“Hana Nguni Hana Mangke”: Soekapoera Institute Ragu Tanggal 17 Oktober sebagai Hari Jadi Kota Tasikmalaya

Kamis, 16 Oktober 2025 - 18:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tasikmalaya, MNP – Penetapan tanggal 17 Oktober sebagai Hari Jadi Kota Tasikmalaya, yang diresmikan melalui Perda No. 9 Tahun 2003, kini diragukan pijakan historisnya oleh kalangan akademisi.

Mengacu pada filosofi Sunda Buhun, “Hana Nguni Hana Mangke, Tan Hana Nguni Tan Hana Mangke” (Ada masa dulu ada masa sekarang, begitu juga ada masa sekarang berarti ada masa dulu),

Soekapoera Institute mendesak Pemerintah Kota untuk meninjau ulang tanggal simbolik kelahiran Kota Tasikmalaya tersebut.

Keraguan ini disampaikan oleh Muhajir Salam, Peneliti dari Soekapoera Institute, pasca Audiensi di DPRD Kota Tasikmalaya pada Kamis (16/10/2025).

Muhajir Salam menilai, penetapan tanggal 17 Oktober sangat problematis karena hanya merujuk pada peristiwa seremonial.

“Kami melihat perlu ada peninjauan kembali terhadap penetapan titik mangsa hari jadi, karena bagaimanapun penetapan itu bisa dikatakan sebagai tetengger simbolik lahirnya Kota Tasikmalaya,” ujar Muhajir.

Ia menjelaskan bahwa tanggal 17 Oktober hanyalah peristiwa peresmian Pemerintah Kota (Pemkot) otonom oleh Menteri Dalam Negeri saat itu, bersifat perspektif birokrasi dan seremonial.

“Bagi kami, yang sifatnya seremonial ini tidak memiliki nilai. Justru kami semakin jauh mengajukan, kalau mau hari kelahiran Kota Tasikmalaya itu dirujuk ke belakang lagi per tanggal 1 Desember 1901—berarti 124 tahun silam,” tegasnya.

Alasannya, berbagai sarana fisik, fungsi politik, pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan Kota Tasikmalaya sudah dibangun dan berkembang sejak titik 1 Desember 1901 tersebut.

Alternatif lain yang ia ajukan adalah 21 Juni, yang merupakan titik mangsa undang-undang atau keberhasilan politik masyarakat Kota Tasikmalaya memperjuangkan peningkatan status Kotip menjadi Kota otonom.

Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, Hilman Wiranata, yang memimpin Rapat Dengar Pendapat, menghaturkan terima kasih dan mengapresiasi pencerahan sejarah yang disampaikan Institut Soekapoera.

“Ini akan menjadi sesuatu yang baru ke depannya bahwa Kota Tasikmalaya tidak melupakan sejarah. Dasar-dasar itu juga menjadi referensi bagi kami untuk kembali melakukan kajian ulang tentang fakta historis lahirnya Kota Tasikmalaya,” ungkap Hilman Wiranata.

Hilman mengakui bahwa banyak sejarah dan identitas Kota Tasikmalaya—seperti sejarah koperasi, payung geulis, kelom geulis, dan batik—sudah lahir jauh sebelum tanggal 17 Oktober. Hal-hal ini menjadi bagian dari sejarah yang harus diakui dan dibanggakan.

DPRD menyadari bahwa penentuan Hari Jadi Kota harus memiliki nilai historis, sosiokultural, dan politik yang kuat.

“Kami memerlukan proses kajian ulang, karena ini menjadi bagian dari kesejarahan Kota Tasikmalaya tentang sejarah yang harus dibanggakan dan menjadi tolak ukur untuk ke depan kita maju menjadi kota yang lebih baik,” pungkas Hilman, mengutip ungkapan Bung Karno: “Jangan sekali-kali melupakan sejarah, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai tentang sejarah.”

Kajian ulang ini akan menentukan apakah hari jadi akan ditetapkan berdasarkan kelahiran sosiokultural (1 Desember 1901), proses politik (21 Juni), atau tetap pada peresmian birokrasi (17 Oktober).

Loading

Penulis : Alex

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Bantu Kesehatan Masyarakat dan Gelar Verifikasi DPRt, NasDem Kota Tasikmalaya Targetkan Kursi Pemilu 2029
Ancaman Digital Mengintai Anak! Sekolah dan Orangtua Dituntut Bersinergi Perkuat Pendidikan Agama
Andreas Simanjuntak Minta GAMKI Tasikmalaya Lahirkan Kader Berani dan Kritis
Gandeng Dinas PU dan TNI-Polri, Kades Lentu Pimpin Warga Normalisasi Irigasi Jelang Musim Tanam
Bau Tak Sedap Pekerjaan Jalan Provinsi Patung-Hayaping, Diduga Jadi Ajang Jual Beli Proyek
Nestapa Warga Bogor Penggali Kubur: Sering Kelaparan, Hidup Sebatang Kara di Rumah Lapuk
Dengar Aspirasi Langsung di Lapangan, Kapolres Bogor Canda Tawa Ngariung Bareng Ojol
Epi Mulyana Tekankan Deteksi Dini Kekerasan Anak: Keluarga dan Lingkungan Jangan Tutup Mata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:13 WIB

Bantu Kesehatan Masyarakat dan Gelar Verifikasi DPRt, NasDem Kota Tasikmalaya Targetkan Kursi Pemilu 2029

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 15:58 WIB

Ancaman Digital Mengintai Anak! Sekolah dan Orangtua Dituntut Bersinergi Perkuat Pendidikan Agama

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 15:46 WIB

Andreas Simanjuntak Minta GAMKI Tasikmalaya Lahirkan Kader Berani dan Kritis

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:16 WIB

Gandeng Dinas PU dan TNI-Polri, Kades Lentu Pimpin Warga Normalisasi Irigasi Jelang Musim Tanam

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:57 WIB

Bau Tak Sedap Pekerjaan Jalan Provinsi Patung-Hayaping, Diduga Jadi Ajang Jual Beli Proyek

Berita Terbaru