ENREKANG, MNP – Kritik terhadap penanganan sampah di Kabupaten Enrekang kembali mencuat dan menjadi buah bibir masyarakat.
Kali ini bukan lewat orasi atau demo, melainkan lewat sebuah puisi berjudul “SAMPAH SERAPAH” yang viral di grup WhatsApp warga.
Puisi itu menyindir keras kondisi sampah yang menumpuk, armada tua, hingga sikap pejabat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Isi puisi itu lugas dan menyentil. “Sampah busuk penuh lalat. Tak menarik dibikin konten. Solar dan truk tua jadi kambing hitam. Pejabat senyum2 berjabat tangan. Tebar pesona bagai drama Korea.”
Potongan lain menyebut: “Kami bersumpah membersihkan jika dana cair. Kami bersumpah jadikan sampah harum baunya. Jika menteri dan presiden datang berkunjung.”
Penulis puisi, Dr. Ahmad Ab. Cinnong, menegaskan bahwa karyanya hanya guyonan dan bukan ajakan provokasi.
Namun pesan di dalamnya jelas menggambarkan kekecewaan publik terhadap lambannya penanganan sampah di beberapa titik di Enrekang.
Kritik itu langsung mendapat respons dari Anak Maspul di Rantau . Dr. Siswanto Rawali ikut angkat bicara di grup WhatsApp “Generasi Baru Massenrenpulu”.
Menurutnya, akar persoalan sampah bukan hanya soal uang dan armada.
“Kl mnrt sy faktor utama masalah sampah itu kepedulian dan kehadiran pemimpin. Masalah uang dan armada urutan ke sekian. Byk solusi penyelesaian masalah walau tanpa uang,” tulisnya, Kamis 7/8/2026 pukul 05.59 WITA.
Ia bahkan menyamakan persoalan sampah dengan niat menikah. “Sama jg itu kl mau menikah. Jangan selalu terbebani masalah uang panaik. Perbaiki niat dan keseriusan sj….he”.
Sindiran itu menyiratkan bahwa jika ada kemauan dan komitmen, persoalan bisa diselesaikan meski dengan keterbatasan.
Senada, Nurdin Nanda juga berkomentar di grup yang sama. Ia menyoroti alasan tidak ada uang yang kerap dipakai sebagai pembenaran.
“apapun dgn siapapun kl slalu mngedepnkn uang sbg alsan ut tdk berbuat, maka bismi di ukur kompetensinya, Kapabilitasnya, kepeduliannya, terlebih komitmen dan keberpihaknnya..”
Sebelumnya, Bupati Enrekang H. Muh. Yusuf Ritangnga juga mengakui adanya kendala armada tua dan bahan bakar.
Pemkab baru saja menerima bantuan 1 unit Dump Truck dari CSR Bank Sulselbar untuk menambah 15 unit armada yang sudah beroperasi sejak 2025.
Namun bagi warga, bantuan itu belum cukup jika tidak dibarengi kerja nyata dan kepemimpinan yang hadir.
Publik kini menunggu langkah konkret, bukan janji. Puisi Sampah Serapah menjadi cermin bahwa masyarakat sudah cerdas dan kritis.
Mereka tidak butuh pencitraan. Yang dibutuhkan adalah aksi bersih-bersih yang nyata, bukan hanya saat ada tamu penting.
Karena sampah tidak akan menunggu dana cair untuk terus menumpuk dan mengundang lalat.
![]()
Penulis : Rahmat Lamada
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan