ENREKANG, MNP – Dari ruang kelas langsung ke lereng hutan. Himpunan Mahasiswa Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Enrekang membuktikan bahwa cinta lingkungan tidak cukup hanya diucapkan, tapi harus diwujudkan dengan cangkul dan bibit.
Selama dua hari, 12–13 Juni 2026, puluhan mahasiswa turun ke kawasan hutan pinus Dusun Pasongken, Desa Buntu Mondong, Kecamatan Buntu Batu untuk melakukan aksi penghijauan besar-besaran.
Bersama Kepala Dusun Pasongken, mereka menanam kembali pohon di titik-titik yang sebelumnya gundul akibat banyak pinus mati dan tumbang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kolaborasi kampus dan warga ini menjadi bukti nyata bahwa menjaga hutan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah.
Ketua Umum HMA UNIMEN, Alwan, menegaskan bahwa kegiatan ini lahir dari keprihatinan mendalam melihat kondisi ekologi kawasan Pasongken yang mulai melemah.
“Kami memilih Dusun Pasongken karena di sana banyak pohon pinus yang sudah mati dan tumbang. Kalau dibiarkan, fungsi hutan sebagai penyimpan air dan penahan erosi akan hilang,” jelas Alwan.
Bagi mahasiswa Agroteknologi, hutan bukan sekadar pemandangan indah untuk swafoto. Hutan adalah laboratorium hidup, paru-paru bumi, sekaligus sumber kehidupan yang harus dijaga keberlanjutannya untuk anak cucu Massenrempulu.
Selama 48 jam penuh, mahasiswa bersama warga membagi tugas dan menyusuri setiap titik kritis hutan pinus. Cangkul diangkat, tanah digali, bibit ditanam satu per satu dengan penuh harapan.
Langkah rehabilitasi ini bukan proyek musiman, melainkan investasi jangka panjang. “Penghijauan itu investasi, bukan seremoni,” tegas Alwan.
Ia menambahkan, keterlibatan mahasiswa sangat penting di tengah tantangan perubahan iklim dan alih fungsi lahan yang semakin kompleks.
Dari aksi kecil ini, mahasiswa belajar bahwa setiap bibit yang tumbuh adalah bentuk perlawanan terhadap kerusakan lingkungan.
Pemilihan Dusun Pasongken bukan tanpa alasan. Kawasan hutan pinus di sana memiliki peran vital sebagai daerah resapan air bagi Desa Buntu Mondong dan sekitarnya.
Jika tutupan vegetasi terus berkurang, dampaknya akan langsung dirasakan warga: mata air mengering saat kemarau, banjir saat hujan deras, dan tanah longsor mengancam pemukiman.
Dengan menanam kembali pinus, mahasiswa berharap fungsi ekologis hutan bisa dipulihkan. Air tetap tersimpan, tanah tetap kokoh, dan habitat satwa liar tetap terjaga. Inilah wujud nyata ilmu Agroteknologi yang turun ke masyarakat.
Meski digagas mahasiswa dan Kepala Dusun, kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Warga Buntu Mondong bergotong royong menyediakan air, makanan, hingga tenaga untuk membantu proses penanaman.
Dukungan itu menjadi penyemangat tersendiri bagi para mahasiswa yang mayoritas baru pertama kali turun langsung ke hutan untuk konservasi.
“Respons masyarakat luar biasa. Mereka sadar hutan ini milik kita bersama. Kalau hutan rusak, kita semua yang rugi,” kata Alwan haru.
Sinergi ini membuktikan bahwa kesadaran lingkungan sudah mulai tumbuh dari desa. Melalui aksi ini, HMA UNIMEN ingin menanamkan lebih dari sekadar pohon.
Mereka ingin menanam kesadaran kolektif bahwa menjaga hutan sama dengan menjaga masa depan.
Harapannya, gerakan kecil dari Pasongken ini bisa menular ke desa lain dan menginspirasi lebih banyak generasi muda untuk peduli lingkungan.
“Kami tidak bisa menyelamatkan seluruh hutan Enrekang dalam dua hari. Tapi kami bisa memulai. Dan dari Pasongken, kami mulai,” tutup Alwan. Enrekang hijau, dimulai dari mahasiswa yang berani turun gunung.
![]()
Penulis : Rahmat Lamada
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan