendekatan yang reaktif menjadi lebih proaktif, termasuk menjaga kesehatan jantung dan ginjal sejak lebih awal,” jelasnya.

Diabetes tipe 2 melibatkan berbagai mekanisme yang berkaitan dengan pankreas, hati, jaringan lemak, otot, ginjal, otak, saluran pencernaan, hingga sistem imun.

Karena itu, keberhasilan pengelolaan diabetes tidak cukup dinilai dari satu angka laboratorium, tetapi juga dari kemampuan mencegah komplikasi dan mempertahankan fungsi organ.

Pendekatan pengelolaan diabetes pun kini bergerak dari reaktif menjadi proaktif, dengan fokus yang lebih komprehensif, protektif terhadap organ, berbasis teknologi, dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Pertimbangan dapat mencakup kondisi jantung dan ginjal, berat badan, risiko komplikasi, penyakit penyerta, hingga kebutuhan dan preferensi pasien.

Karena itu, tujuan pengelolaan kesehatan bukan sekadar memperbaiki angka hormon, gula darah, atau berat badan, tetapi menjaga fungsi organ, mencegah komplikasi, mempertahankan produktivitas, dan memastikan kualitas hidup dalam jangka panjang.

Melalui pendekatan tersebut, Primaya Hospital mendorong masyarakat untuk lebih peka terhadap perubahan tubuh dan tidak terburu-buru menganggapnya sebagai hal yang wajar.

Sinyal tubuh adalah langkah awal untuk mengenali kondisi kesehatan; deteksi dini membuka peluang untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan personal, sementara tujuan akhirnya adalah menjaga kesehatan dan kualitas hidup selama mungkin.

Loading

Penulis : Ist

Sumber Berita : Press Release

Berita Terkait

Wujud Kepedulian, PK KNPI Cihideung Buka Layanan Cek Kesehatan Gratis di Babakan Fauzan
Gerebek Tuntas! Polsubsektor Masalle dan TNI Ratakan Lokasi Judi Sabung Ayam di Dusun Bulo
81 Tahun Merdeka, Mengapa Masih Banyak Rakyat Belum Merasakan Kemerdekaan?
Bupati Jeneponto Buka Jalan Sehat Bahagia, Semarakkan HUT RI ke-81
Gelora Nasionalisme di Alun-Alun Malangbong: 1.000 Merah Putih Dibagikan Jelang HUT ke-81 RI
Barito Timur Expo: Antara Lobi yang “Melelahkan” dan Panggung yang “Sulit Dijamah”
Semarak HUT RI ke-81, Ratusan Warga RW 05 Kampung Bantar Tasikmalaya Padati Tabligh Akbar
Taklukkan Jeram Ekstrem Lae Kombih, Atlet Kayak Asal Inggris Terpukau Pesona Pakpak Bharat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 18:42 WIB

Wujud Kepedulian, PK KNPI Cihideung Buka Layanan Cek Kesehatan Gratis di Babakan Fauzan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 14:00 WIB

Gerebek Tuntas! Polsubsektor Masalle dan TNI Ratakan Lokasi Judi Sabung Ayam di Dusun Bulo

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:31 WIB

81 Tahun Merdeka, Mengapa Masih Banyak Rakyat Belum Merasakan Kemerdekaan?

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:21 WIB

Bupati Jeneponto Buka Jalan Sehat Bahagia, Semarakkan HUT RI ke-81

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:05 WIB

Gelora Nasionalisme di Alun-Alun Malangbong: 1.000 Merah Putih Dibagikan Jelang HUT ke-81 RI

Berita Terbaru

Berita terbaru

Bupati Jeneponto Buka Jalan Sehat Bahagia, Semarakkan HUT RI ke-81

Minggu, 16 Agu 2026 - 13:21 WIB