
ENREKANG, MNP — Gemuruh tepuk tangan mengiringi pengumuman pemenang Lomba Desain Batik Khas Enrekang Massenrempulu sesaat setelah Upacara Hardiknas 2026 di Lapangan Abubakar Lambogo, Senin 4/5/2026.
Di antara nama-nama besar desainer dari Pulau Jawa dan Makassar, satu nama putra daerah berhasil mencuri perhatian publik: Sarimin Lamada.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Desain batik karyanya yang berjudul “Utan Loro Enrekang” sukses menembus posisi Juara 4 dari 5 finalis terbaik se-Indonesia, membuktikan bahwa talenta Massenrempulu mampu bersaing di kancah nasional.
Sayembara Desain Batik Khas Enrekang ini diselenggarakan langsung oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Enrekang sebagai upaya menggali identitas wastra daerah.
Lomba bergengsi tersebut dibuka untuk seluruh desainer di Indonesia, dan animo pesertanya luar biasa. Naskah desain yang masuk berasal dari berbagai penjuru, mulai dari sentra batik di Yogyakarta, Solo, Pekalongan, hingga desainer profesional dari Makassar.
Proses kurasi dilakukan ketat oleh dewan juri nasional yang terdiri dari akademisi seni, budayawan, dan praktisi batik ternama.
Nama Sarimin Lamada, desainer asal Enrekang, sontak menjadi buah bibir saat diumumkan sebagai peraih Juara 4.
Prestasi ini terasa istimewa karena ia menjadi satu-satunya wakil Kabupaten Enrekang yang berhasil masuk 5 besar, bersanding dengan para juara lain dari luar Sulsel.
Batik “Utan Loro Enrekang” karyanya mengangkat filosofi kearifan lokal Massenrempulu. Motif “Utan Loro” atau “Hutan Dua” menggambarkan harmoni antara Gunung Latimojong dan Sungai Saddang sebagai urat nadi kehidupan masyarakat Enrekang.
Perpaduan warna tanah dan hijau tosca dipilih untuk menegaskan karakter alam Enrekang yang sejuk dan subur.
Ketua Dekranasda Enrekang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi atas capaian ini. Menurutnya, kemenangan Sarimin Lamada membuktikan bahwa Enrekang tidak kekurangan talenta kreatif.
“Ini kebanggaan untuk kita semua. Di tengah gempuran desainer dari pusat-pusat batik di Jawa, putra Enrekang bisa bicara banyak. Batik Utan Loro akan kita dorong menjadi ikon wastra baru Massenrempulu,” tegasnya.
Dekranasda berkomitmen untuk mematenkan motif dan memproduksi massal batik karya para finalis sebagai seragam kebanggaan ASN dan pelajar Enrekang.
Keberhasilan Batik Utan Loro menjadi momentum kebangkitan ekonomi kreatif Enrekang. Momentum pengumuman yang sengaja dipilih usai Upacara Hardiknas juga memberi pesan kuat: pendidikan dan kebudayaan harus berjalan seiring. Sarimin Lamada yang ditemui usai acara mengaku terharu.
“Saya hanya ingin mengangkat keindahan Enrekang ke atas kain. Semoga Utan Loro bisa dipakai anak-anak sekolah hingga pejabat, agar kita semua bangga jadi orang Enrekang,” ujarnya.
Kedepan, Dekranasda akan menggelar pameran dan fashion show khusus untuk mempopulerkan lima motif batik juara, termasuk Utan Loro, sebagai warisan budaya baru dari Bumi Massenrempulu.
![]()









Tinggalkan Balasan