TASIKMALAYA, MNP – Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Tasikmalaya sukses menggelar Festival Olahraga Tradisional di Kawasan Wisata Cipanas Galunggung pada Minggu (21/06/2026).
Mengusung tema Merawat Tradisi Menguatkan Generasi, event ini menjadi langkah nyata pemerintah daerah dalam mengawinkan sektor pariwisata dengan pelestarian budaya lokal.
Adiatama Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disparpora Kabupaten Tasikmalaya, Budi Prayoga, menjelaskan bahwa kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya menanamkan nilai-nilai budaya sekaligus mempromosikan destinasi wisata andalan, khususnya Cipanas Galunggung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Budi, urgensi merawat tradisi ini juga selaras dengan nilai sejarah yang tertuang dalam naskah kuno Amanat Galunggung.
“Ada ungkapan penting dalam naskah tersebut: Hana Nguni Hana Mangke, Tan Hana Nguni Tan Hana Mangke, yang artinya tidak akan ada hari ini jika tidak ada masa dahulu. Dari amanat para karuhun (leluhur) ini, kita diingatkan betapa pentingnya menjaga warisan budaya,” ujar Budi di lokasi acara.
Festival perdana ini diikuti oleh sedikitnya 130 peserta yang merupakan pelajar tingkat SD dan SMP dari berbagai wilayah di kaki Gunung Galunggung, seperti Leuwisari, Singaparna, Padakembang, Cisayong, dan sekitarnya.
Terdapat tiga jenis olahraga tradisional yang diperlombakan dan dipamerkan, yaitu Engrang, Sumpit, dan Bakiak.
Budi berharap kegiatan ini bisa bertransformasi menjadi agenda tahunan yang memberikan ruang ekspresi positif bagi generasi muda guna memperkuat jati diri bangsa.
Di lokasi yang sama, Kepala Disparpora (Kadis) Kabupaten Tasikmalaya, Aam Rahmat Selamet, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam setiap event pariwisata daerah.
Pemilihan lokasi wisata sebagai tempat festival sengaja dilakukan untuk mendongkrak kunjungan wisata sekaligus menghidupkan kembali minat olahraga di tengah masyarakat.
Aam menambahkan, olahraga tradisional yang kini mulai langka harus dihidupkan kembali sebagai benteng pertahanan generasi muda dari dampak negatif lingkungan, seperti kenakalan remaja.
“Daripada anak-anak kita terjebak dalam kegiatan yang tidak jelas atau kenakalan remaja, lebih baik energi mereka diaktifkan melalui olahraga tradisional ini,” tutur Aam.
Dirinya menekankan bahwa esensi dari festival ini bukan sekadar ajang kompetisi fisik untuk mencari siapa yang tercepat atau terkuat. Fokus utamanya adalah membentuk karakter generasi muda yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, gotong royong, kebersamaan, dan sportivitas.
“Karena ini adalah event pertama, ke depannya kami berencana tidak hanya melibatkan sekolah, tetapi juga institusi dan elemen masyarakat lainnya agar kelestarian budaya ini merata,” pungkasnya.
![]()
Penulis : Hendrik/Mon
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan